Transformasi modal budaya menjadi kesuksesan finansial adalah proses mengonversi pengetahuan, keterampilan dan status sosial menjadi nilai ekonomi nyata. Menurut, Pierre Bourdieu, modal budaya dapat ditukarkan dengan modal ekonomi melalui pengakuan sosial dan profesional. Beberapa langkah transformasi dapat dilakukan para gen z.
Para pemuda dapat melakukan transformasi cultural capital dengan cara melakukan beberapa langkah. Pertama, lakukan perubahan keterampilan internal atau embodied cultural capital menjadi pendapatan langsung. Misalnya, melalui cara monetisasi bakat. Anak muda dapat manfaatkan hobi atau bakat unik, sepert; menggambar, memasak atau bahkan bermain game untuk menawarkan jasa profesional atau membuat konten digital yang menghasilkan uang.
Para gen z memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan bantuan teknologi. Nah, ini langkah kedua; gunakan kemampuan komunikasi yang luwes, kepercayaan diri dan pemahaman etika untuk mengakses pekerjaan bergengsi atau menarik investor.

Langkah ketiga, lakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Kemampuan adaptasi ini adalah salah satu modal budaya generasi muda saat ini. Terbukti, beberapa anak muda berhasil menjual pengetahuan spesifik mereka melalui kursus atau layanan konsultasi kepada konsumen yang membutuhkannya. Misalnya, kemampuan mengelola platform digital.
Selanjutnya, tunjukkan kemampuan dan keterampilan. Beberapa gen z berhasil mendapatakan kepercayaan investor untuk mengembangkan bisnis. Mereka terbukti mampu menunjukkan latar belakang pendidikan atau penghargaan industri dalam proposal bisnis untuk meningkatkan kepercayaan publik dan investor. Fakta ini membuktikan bahwa pengetahuan dan keterampilan para pemuda saat ini adalah potensi modal budaya yang sangat kuat.
Kemampuan generasi ini melakukan inovasi produk berbasis identitas, dalam teori modal budaya disebut modal diobjektifikasi, juga tidak patut diragukan. Nah, ini langkah kelima, yaitu generasi muda memang semestinya meransformasikan objek budaya atau tradisi menjadi produk komersial bernilai tinggi. Misalnya, anak muda dapa mengubah kerajinan tradisional seperti batik atau tenun menjadi produk fashion modern melalui sentuhan desain inovatif yang sesuai tren pasar. Caranya, lakukan branding berbasis cerita. Gunakan narasi budaya di balik sebuah produk untuk meningkatkan nilai estetik dan simboliknya, sehingga dapat dijual dengan harga premium.
Keenam, para anak muda juga sepatutnya mampu melakukan aktivasi terhadap jaringanya. Caranya, gunakan pemahaman budaya untuk membuka pintu peluang finansial melalui jaringan elit. Nah, di sini dibutuhkan strategi berjaringan. Penting bagi anak muda memasuki komunitas atau asosiasi profesional untuk berinteraksi sejajar dengan pemegang keputusan. Strategi lainnya, lakukan kolaborasi industri dengan cara menjalin kemitraan dengan sesama pelaku kreatif atau pengusaha untuk memperluas jangkauan pasar dan berbagi sumber daya.
Ok, strategi yang tidak kalah pentingnya adalah, para gen z penting membangun budaya investasi. Ya, katakanlah, anak mudak penting memiliki mindset finansial. Langkahnya, lakukan transformasikan pola pikir dari konsumtif menjadi produktif. Poin ini terkait dengan kemampuan literasi keuangan. Karena itu, gen z harus mampu mengedukasi diri tentang cara kerja pasar modal agar tabungan yang diam bisa diubah menjadi aset produktif.
Poin terakhir, penting bagi gen z melakukan diversifikasi Pendapatan. Langkahnya, terapkan disiplin dalam menabung dan berinvestasi pada instrumen yang tepat, misalnya saham, emas, atau bisnis untuk mencapai kebebasan finansial jangka panjang.
Nah, saatnya mengidentifikasi bentuk modal budaya yang dimiliki setiap gen z saat ini. Jawabannya, ada pada setiap individu gen z itu sendiri. Baiklah, apakah strategi ini mudah dilakukan? Tentu tidak semuda membalik telapak tangan tapi juga sesulit bangkit dari keterpurukan. Percaya! Gen z Indonesia itu berdaya!
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: Tim kreatif maupa.id

