Ibu, Rahim Peradaban dan Politik Ekologi Sehari-hari

Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Kali ini, Mashud Azikin merefleksi peringatan Hari Ibu dengan perspektif ekologi. Mashud Azikin adalah pegiat lingkungan dan komunitas berbasis warga di Kota Makassar. Pendiri Komunitas Manggala Tanpa Sekat. Alumni Jurusan Kimia Universitas Hasanuddin ini aktif mengedukasi pengelolaan sampah rumah tangga, ekoenzim dan gerakan ekologi perkotaan berbasis komunitas. Ia menaruh minat pada isu relasi antara ekologi, kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember dengan bahasa yang nyaris selalu sama; penuh pujian, sarat romantisme, dan aman dari kritik. Ibu diposisikan sebagai sosok luhur, sabar, dan pengorbanannya tak terhingga. Namun justru karena terlalu sering ditempatkan di ruang sentimental, peran ibu kerap dilepaskan dari makna sosial dan politiknya yang paling mendasar: ibu adalah rahim peradaban, sekaligus aktor kunci dalam politik ekologi sehari-hari.

Mashud Azikin mengedukasi para ibu tentang ekoenzim

Di rumah—ruang yang sering dianggap remeh dalam perbincangan pembangunan—arah masa depan peradaban sesungguhnya ditentukan. Dan di rumah itu, ibu adalah pengampuh utama. Dari rahim biologisnya lahir manusia; dari rahim sosialnya dibentuk cara manusia memahami hidup, alam, dan batas-batas konsumsi. Cara seorang ibu memperlakukan makanan, air, sampah, dan lingkungan sekitar akan membekas lebih lama dibanding pidato pejabat atau kurikulum sekolah.

Makassar memberi contoh yang sangat konkret tentang hal ini. Kota yang tumbuh cepat, padat, dan menghadapi krisis ekologis berlapis—sampah, banjir, degradasi pesisir, dan tekanan permukiman—justru memperlihatkan bahwa solusi paling bertahan sering kali tidak lahir dari ruang rapat, melainkan dari dapur-dapur rumah tangga. Di sanalah para ibu mengambil keputusan ekologis setiap hari, sering tanpa disadari sebagai tindakan politik.

Ketika seorang ibu memilih memilah sampah, mengolah sisa dapur menjadi kompos, atau mengurangi plastik sekali pakai, ia sesungguhnya sedang melakukan intervensi ekologis yang nyata. Di banyak kelurahan di Makassar, komunitas ibu menjadi tulang punggung bank sampah, pengolahan eco enzyme, kebun pangan rumah, hingga gerakan bersih lingkungan. Mereka bekerja dengan ritme sunyi, tetapi dampaknya sistemik.

Ibu dan Keberlanjutan Ekologi

Komunitas ibu di kota ini juga menunjukkan bahwa ekologi bukan sekadar isu teknis, melainkan soal etika hidup. Mereka tidak memulai dari konsep perubahan iklim atau ekonomi sirkular, melainkan dari kebutuhan paling dasar: dapur yang sehat, lingkungan bersih, dan keluarga yang bertahan. Di tangan para ibu, ekologi tidak hadir sebagai jargon, tetapi sebagai praktik hidup yang berulang dan konsisten.

Lihat Juga:  Waspada! Beberapa Penyakit pada Musim Hujan

Namun, peran strategis ini jarang diakui sebagai kerja sosial yang bernilai publik. Aktivitas ekologis ibu sering dipandang sebagai perpanjangan dari kerja domestik—bukan sebagai kontribusi nyata terhadap pengelolaan kota dan lingkungan. Padahal, krisis sampah Makassar, misalnya, tidak mungkin diselesaikan hanya dengan armada angkut dan TPA. Tanpa perubahan perilaku rumah tangga—yang sebagian besar dimediasi oleh ibu—semua kebijakan hanya akan berputar di hilir.

Hari Ibu semestinya dibaca ulang sebagai peristiwa politik kultural
Menghormati ibu tidak cukup dengan seremoni. Ia harus diterjemahkan dalam pengakuan atas peran ibu sebagai subjek perubahan ekologis. Pendidikan lingkungan, dukungan kebijakan, dan ruang partisipasi publik perlu secara sadar menempatkan komunitas ibu sebagai aktor utama, bukan sekadar pelengkap program. Sebab peradaban tidak runtuh atau bertahan di gedung-gedung tinggi, melainkan di rumah-rumah sederhana. Di rumah itu, ibu adalah penjaga ritme kehidupan. Jika hari ini kita menghadapi krisis ekologis yang kian akut, mungkin karena terlalu lama mengabaikan suara dan kerja para ibu—kerja yang membentuk watak manusia sejak paling dini.

Hari Ibu, dengan demikian, bukan hanya tentang mengenang jasa personal, melainkan tentang menyadari satu hal penting: masa depan ekologi kota dan bangsa ini sangat bergantung pada sejauh mana kita menghormati, mendukung, dan belajar dari para ibu—sebagai rahim peradaban dan penggerak perubahan dari yang paling dasar.

Penulis:Mashud Azikin
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen Mashud Azikin

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU