(Catatan dari Pameran Refleksi 50 Tahun Seni Rupa Makassar)
Dua hari penghelatan Pameran Seni Rupa dalam “Refleksi 50 Tahun Wajah Seni Rupa Makassar” telah tunai. Sejak 1 – 2 November 2025, Benteng Rotterdam Makassar, dalam Gedung E menjadi saksi perjalanan seni rupa Makassar selama lima dekade, terhitung sejak tahun 1975.

Saya berusaha untuk tidak menuliskannya dalam narasi panjang. Di tengah keterbatasan data dan informasi yang dapat ditemukan untuk digali. Demi satu hal, sejauh amatan selama pameran, deretan lukisan yang dipajang minim dengan tema-tema tradisi dan budaya lokal sebagai wujud refleksi. Lalu seperti apa kontribusi seni rupa Makassar dalam wujud karya sebagai entitas budaya.
Bagian catatan ini memberi perhatian pada atensi seni rupa Makassar dalam merespon keberadaan Leang Leang. Tema besar kegiatan Rock in Celebes “Heritage” belum menawarkan sesuatu yang hendak diwariskan. Wajah seni rupa Makassar belum tergambar tawaran dan kontribusi seni rupa Makassar dalam landscape dunia seni rupa.
Wajah seni rupa Makassar yang tersaji dalam pameran refleksi belum menggali sisi edukasi dalam karya. Wujud karya seni rupa kian terasa minim untuk bisa menjadi objek kajian, termasuk bagi perkembangan seni rupa itu sendiri. Seni rupa sesungguhnya adalah sumber khazanah pengetahuan yang bisa memperkaya gagasan dan pada akhirnya seni rupa sebagai entitas kebudayaan dapat berkontribusi dalam kemajuan peradaban.
Leang-Leang dan Rekonstruksi Seni Rupa Purba Dunia
Menyoal Seni Rupa Makassar tidak absah tanpa memasukkan keberadaan situs Leang-Leang sebagai simbol seni rupa purba yang ada di Maros. Situs Leang-Leang adalah penanda sejarah seni rupa purba dunia. Temuan atas jejak lukisan dalam gua Leang-Leang menjadi penanda peristiwa masa lalu yang terdokumentasi sebagai artefak yang disinyalir berusia lebih dari 40.000 tahun. Penemuan lokus ini memberi informasi dan dapat dipelajari bagi generasi mendatang.
Jejak ini memberi gambaran otentik membantu untuk memahami asal-usul dan perkembangan masyarakat, membangun identitas dan rasa kebangsaan. Lukisan gua di Leang-Leang menarik pelajaran berharga bagi sejarah kemunculan seni rupa dan perjalanannya hingga saat sekarang. Jejak masa lalu menciptakan pemahaman yang lebih lengkap dan beragam dengan narasi yang lebih inklusif.

Pengakuan atas situs Leang-Leang menyimpan bukti kehidupan manusia purba, terdiri dari gugusan gua dan artefak, dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional karena nilainya yang sangat tinggi sebagai warisan budaya. Namun situs ini disebutkan adalah taman arkeologi prasejarah di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Dikenal dengan lukisan tangan dan hewan di dinding gua, namun tak dipandang sebagai situs seni rupa purba.
Leang Leang sebagai Laboratorium Seni Rupa
Seni rupa Makassar sudah saatnya mengambil ‘positioning’ dan memainkan peran sentral dalam menjaga warisan Leang-Leang. Sejumlah atensi melalui interpretasi kreatif dan sumber inspirasi utama, kegiatan kolaboratif, dan pariwisata budaya, serta laboratorium hidup bagi seniman.
Jembatan yang menghubungkan masa lalu prasejarah dengan mengintegrasikan seni rupa kontemporer dengan karya inovatif. Proyek “Leang Leang Spirit Melampaui Rupa Memaknai Sejarah”, lewat Pameran Seni Instalasi 16-22 November 2022 telah menancapkan kembali semangat seni rupa Makassar dalam bertransformasi.
Semangat itu tidak hanya mengapresiasi warisan Leang-Leang, tetapi juga secara aktif berpartisipasi dalam upaya pelestarian dan penyebarluasannya. Dengan satu mimpi menjadikan Leang- Leang sebagai Titik Nol Seni Rupa Purba Dunia.
Penulias: Wahyuddin Yunus, Pegiat Wacana Seni Budaya dan Lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen Achmad Fauzy

