Sulawesi Selatan memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan baru di tengah arus perubahan global menuju ekonomi hijau. Bukan dari pabrik besar atau teknologi tinggi, melainkan dari botol-botol sederhana berisi cairan berwarna cokelat jernih: ecoenzym. Gerakan ini menemukan momentum strategis ketika Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan Workshop Ecoenzym dan Produk Turunannya di Hotel Mercure Makassar, 15 Nopember 2025.Kkegiatan yang merupakan bagian dari acara bertajuk Kegiatan UMKM Fiesta 2025 “Upgrading UMKM Through Digitalization & Sustainability Approach” adalah sebuah pertemuan yang tidak sekadar berbagi ilmu tetapi membuka jalan bagi kebangkitan UMKM berbasis ekologi.

Ecoenzym selama ini dikenal sebagai cairan hasil fermentasi limbah organik, terutama kulit buah, gula, dan air, yang mampu menjadi agen pembersih alami, pengendali bau, penyubur tanah, hingga bahan dasar produk kesehatan. Namun, di tangan pelaku UMKM yang kreatif, ecoenzym berubah menjadi peluang ekonomi: sabun organik, cairan pel lantai tanpa bahan kimia sintetis, pembersih dapur ramah lingkungan, bahkan produk kecantikan herbal. Inilah yang membuat ecoenzym bukan hanya sekadar gerakan lingkungan, melainkan fondasi industri kreatif berbasis hijau.
Workshop yang digelar di Hotel Mercure Makassar tersebut menjadi ruang pembelajaran lintas generasi. Para penggerak komunitas ecoenzym, aktivis lingkungan, perajin UMKM, hingga aparatur pemerintah duduk setara di ruangan yang sama. Bukan hanya mempelajari cara membuat ecoenzym, tetapi juga strategi mengembangkan produk turunan yang bernilai jual tinggi—branding, kemasan, perizinan PIRT hingga peluang e-commerce.

Dinas Koperasi dan UKM Sulawesi Selatan memainkan peran krusial. Mereka memahami bahwa UMKM masa depan tidak cukup hanya kuat secara produksi tetapi harus adaptif terhadap isu global, sebagai salah satunya kesadaran lingkungan. Dengan mengusung ecoenzym sebagai basis inovasi, pemerintah sesungguhnya sedang mendorong lahirnya model green economy berbasis kerakyatan. UMKM tidak hanya menjadi penjual barang, tetapi pelopor gaya hidup baru.
Lebih jauh, ecoenzym memecahkan dua persoalan sekaligus; sampah dan ekonomi. Di satu sisi, ia menawarkan solusi pengolahan limbah organik agar tidak mencemari lingkungan. Di sisi lain, ia memberikan peluang usaha yang murah, mudah, dan dapat dikerjakan dari rumah, bahkan oleh ibu rumah tangga di kampung atau lorong kota. Di Makassar, gerakan ini telah menyentuh komunitas bank sampah, koperasi perempuan, hingga kelompok tani dan karang taruna. Produk-produk berbasis ecoenzym kini mulai tampil di pameran UMKM, marketplace, dan etalase hotel ramah lingkungan.
Namun kebangkitan ini tidak terjadi otomatis. Perlu ekosistem pendukung: akses pelatihan berkelanjutan, sertifikasi produk, standar kualitas produksi, hingga dukungan pemasaran seperti marketplace lokal dan etalase digital UMKM Sulsel. Workshop yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Sulsel ini adalah langkah awal. Setelahnya, akan lahir pertanyaan strategis: siapa yang akan memproduksi dalam skala besar? Bagaimana memastikan kualitasnya seragam? Bagaimana peran koperasi dalam rantai produksi ecoenzym?
Di sinilah pentingnya kolaborasi multipihak; pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, pelaku UMKM sebagai produsen inovasi, komunitas sebagai motor edukasi, dan masyarakat sebagai konsumen sadar lingkungan. Jika semua bergerak serempak, ecoenzym tidak hanya menjadi cairan fermentasi, melainkan simbol ekonomi baru berbasis kebaikan ekologis.
Makassar dan Sulawesi Selatan punya modal sosial yang hebat; gotong royong, keuletan, dan jaringan komunitas yang hidup. Bila modal itu dipertemukan dengan inovasi hijau seperti ecoenzym, maka kebangkitan UMKM bukan hanya mimpi, tetapi keniscayaan. Dari workshop di Hotel Mercure Makassar, sebuah gelombang ekonomi baru sedang lahir—tenang, namun pasti bergerak, seperti ecoenzym yang bekerja dalam senyap namun mampu menjernihkan kembali bumi.
Kini tinggal satu pertanyaan tersisa, “Apakah kita siap menjadi bagian dari gelombang kebangkitan ekonomi hijau itu, mulai dari satu botol ecoenzym di dapur rumah kita?”(*)
Penulis: Mashud Azikin, Pegiat Ecoenzym dan aktifis lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen Mashud Azikin

