Autentik, Analisis Sosial Lukisan Our Home Karya Budi Haryawan

Budi Haryawan, seorang seniman di Makassar, kemampuannya melukis karya realis dipandang mumpuni. Tapi beberapa karyanya justru berciri hiper-realis. Our Home adalah salah satu karyanya menyita perhatian. Budi, demikian ia disapa, mencipta lukisan ini pada tahun 2020. Lukisan berukuran 107 cm x 107 cm ini menggunakan media cat minyak dan acrylic di atas kanvas. Bagaimana realitas lukisan ini berdasarkan analisis sosial? Mari dicermati.

Lukisan berjudul Our Home karya Budi Haryawan dapat dianalisis dengan menggunakan konsep sign (tanda) dan meaning (makna) dari Jacques Derrida. Pemahaman kita lebih jernih jika membaca buku karya Derrida berjudul Writing and Difference (1967) dan Of Grammatology (1967). Tapi kita tidak membahasa Derrida di sini. Kita meminjam instrumen tanda dan makna dalam konteks sosial.

Secara substansial, Our Home, kira-kira mengambil tema kolaborasi, keberagaman manusia sekaligus penghargaan terhadap individu dalam kehidupan sosial. Rumah adalah inti dari kehidupan sosial itu. Di sinilah Our Home menanam makna-makna sosial. Melalui bentuk cap tangan dan kaki sebagai simbol kehadiran dan kontribusi individu dalam suatu rumah atau komunitas. Cap tangan dan kaki dieskpresikan menyerupai bunga matahari. Pun, menurut perspektif keadilan gender, idealnya, kehidupan di dalam sebuah rumah tidak ada diskriminasi dan subordinasi. Sungguh, tangan tiada mampu berbuat sesuatu jika tiada kaki menopang tubuh. Cap tangan dan kaki aneka warna adalah tanda dari harmonisasi antara atas-bawah, ayah-ibu, anak-orang tua, semuanya sama dalam kehidupan. Peran-peran sosial hendaknya bersinergi untuk melahirkan energi terkuat dalam kehidupan rumah tangga.

Our Home, Pelukis: Budi Haryawan, Media: Cat Minyak dan Acrilic di atas kanvas, Ukuran: 170 cm x 170 cm, Tahun: 2020

Elemen Visual Our Home adalah komposisi cap tangan dan kaki, disusun membentuk pola seperti bunga atau sinar matahari yang menyebar dari pusat cerah membentuk lingkaran. Ini mengindikasikan adanya sumber energi atau tujuan bersama yang menjadi titik kumpul berbagai elemen individu. Beberapa tangan memiliki tulisan nama, seperti terlihat pada detail gambar. Elemen ini memperkuat makna bahwa setiap kontribusi datang dari sosok yang berbeda dengan identitasnya sendiri.

Warna Our Home didominasi warna hangat; kuning, oranye dan merah, di pusat dan warna hijau serta campuran warna di bagian luar mencerminkan dinamika hubungan antarindividu, mulai dari kehangatan kerja sama hingga keragaman karakter yang melengkapi satu sama lain. Latar belakang gelap membuat bentuk tangan lebih menonjol, seolah menyoroti pentingnya peran setiap orang dalam konteks yang lebih luas.

Lihat Juga:  Steya Coffee, Tempat Seni Rupa dan Ngopi Menyatu

Penggunaan cap tangan dan kaki sebagai media utama membawa nuansa langsung dan otentik karena bentuk tersebut bisa jadi merupakan tanda nyata dari banyak orang yang terlibat atau melambangkan keberadaan manusia secara umum. Tekstur kanvas yang terlihat juga menambah kedalaman visual dan kesan karya yang memiliki nilai emosional serta kolaboratif.

Konteks Indonesia, symbol berupa cap tangan sering dikaitkan dengan gotong royong dan kerja sama. Karya ini kemungkinan ingin menyampaikan bahwa kemajuan dan keberadaan sebuah kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari kontribusi masing-masing individu, yang meskipun berbeda, saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Tahun pembuatan karya, yaitu tahun 2020, juga bisa menjadi konteks tambahan, mengingat masa pandemi yang mengharuskan solidaritas antarmanusia lebih kuat.

Latar hitam bukan hanya sebagai penyangga visual tapi juga memiliki makna tersendiri. Ia membuat setiap cap tangan dan kaki dengan warna-warna cerah jadi lebih menonjol, terasa hidup. Tanda tersebut berusaha mengungkapkan bahwa  setiap individu bersinar dalam lingkungan yang luas dan kompleks. Selain itu, warna hitam juga bisa melambangkan kedalaman, misteri atau bahkan kesatuan yang tak terlihat yang mengikat semua elemen di dalamnya.

Kekuatan lukisan ini terletak pada pemilihan bentuk simbolis yang universal dan kontinuitas dengan berbagai aliran seni rupa dunia, yang membuatnya relevan sekaligus memiliki karakter khas sendiri.

Seiring perkembangan seni kontemporer, aliran yang menekankan kolaborasi dan pesan sosial, seperti seni masyarakat atau proyek seni kolaboratif global, menjadi tren. Dengan adanya nama-nama disekitar cap tangan dan kaki menunjukkan unsur kolaborasi selaras dengan gerakan seni yang melihat karya bukan hanya sebagai hasil individu tetapi juga sebagai produk interaksi sosial. Kekuatannya terletak pada kemampuan menyampaikan pesan tentang persatuan yang relevan di tingkat global.

Lihat Juga:  Autokuratorial Lukisan Bayang-bayang yang Memutih
Budi Haryawan, Seniman

Pad era globalisasi, seni kontemporer sering menggunakan simbol yang bisa dipahami secara luas tanpa terbatas budaya tertentu. Cap tangan dan kaki sebagai simbol manusia, kerja sama dan keberadaan adalah sesuatu yang universal. Kekuatan lukisan ini ada pada kesederhanaan bentuk namun mampu menyampaikan makna mendalam, menjadikannya mudah diterima dan dirasakan oleh khalayak di berbagai belahan dunia.

Kekuaatan Lokalitas, Leangleang
Hubungan dengan lukisan cap tangan ribuan tahun di Leangleang Maros, Sulawesi Selatan, bukan hanya memperkaya makna, tapi juga menjadikan karya Budi Haryawan sebagai jembatan antara warisan budaya lokal dengan seni kontemporer dunia.

Lukisan cap tangan di Leangleang adalah salah satu warisan prasejarah paling berharga di Indonesia, yang dipercaya dibuat sekitar 51.200 tahun yang lalu sebagai simbol kehadiran, pemilikan wilayah atau bahkan doa-doa purba. Karya Budi Haryawan ini mengambil elemen yang sama—cap tangan—seolah ingin mengatakan bahwa meskipun waktu dan konteks berubah, kebutuhan manusia terhadap menyatakan identitas, bersatu, dan terhubung dengan komunitas tetap sama. Ini membuat Our Home tidak hanya memiliki nilai seni tapi juga menjadi bentuk penghormatan dan kelanjutan dari warisan budaya dunia.

Tentulah perspektif sosial ini jauh dari sempurna tapi tanda dan makna dalam lukisan dapat berbahasa, bercakap-cakap dan bahkan merenungi setiap makna dari tanda-tanda. Seniman memiliki hak genetic untuk mengekspresikan setiap tanda kepada publik dan beragam bentuk. Terimakasih seniman.

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU