Pemerintah telah meluncurkan kebijakan Talenta Digital dan Ekonomi Kreatif 2026. Genereasi Z (GenZ) dapat memanfaatkan kebijakan ini untuk membantu pemasaran produk digital berbasis budaya. Baca ulasannya di sini.
Indonesia memiliki Visi Indonesia Digital 2045. Pada fase 2026 ini, pemerintah sedang mempercepat transformasi digital di sektor ekonomi kreatif. Visi ini mencakup pemberian insentif bagi startup berbasis budaya dan penyediaan infrastruktur internet cepat hingga ke pelosok agar kreator daerah juga mampu go-internasional.
Pencapaian visi digital tersebut, Pemerintah Indonesia mengeluarkan tentang Talenta Digital dan Ekonomi Kreatif 2026. Secara kontekstual, Pemerintah Indonesia telah meluncurkan beberapa inisiatif kunci yang dapat diakses para GenZ tahun ini untuk memperkuat modal budaya mereka.
Selain itu, juga ada Program Garuda Spark, yaitu inisiatif yang difokuskan untuk mencetak 12 juta talenta digital di tahun 2026. Program ini memberikan pelatihan intensif pada teknologi masa depan seperti AI, Cloud, dan Cybersecurity melalui kolaborasi dengan raksasa teknologi global seperti Microsoft dan Google.

Program lainnya ada Pusat Inovasi Digital (Pusindig). Pada tahun 2025-2026, pemerintah memperluas pusat inkubasi di kota-kota kreatif untuk membantu GenZ mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara lebih mudah dan murah. Biasanya pengurusan HAKI ini sangat krusial saat menjual produk ke luar negeri.
Program penting lainnya adalah Program Beasiswa Talenta Digital (Digitalent). Program ini Digital Talent Scholarship dari Kominfo ini tetap menjadi pilar utama untuk mendapatkan sertifikasi internasional secara gratis. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tawar GenZ di pasar kerja global.
Program tersebut semestinya mendapat respon meriah dari para GenZ. Karena program tersebut membantu untuk bersaing di panggung global. Oleh karena itu, penting dilakukan aksi yang tepat, yaitu; Modernize & Monetize, Curate a Global-Ready Identity Leverage Short-Form Storytelling, Utilize Cross-Border E-commerce dan Collaborative Networking.
Strategi Modernize & Monetize menekankan bahwa jangan hanya menjual tradisi tapi, jualah solusi estetika yang relevan dengan selera global.
Berikutnya adalah strategi Curate a ‘Global-Ready’ Identity. Maksudnya, lakukan pengemasan produk budaya, seperti motif wastra, arsitektur lokal atau musik etnik dengan desain minimalis atau edgy. Gunakan platform seperti Behance atau Pinterest untuk riset tren visual global agar produk tidak terlihat “kuno”.
Strategi Leverage Short-Form Storytelling adalah strategi yang menggunakan platform seperti TikTok dan Instagram Reels dengan narasi Behind the Scenes. Ceritakan filosofi di balik produk dalam bahasa Inggris yang kasual. Audiens global, seperti di Amerika Serikat dan Eropa sangat menghargai storytelling dan transparansi proses pembuatan produk berbasis etika dan lingkungan hidup.
Sementara maksud dari strategi Utilize Cross-Border E-commerce: adalah jangan hanya mengandalkan pasar lokal. Gunakan platform seperti Etsy untuk kerajinan tangan unik, atau Shopify yang terintegrasi dengan iklan media sosial untuk menjangkau pembeli internasional secara langsung.
Ingat, ada pula strategi Collaborative Networking. Maksudnya adalag silahkan cari mitra kolaborasi di luar negeri melalui komunitas Discord atau grup profesional LinkedIn. Misalnya, musisi lokal berkolaborasi dengan produser luar negeri untuk menciptakan genre Global-Ethnic.
Nah, begitulah. GenZ secara khusus dan masyarakat luas dapat memanfaatkan kebijakan digital pemerintah ini untuk bersaing di arena global. Ingat, selalu berpikir kreatif dan berbeda dari yang umum saja.
Penulis: Syamsuddin Simmau (dari berbagai sumber)
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: Tim Kreatif maupa.id

