Kerusakan Lingkungan Ancam Gen Z dan Alpha Indonesia

Generasi Z (Gen Z) dan Alpha Indonesia terancam akibat kerusakan lingkungan. Pada tahun 2025, data kerusakan lingkungan di Indonesia menunjukkan masalah serius seperti krisis sampah plastik dengan produksi 12,4 juta ton/tahun, peningkatan emisi karbon. Tercatat Indonesia berada pada peringkat 8 dunia. Data deforestasi diproyeksikan sekitar 600 ribu hektar. Data PP17/BPS mencatat banjir, kekeringan, pengelolaan sampah buruk sebagai isu prioritas. Sumber data berasal dari laporan BRIN, WALHI, Databoks/PP17, BPS, dan Carbon Brief.

Gen Z adalah kelompok demografis yang lahir sekitar tahun 1997 sampai 2012. Gen Alpha merujuk pada generasi yang lahir sekitar tahun 2010 hingga 2024/2025. Kerusakan lingkungan berdampak secara, bilogis, sosial dan psikis.  Gen Z dan Alpha adalah generasi yang tumbuh di tengah krisis iklim dan degradasi lingkungan yang nyata.

Berdasarkan kajian ilmiah, terdapat beberapa dampak krisis lingkungan terhadap Gen Z dan Alpha. Misalnya, generasi ini mengalami dampak terhadap kesehatan dan kualitas hidup. Polusi udara di kota-kota besar Indonesia, menyebabkan penyakit seperti; asma, alergi, dan gangguan paru-paru. Demikian pula dengan pencemaran air bersih akibat pencemaran air tanah dari limbah industri seperti plastik. Kerusakan lingkungan secara paralel juga berdampak pada konsumsi pangan seperti ikan dan sayuran tercemar mikroplastik atau bahan kimia.

Kerusakan lingkungan juga berdampak secara ekonomi dan lapangan kerja di masa depan. Contoh nyata dapat disaksikan pada terjadinya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan mengganggu sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Bukan hanya itu, kerusakan lingkungan juga berdampak pada kondisi mental dan sosial Gen Z dan Alpha. Fenomena eco-anxiety atau kecemasan lingkungan, semakin banyak dialami generasi muda saat ini. Realitas menunjukkan bahwa Gen Z merasa khawatir, marah dan tidak berdaya melihat terjadinya kerusakan alam. Bencana yang melanda Indonesia, seperti di Aceh, Sumatera, Kalimantan menimbulkan trauma dan rasa tidak aman. Beragam kasus kerusakan lingkungan menyebabkan banyak Gen Z menjadi lebih sadar dan aktif dalam gerakan lingkungan sebagai bentuk respon terhadap kecemasan ini.

Krisis Lingkungan Hidup Berdampak Buruk pada Gen Z dan Alpha

Kerusakan lingkungan hidup juga berdampak terhadap masa depan dan keberlanjutan bangsa Indonesia. Visi Indonesia emas tahun 2045 menjadi menjadi ironi jika disandingkan dengan fakta kerusakan lingkungan alam Indonesia saat ini. Karena kerusakan lingkungan jelas menurunkan ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih. Kenyataan ini menjadi ancaman bagi kehidupan jangka panjang.

Lihat Juga:  Ketika Pupuk Mahal, Sampah Menjadi Harapan

Kerusakan lingkungan alam yang terjadi saat ini, jika tidak ditangani secara arif, juga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati Indonesia yang penting bagi budaya dan ekonomi. Sehingga, kerusakan alam jelas menjadi beban besar bagi Gen Z dan Alpha sebagai generasi penerus untuk memulihkan kondisi alam Indonesia.

Dengan demikian, kerusakan lingkungan alam Indonesia bukan sekadar masalah lingkungan tetapi keberlanjutan generasi bangsa. Karena Gen Z dan Alpha saat ini mnjadi generasi penentu masa depan alam Indonesia. Tantangannya adalah, apakah kerusakan lingkungan saat ini terus berlanjut atau segera dapat dipulihkan melalui gaya hidup, inovasi, dan kebijakan hijau.

Jika kesadaran Gen Z tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup terus meningkat sementara kebijakan pemerintah tidak responsif terhadap kerusakan lingkungan dan penanganan bencana saat ini maka dapat dipastikan bahwa secara sosiologis berimpilikasi secara politik yang lebih besar. Gen Z yang saat ini menjadi penentu keberlangsungan Bangsa Indonesia akan meneruskan kecemasan ekologis ini kepada Generasi Alpha. Secara simultan, kepercayaan (trust) generasi Z dan Alpha kepada Pemerintah Indonesia akan menurun. Sinyalemen ini mulai terjadi dan sedang berlangsung. Oleh karena itu, pemerintah penting mengambil langkah taktis dan strategis untuk membuka data dan menyampaikan informasi berdasarkan fakta lapangan bukan berdasarkan asumsi, apalagi pencitraan. Semoga. (*).

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrator: Tim maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU