Maupa.id – Bertamu-Bertemu Kembali digelar di Pelataran Basecamp Pelita Taeng Gowa, jalan Rahimi tombolo Pate Kabupaten Gowa. Bertamu-bertemu diinisiasi oleh Sadaruddin Dg Lawa dan Daeng Kidding yang merupakan tonggak penggerak daripada kemajuan dan inovasi Langgam Makassar. Pelita Taeng merupakan salah satu kelompok langgam makassar yang berasal dari kabupaten Gowa. Kini Pelita Taeng, menjadi salah satu penggerak di wilayah musik jenis langgam yang mampu menjadi salah satu ikon diblantika musik langgam khususnya Makassar Sulawesi Selatan.
Kolektifitas dalam bingkai passari’battangang kembali terurai pada Sabtu, 23 Agustus 2025, hal ini terlihat dengan beberapa kerabat dari Sadaruddin Daeng Lawa yang kerap disapa dengan sebutan Bapak Lawa. Dibuka dengan instrumental lagu Makassar yakni Anging Mammiri. Terlihat kelompok ini terdiri dari Irwan Idris yang kerap disapa dengan sebutan Daeng Nompo, memainkan alat musik biola, Daeng kidding memegang kendali di Gitar dengan sebutan pamelodi atau seringkali disebut dengan istilah pemain melodi. Amir Yasin Daeng ngoyo memainkan Bass, Dg Kulle memainkan Cuk, Daeng Lanti’ memainkan Cak dan sadaruddin Daeng lawa sendiri memainkan Cello dengan petikan khasnya.
Terlihat beberapa perwakilan dari pekerja seni yang terdiri dari Orkes Langgam Lentera Makaasar pada kegiatan Bertamu-Bertemu, Orkes Langgam SKN, Sanggar Seni Al-Farabi Bulukkumba, Pemerhati Pusaka Taeng. Terlihat bahwa, bingkai kekerabatan passari’battangngang. Passari’battangngang sendiri dimaknai sebagai aktualisasi diri berdasarkan sosialisasi.
Instrumental lagu Sulawesi Pa’rasanganta sebagai cerita kearifan dengan isyarat kerinduan terhadap rumah. Lagu ini berlaku kepada mereka yang berada di luar Sulawesi yang sedang merantau. Suara dari Yunus Daeng Sijalling menggegar dengan ciri khasnya membawakan syair makassar dengan penuh penghayatan. Selain Dg Jalling, Daeng Nompo juga membawakan lagu yang berjudul Rambang-Rambang dengan vocal yang khas. Sesekali ia memainkan biola sebagai pengantar dari setiap syair yang dibawakan.
Bertamu bertemu dalam Bahasa makassar dikenal dengan istilah sibuntulu’–siruppa. Tercipta sebuah interaksi antara penonton dan Master Ceremoni atau MC. Salah satu penonton mengatakan kegiatan ini menjadi stimulus terhadap musik Langgam Makassar. Dia juga beranggapan dengan kegiatan ini pada awalnya dikenal di kalangan palontang yang identik dengan minuman khas yang disebut dengan istilah Ballo. Dengan adanya pelita Taeng Musik Langgam akhirnya dikenal dikalangan luas.
Adiatma merupakan salah satu praktisi seni Musik langgam. Ia merupakan lulusan dari Institut Seni Indonesia Surakarta yang juga menulis thesis tentang Musik Langgam di Sulawesi Selatan. Ia seringkali mengunjngi Pelita Taeng untuk mendapatkan data berupa informasi terkait dengan fenomena yang terjadi pada musik langgam khususnya musik langgam yang ada di Makassar.
Interaksi semakin menarik dengan adanya salah satu tokoh adat Taeng yang kerap di sapa dengan Bapak Narang. Beliau menuturkan bahwa musik langgam adalah bagian dari dirinya, selain itu beliau ingin menciptakan sebuah syair tentang kebudayaan taeng yang akan diberikan kepada Pelita Taeng sebagai satu satunya penggerak Musik langgam Makassar. Terlihat salah satu pelaku dari langgam memberikan pandanganya dalam bingkai musikalitas, dan memberikan tentang informasi dengan musik langgam dan keroncong. Sehingga menjadi pengetahuan dasar kepada generasi pelanjut daripada Musik Langgam Makassar.
Bajina tonja ku sanna’ pangngaingku ri kalennu, sike’de mama sayu ri panrannuangku. Ingka palettemi mange, Cinna cini’nu maraeng. Bolimikamma, ku pinawang ri ero’nu. Baiknya juga diriku lebih menyayangi dirimu, sedikit saja lebih dalam pengharapanku, namun pindahlah penglihatanmu kepada yang lain, jika demikian ku ikutilah keinginanmu. Teks tersebut menjadi isyarat pada kita semua untuk mencintai tanpa harus memiliki. Penggalan Lagu ini dibawakan oleh Muhammad Yunus Daeng Sijalling. Dengan kekuatan vocal yang menggelegar menjadi kekuatan semangat pada kita yang ada diruang ini.
Terlihat beberapa daripada pengunnjung begitu menghayati dari tiap teks, iringan langgam Makassar juga dengan iringan biola yang dibawakan oleh Daeng Nompo. Seolah sebagai renungan terhadap kegundahan yang terdapat dalam hati. Selaku salah satu pengunjung dalam ruang di malam ini menjadi unjuk bersua untuk kita semua dilintas generasi tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Teruslah menjalin silaturahim dengan yang lainnya sebagai pengerak kebudayaan masa kini.
Penulis: Jundana, S.Sn
Editor: Muhammad Fauzy Ramadhan

