Asman Djasmin, Seni Mencintai Kreativitas dan Hujan

Asman Djasmin, seorang perupa kontemporer Indonesia yang produktif. Kini , Ia bermukim di Kota Makassar. Ulasan Wahyuddin Yunus, pegiat literasi seni budaya dan lingkungan, menyuguhkan perspektif realitas kekinian karya Asman Djasmin. Semoga bermanfaat.

Saat seperti ini menjadi waktu terbaik mencintai hujan. Saat seniman terjaga di rumah, kreativitas tak harus luntur akibat tetesan hujan. Hujan telah melapangkan jalan ‘produktif’, membiarkan ide mengalir secara alami.

Hujan telah menciptakan kapsul waktu. Ruang seniman melahirkan kreativitas tanpa hambatan, menciptakan penanda. Lewat citra ini seniman Asman menemukan visual yang menghasilkan karya lukis bertajuk ‘Simfoni Hujan’.

Judul: Simfoni Hujan
Bahan: Acrylic on canvas
Tahun: 23 Nov 2025
Ukuran: 50cm x 40 cm

Melalui ‘Simfoni Hujan’, Asman membangun konsep karya lukis yang tercipta, dengan memaknai hujan sebagai simbol kesetaraan dan demokrasi alam. Ia menyirami pegunungan dan selokan, menyentuh istana dan gubuk reot, membasahi yang dicintai maupun yang terlupakan.

Menurut Asman, lewat karya ini, hujan mengingatkan kita bahwa air kehidupan mengalir untuk semua, di hadapan alam, strata sosial manusia hanyalah ilusi. Karenanya, hujan bukan sekedar air yang jatuh, melainkan langit yang merindukan bumi, lalu menjatuhkan dirinya dalam jutaan cerita.

Bagi Asman, karya ini melukiskan setiap tetes bagaikan kata yang tercecer dari puisi panjang yang ditulis awan, mengajarkan kita pada makna merunduk, bahwa merendah justru cara terbaik untuk menyuburkan dunia. Ia adalah bukti, bahwa setelah penguapan kesedihan yang panjang, akan tiba saatnya segala yang terangkat harus kembali untuk menghidupi. Dan hujan adalah puncak dari siklus abadi.

Yach, hujan yang tercipta dimusimnya membawa inspirasi. Hujan menjadi kolaborator bagi seniman dalam berkarya, membawa kisah dan spontanitas. Hujan telah membawa kreativitas mengalir bagaikan tetesan hujan.

Simfoni Hujan, Asman Djasmin

Paduan seniman dan hujan adalah kisah hidup yang indah. Ia membawa gagasan saat momen-momen tenang, instrospektif, dan terkadang muram yang dibawa oleh hujan. Dapat menjadi waktu yang paling produktif untuk kreativitas yang mendalam dan tulus.

Ada beberapa alasan mengapa waktu kedatangan hujan sering dianggap sebagai waktu terbaik mencintai hujan dan kreativitas, yaitu:

Lihat Juga:  Empat Memandang Rupa Kolaborasi di Swara Kebun Bulukumba

Suasana Hening dan Fokus: Suara-suara rintik hujan yang lembut (white noise) secara alami ikut menenangkan pikiran, membantu memblokir gangguan eksternal dan kebisingan kota yang bising. Suasana keheningan yang dihasilkan memungkinkan seniman untuk fokus sepenuhnya pada proses kreatif mereka tanpa terputus.

Introspeksi dan Kontemplasi: Cuaca yang mendung dan sejuk sering kali mendorong suasana hati yang lebih melankolis atau introspektif. Seniman sering kali memanfaatkan suasana hati ini untuk mendalami emosi, ingatan, dan ide-ide lebih dalam, yang menghasilkan karya seni yang lebih emosional dan bermakna.

Lingkungan yang Mendukung Imajinasi: Hujan memaksa aktivitas di luar ruangan terhenti, hingga menciptakan “sana” dan “sini” menjadi hal yang berbeda. Kenyamanan di dalam ruangan saat di luar hujan turun, menciptakan penanda yang kontras. Alam pikir seniman merangsang imajinasi, berfungsi sebagai latar belakang yang sempurna untuk penceritaan, penulisan, atau penciptaan visual.

Tidak Ada Tekanan Waktu: Kala hujan seharian terasa memiliki ritme yang lebih lambat. Waktu serasa tak bergerak. Tidak ada dorongan untuk keluar dan “produktif” dalam arti yang biasa, memberikan seniman izin mental untuk berlama-lama dalam proses kreatif, bereksperimen, dan membiarkan ide mengalir secara alami.

Penulis: Wahyuddin Yunus, Pegiat Literasi Seni Budaya dan Lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dok. Maupa.id, AsmanArt
Ilustrasi: AI

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU