Sekelompok warga dan mahasiswa memilih bekerja dalam senyap di tengah aroma menyengat dan lanskap keras Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Jl. AMD Borongjambu, Tamangapa, Makassar pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026. Aksi ini adalah kolaborasi antara mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan Kelurahan Biring Romang, Dewan Lingkungan Kota Makassar, Pemerintah Kelurahan, serta komunitas masyarakat sipil, melakukan penyiraman ekoenzym di parit-parit TPA Antang.
Aksi ini melibatkan Mashud Azikin, anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Lurah Kecamatan Manggala Mariyani, S.Sos., M.Si., Yayasan Pabbata Ummi (Yapta-U), Makmur, serta mahasiswa KKN-T 115 Unhas. Bagi mereka, TPA bukan sekadar tempat akhir sampah, melainkan titik awal tanggung jawab ekologis kota.

Penyiraman ekoenzym dilakukan langsung ke parit-parit yang menjadi jalur aliran air limbah TPA. Tujuannya sederhana, tetapi bermakna: menekan tingkat pencemaran air sebelum mengalir ke sungai, kolam warga, dan akhirnya bermuara ke laut.
“Dengan menyiram Ekoenzym pada sumber pencemar air, kita berharap kadar pencemaran dapat berkurang. Air yang mengalir membawa enzim ini akan bekerja secara alami,” ujar Mashud Azikin yang memimpin kegiatan tersebut.
Mashud menjelaskan, dalam prosesnya ekoenzym membantu mengubah amonia—salah satu penyumbang utama bau dan pencemaran—menjadi nitrat (NO₃), sekaligus menghasilkan hormon alami dan nutrisi yang bermanfaat bagi tanaman air dan ekosistem sekitarnya.

Sebuah pendekatan biologis yang bekerja perlahan tapi berkelanjutan
Sebelum penyiraman dimulai, Mashud memaparkan bahwa kegiatan serupa rutin dilakukan setiap Sabtu pagi sebagai bagian dari upaya konsisten, bukan aksi seremonial. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 30 Desember 2025, mahasiswa KKN-T 115 Kelurahan Biring Romang bersama Kelurahan Tamangapa juga mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) pembuatan ekoenzym.
Dalam bimtek tersebut, mereka berhasil mengolah 10,8 kilogram sampah organik rumah tangga menjadi tiga jeriken ekoenzym. Limbah dapur—yang selama ini menjadi sumber bau dan beban TPA—diolah kembali menjadi cairan bernilai guna.
Ekoenzym sendiri merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik seperti ampas buah dan sayuran, gula merah atau gula tebu, serta air. Warnanya cokelat gelap dengan aroma fermentasi asam-manis yang khas. Di banyak komunitas lingkungan, cairan ini dimanfaatkan untuk pengolahan limbah, pertanian, hingga pembersihan lingkungan.
Menurut Mashud, pengelolaan sampah organik adalah kunci utama dalam mengurangi persoalan bau dan pencemaran di TPA. “Sampah organik adalah sumber utama bau busuk. Kalau ini bisa dikelola di hulunya, beban di TPA akan jauh berkurang,” ujarnya.
Lebih jauh, Mashud menyinggung dimensi ekologis yang lebih luas. Dalam proses pembuatannya, Eco Enzyme disebut berkontribusi pada penurunan dampak gas rumah kaca. Fermentasi menghasilkan senyawa yang membantu menekan akumulasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer—gas yang berperan besar dalam menjebak panas dan mempercepat pemanasan global.
Meski skalanya masih terbatas, aksi di TPA Antang memperlihatkan satu hal penting: solusi lingkungan tidak selalu harus mahal atau berbasis teknologi tinggi. Ia bisa lahir dari dapur rumah, ruang belajar mahasiswa, dan kerja kolaboratif lintas unsur.
Di kota yang terus bergulat dengan persoalan sampah, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan ekologis kerap dimulai dari ikhtiar yang konsisten, bukan dari janji besar. Dari parit-parit TPA Antang, harapan itu mengalir perlahan—menuju sungai, laut, dan kesadaran kolektif kota.
Penulis:
Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Editor: Redaksi maupa.id
Foto dan Ilustrasi: Tim maupa.id dan Mashud Azikin

