MAIM, Gerakan Seni Rupa Mengaliri Ruang Melintasi Waktu

Makassar Art Initiative Movement (MAIM), pada tanggal 23 November 2025 genap berusia 7 tahun. Tulisan Wahyuddin Yunus, seorang pegiat wacana seni budaya dan lingkungan di Makassar ini merefleksi peran MAIM mewarnai Seni Rupa Indonesia. Refleksi ini penting didaras untuk memperkaya khazanah seni rupa Indonesia di Makassar.

Refleksi atas Peringatan 7 tahun MAIM Mewarnai Seni Rupa Indonesia

Makassar Art Initiative Movement (MAIM) adalah entitas hidup dipanggung seni rupa Makassar. Nafas gerakan yang tak pernah surut ditelan wkatu dan tenggelam dalam ruang. Tujuh tahun MAIM turut mewarnai perjalanan seni rupa Makassar. Pesona imajinasi dan kreativitas bergerak dalam senyap, berkarya mengekspresikan pendar inisiatif.

Wahyuddin Yunus, penulis, pegiat wacana seni budaya dan lingkungan

Perjalanan MAIM, bukan hanya tergurat di atas kanvas, dalam ajang pameran, dicetak dalam lembaran katalog, atau ditulis dalam pemberitaan. Ia hidup di rumah-rumah seniman, di studio rumahan, di warung kopi, dalam obrolan para seniman yang menyaksikan karya mereka hadir dalam ruang pameran.

Jenry Pasassan, Ketua MAIM sekarang (2025-2027)

Di antara nama-nama seniman yang selalu diperbincangkan selalu terselip dan disebut dengan penuh bangga adalah para seniman dari MAIM.  Komunitas MAIM menjadi salah satu organ seni rupa yang tak pernah kehilangan cahaya dalam setiap ajang pameran.

Seni Rupa Makassar di antara Fantasi Perasaan dan Medium Ekspresi
Harus diakui seni rupa Makassar telah merefleksikan masa-masa di mana seni rupa masih memperdebatkan antara pendidikan seni rupa dan seni rupa murni. Ditempat lain ada kesan arena kontestasi seniman dengan faktor pembeda luaran asal perguruan tinggi.

Maka tak dapat dipungkiri jika produk karya seni rupa yang merupakan hasil refleksi perasaan, pemikiran, pengalaman pribadi seniman terbangun elemen lain diluar seni rupa. Produk seni rupa yang menjadi ruang ekspresi, diluar itu ada ruang ekspresi berebut panggung atas nama event.

Namun MAIM tidak larut dalam dinamika perebutan ruang. MAIM sangat menekankan pada rekonsiliasi antar personalitas secara terbuka dengan semangat dialektika. Upaya secara sadar mencoba secara bersama mulai menantang diri keluar dari zona nyaman masing-masing. Dengan tetap menampilkan spirit transformasi untuk mencoba gagasan-gagasan baru dan inovatif dalam berkarya.

Lihat Juga:  Pesta Pesisir Lapakaka Ditutup dengan Penampilan Passayang-sayang Mandar
Beberapa karya Jenry Pasassan dalam sebuah pameran di Artmosphere Studio Makassar

Perayaan dalam Perjalanan
Hari ini, MAIM  merayakan ulang tahun ke-7. Nama MAIM akan selalu mengalun bersama lahirnya karya-karya seniman yang penuh inisiatif. Di waktu yang akan datang, kisah ini akan selalu  diceritakan bukan sebagai mitos, melainkan sebagai bagian dari identitas MAIM. Ia bukan sekadar saksi bisu dalam kanvas; ia adalah pilar dari apa yang membuat MAIM menapaki perjalanannya.

Faisal Syarif, Ketua MAIM Pertama

Perayaan tujuh tahun MAIM kali ini menandai tujuh tahun perjalanan MAIM mewarnai Seni rupa Makassar. Momen kali ini hendak melarutkan kisah dalam nafas panjang perjalanan berkarya dan berkesenian yang tak pernah surut. Tujuh tahun MAIM dipenuhi dengan warna dan makna kehidupan berkesenian yang tak pernah berhenti dipercakapkan.

Bangunan tujuh tahun menjadi refleksi. Sudah saatnya menjadi momentum menata seni rupa Makassar yang sehat, kondusif, dan ikut berkontribusi bagi perkembangan seni rupa itu sendiri. Peringatan 7 tahun MAIM sebagai introspeksi diri, cerminan nilai, dan menjadi tuan rumah dalam tradisi budaya dan identitas lokal yang melekat dalam jati diri MAIM.

Gerakan yang Menafasi Ruang dan Waktu
Ditengah banyaknya ruang-ruang diskusi, semakin jauh diselami, kalaulah perjalanan seni rupa adalah ujian konsistensi, pergumulan energi, dan olah nafas panjang. Sesudah itu baru bisa berpindah untuk memikirkan bagaimana karya-karya seni rupa bisa berdampak.

Gerakan seni rupa MAIM memiliki harapan besar Makassar dapat menjadi medan tumbuh kembangnya dunia seni rupa yang dinamis dan dialektik. Karena gerakan MAIM dilandasi oleh kekuatan spirit ‘art from the soul’, sebagai titik api lahirnya kreativitas meretas segala stagnasi hambatan dan tantangan luar dalam.

Salah satu presentasi karya Faisal Syarif di Artmosphere Studio

MAIM adalah bukti bahwa kerja-kerja seniman tidak hanya lahir dari karya kreatif dan inovatif—tetapi dari keberanian seniman MAIM memberi warna hidupnya untuk seni rupa dan kebudayaan. Dan selama gerakan inisiatif masih dimainkan di MAIM, kisahnya tidak akan pernah benar-benar selesai.

Lihat Juga:  Historiografi MAIM dalam Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar

Penulis: Wahyuddin Yunus, Pegiat Wacana Seni Budaya dan Lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU