Malam itu, Nabi Muhammad SAW tidak hanya menembus langit. Ia menembus batas nalar manusia tentang relasi antara Tuhan, manusia, dan semesta. Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa spiritual yang melayang di awang-awang sejarah kenabian. Ia adalah isyarat kosmik—bahwa iman sejati selalu berurusan dengan bumi, meski dimulai dari langit.
Dalam tradisi populer umat Islam, Isra Mi’raj kerap diringkus menjadi kisah mukjizat dan kewajiban salat. Benar, salat adalah intinya. Tetapi jika kisah ini berhenti di mihrab, kita kehilangan maknanya yang paling mendesak hari ini: tanggung jawab ekologis manusia sebagai khalifah di bumi.
Langit, Bumi, dan Amanah yang Retak
Isra Mi’raj adalah perjalanan vertikal—dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapis-lapis langit. Namun sebelum naik, Nabi singgah. Ia berhenti. Ia menjejak bumi. Masjidil Aqsa adalah simbol penting: tanah suci, ruang sejarah, dan lanskap ekologis yang nyata. Di titik inilah ekoteologi menemukan pijaknya. Bahwa spiritualitas Islam tidak pernah memutus hubungan dengan ruang hidup. Bahwa kesalehan bukan hanya soal hubungan ke atas (hablum minallah), tetapi juga ke samping dan ke bawah—kepada sesama makhluk dan kepada bumi (hablum minal alam).

Hari ini, langit seolah tetap biru. Tapi bumi kita luka. Sungai dipenuhi plastik, hutan diringkus keserakahan, udara dikapling oleh emisi, dan laut dijadikan tempat pembuangan terakhir. Ironisnya, semua ini terjadi di tangan manusia yang mengaku beriman.
Shalat: Ritme Kosmik yang Terlupakan
Salat yang diturunkan dalam peristiwa Isra Mi’raj bukan ritual kosong. Ia adalah disiplin kosmik. Waktu-waktu salat mengikuti pergerakan matahari. Subuh lahir dari fajar, Zuhur dari condongnya cahaya, Magrib dari tenggelamnya matahari. Artinya, Islam mengajarkan manusia untuk membaca alam sebelum membaca teks.
Namun, dalam praktik modern, salat sering terlepas dari kesadaran ekologis. Kita sujud di atas sajadah, tetapi lupa bahwa sajadah itu berasal dari kapas, dari tanah, dari air, dari rantai ekologis yang panjang. Kita berwudu, tetapi menyia-nyiakan air. Kita berdoa tentang akhirat, tetapi merusak dunia yang menjadi ladang menuju ke sana. Ekoteologi Islam mengingatkan, “ibadah tanpa etika ekologis adalah ibadah yang timpang.”
Buraq dan Teknologi yang Beradab
Buraq—makhluk yang membawa Nabi SAW melampaui ruang dan waktu—sering dipahami sebagai simbol kecepatan. Dalam kacamata hari ini, ia bisa dibaca sebagai metafora teknologi. Teknologi yang membawa manusia maju. Tapi pertanyaannya: maju ke mana?
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa teknologi—secepat apa pun—harus tunduk pada misi kenabian: membawa rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Teknologi yang merusak lingkungan, menghisap sumber daya tanpa batas, dan meninggalkan jejak karbon yang mematikan adalah teknologi tanpa mi’raj. Ia hanya bergerak horizontal, tanpa nilai.
Ekoteologi: Iman yang Membumi
Ekoteologi Islam bukan wacana asing. Ia berakar kuat dalam Al-Qur’an: larangan berbuat kerusakan di bumi, perintah menjaga keseimbangan (mizan), dan pengakuan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Tuhan. Batu, pohon, air, dan angin bukan benda mati. Mereka adalah sesama makhluk yang memiliki hak hidup.
Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum koreksi iman. Bahwa naiknya derajat spiritual seseorang diukur dari sejauh mana ia menurunkan dampak kerusakannya di bumi. Bahwa semakin dekat kepada Tuhan, semakin lembut sikapnya terhadap alam.
Pulang dari Langit, Menjaga Bumi
Nabi Muhammad kembali dari Mi’raj bukan untuk tinggal di langit. Ia pulang. Ia kembali ke bumi dengan membawa pesan yang berat: menjalani iman dalam realitas sosial dan ekologis yang keras.
Hari ini, umat Islam membutuhkan keberanian serupa. Keberanian untuk menafsir ulang iman dalam krisis iklim. Keberanian untuk mengubah masjid menjadi pusat edukasi lingkungan. Keberanian untuk menjadikan sedekah bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk memulihkan alam. Isra Mi’raj bukan cerita tentang melarikan diri dari dunia. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana kembali ke dunia dengan tanggung jawab yang lebih besar. Karena sesungguhnya, langit tak akan menerima doa dari bumi yang terus kita lukai. (*)
Penulis:
Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Mashud Azikin
Ilustrasi: IT maupa.id dan Mashud Azikin

