Tak dapat dipungkiri kreativitas dan gerakan seniman adalah keniscayaan. Nafas perjalanan seni rupa Makassar ditandai dengan berbagai event pameran yang menunjukkan adanya geliat seniman perupa dalam berkarya. Diantara berbagai konsep dalam berpameran, seniman perupa Makassar membuat sebuah terobosan berlabel “Empat Memandang Rupa”.
“Empat Memandang Rupa” mencuat kembali dan ditampilkan dalam pameran bersama ‘Refleksi 50 Tahun Wajah Seni Rupa Makassar’ di Benteng Rotterdam, 1-2 November 2025. Kolaborasi seniman Makassar yang menampilkan jejak karya dari empat seniman senior Makassar yaitu; Alan Tola, Asman Djasmin, Achmad Fauzi, dan Ahmad Anzul.

Kemunculan “Empat Memandang Rupa” menandai peristiwa penting dalam kancah seni rupa Makassar. Konsep pameran kolaborasi seniman dengan menonjolkan karya masing-masing, menjadi wacana tersendiri dalam narasi seni rupa Makassar.
Tapi gagasan “Empat Memandang Rupa” tidak lahir secara spontan. Jauh sebelum lahirnya seniman berkelompok atau berwujud komunitas seniman, ajang pameran seni rupa berskala lokal dan mandiri telah menjadi kalender tetap dalam menampilkan karya-karya yang orisinal seniman.

Ide Cetusan Awal
Pameran seni rupa bertajuk Empat Memandang Rupa’ lahir sebagai sebuah inovasi dan merupakan ajang pameran seni rupa sepuluh (10) tahunan. Konsep ini unik yang tidak ditemukan ditempat lain bahkan dibelahan rupa bumi manapun. Dan pertama kali dicetuskan tahun 1999.
Latar belakang terselenggaranya pameran ini, berawal ketika Pak Benny Subiantoro berniat melaksanakan kegiatan rutin Pameran Seni Rupa Tutup Tahun VI yang diadakan di Kampus UNM.
Atas ajakan tersebut seperti gayung bersambut, seniman perupa Makassar memanfaatkan kesempatan ini sebagai momen yang baik untuk dapat menghadirkan hasil proses berkarya dari 4 seniman perupa di lingkungan kampus.
Penanda Awal Seri Satu
Penghujung bulan Desember 1999 menjadi Seri pertama pameran. Peristiwa ini dicatat 13 Desember 1999 yang menandai awal Empat Memandang Rupa’ sebagai tema pameran.
Dalam catatan ,Serupa Pengantar’ sebagai pengantar kuratorial disebutkan ‘Pameran Seni Lukis bertema Empat Memandang Rupa”. Konsep ini juga dicatatkan sebagai seri pertama Pameran Empat Memandang Rupa’.
Saat itu tema “Memandang Rupa” menggambarkan sikap persepsi dari 4 seniman terhadap sensibilitas dunia seni rupa yang terasa berbeda namun mempunyai perspektif yang sama tentang tujuan berkesenian khususnya dalam dunia seni rupa. Dan kata “memandang lebih bermakna pada pengertian sebenarnya.

Empat Cakupan Aspek
Para seniman memegang empat aspek dalam menjabarkan konsep “Empat Memandang Rupa” dalam berpameran
Kolaborasi Filosofis
Pameran ini dikenal karena pendekatannya yang unik, di mana keempat seniman berkolaborasi dalam satu bingkai filosofi Bugis-Makassar, sering kali dikaitkan dengan konsep lokal “Appa Sulapa” (empat sisi).
Representasi Generasi
Para perupa ini mewakili satu generasi penting dalam perkembangan seni rupa di Makassar dan Sulawesi Selatan, dengan karya yang merefleksikan perjalanan panjang dan pengalaman mereka di dunia seni.
Respons Terhadap Isu Lokal/Sejarah
Karya-karya yang dipamerkan sering kali cerdas dalam merespons isu-isu lokal, sejarah, dan nilai-nilai budaya, seperti semangat situs prasejarah Leang-leang atau gambaran tradisi budaya Bugis Makassar.
Eksplorasi Media dan Gaya
Meskipun bersatu dalam filosofi, masing-masing perupa memiliki gaya dan pendekatan artistik yang beragam, menunjukkan kekayaan ekspresi dalam seni rupa Makassar.
Hikmah Bagian Akhir
Konsep ini telah ikut memberi arah seniman dalam berkarya. Sajian pameran berfungsi sebagai ajang untuk mendokumentasikan, merefleksikan, dan mengapresiasi kontribusi para seniman tersebut terhadap perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia.
Dari pelaksanaan seri satu telah ikut memberikan semacam motivasi. Saat itu bagi Achmad Fauzi, Asman, Alan, Simon, menitipkan pesan agar kegiatan ini dapat berkesinambungan ke seri-seri berikutnya.
Kehadiran karya empat seniman seri satu menjadi wujud nyata atas sebuah perjalanan mencari makna tanpa pretensi. Peristiwa 26 tahun lalu terwujud untuk menawarkan sesuatu hikmah bagı siapapun dan bagi kemuliaan hidup itu sendiri.
Wahyuddin Yunus, pegiat literasi seni budaya dan lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dok. Achmad Fauzi dan Wahyuddin Yunus

