Ekologi, Dakwah Lingkungan yang Jarang Terdengar di Masjid

Tema ekologi dipandang jarang terdengar di mimbar dakwa umat Islam. Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Maros, Abustan Djunaidi, membicang isu ini. Baca ulasannya di sini.

Masjid sebagai pusat kehidupan spiritual dan sosial umat Islam seringkali menjadi tempat untuk menyampaikan pesan tentang akidah, ibadah, dan hubungan antarmanusia. Namun, pesan tentang perlindungan lingkungan atau ekologi masih jarang terdengar dalam khutbah atau kegiatan dakwah di masjid. Padahal, ajaran Islam memiliki dasar yang kuat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam semesta yang diciptakan Allah SWT.

Dakwah Ekologi Jarang Terdengar di Mimbar Dakwah

Dasar Ajaran Islam tentang Lingkungan
Al-Qur’an dan Hadis banyak menyebutkan pentingnya menjaga alam. QS Al-A’raf ayat 56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” ayat tersebut secara tegas melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, mengajak berdoa dengan rasa takut dan harap, karena rahmat Allah dekat bagi orang yang berbuat baik, mencakup kerusakan lingkungan dan moral. Ayat ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan, termasuk mencegah pencemaran, penebangan liar, dan kerusakan akhlak, serta memanfaatkan alam untuk kesejahteraan.

Abustan Djunaidi, Ketua PC GP Ansor Maros

Ajaran Islam, melalui hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, sangat menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan tidak menyia-nyiakan sumber daya alam. Prinsip-prinsip ini mencakup berbagai aspek konservasi dan etika lingkungan. Beberapa poin utama mengenai ajaran tersebut: Larangan Merusak Lingkungan saat Perang: Salah satu contoh paling tegas adalah instruksi Nabi SAW kepada pasukan Muslim, bahkan saat berperang, untuk tidak memotong pohon buah-buahan, membakar kebun kurma, atau membunuh ternak tanpa kebutuhan yang sah. Hal ini menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap sumber daya alam, bahkan dalam situasi konflik.

Menjaga Kebersihan
Banyak hadis menekankan kebersihan sebagai bagian dari iman (“An-nazhafatu minal iman”). Ini berlaku tidak hanya untuk kebersihan pribadi, tetapi juga kebersihan jalan, tempat umum, dan sumber air, yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan lingkungan dan masyarakat. Penanaman Pohon (Penghijauan): Nabi SAW mendorong umatnya untuk menanam pohon, menyatakan bahwa setiap tanaman yang ditanam dan dimanfaatkan oleh makhluk hidup akan menjadi sedekah (pahala) bagi penanamnya. Hal ini secara aktif mempromosikan penghijauan dan kelestarian alam. Penggunaan Air Secara Efisien: Terdapat larangan untuk berlebihan dalam menggunakan air, bahkan saat berwudu (bersuci) di sungai yang mengalir sekalipun. Ini mengajarkan prinsip konservasi air dan penggunaan sumber daya secara bijak. Secara keseluruhan, ajaran Islam melalui hadis Nabi Muhammad SAW menyediakan kerangka etika lingkungan yang komprehensif, menginstruksikan umatnya untuk menjadi penjaga (khalifah) yang bertanggung jawab atas bumi dan sumber dayanya.

Lihat Juga:  Rektor Unhas: FKM Garda Terdepan Jaga Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan

Mengapa Dakwah Lingkungan Jarang Terdengar di Masjid?
Salah satu penyebab utama adalah fokus dakwah yang lebih condong ke masalah ibadah ritual dan sosial seperti kemiskinan, persatuan, dan akhlak individu. Banyak orang menganggap isu lingkungan sebagai urusan ilmu pengetahuan atau pemerintah, bukan bagian dari ajaran agama. Selain itu, kurangnya pemahaman dari sebagian ulama dan pengurus masjid tentang hubungan antara ajaran Islam dan ekologi juga membuat pesan ini jarang disampaikan. Kurangnya fasilitas atau program yang mendukung gerakan lingkungan di sekitar masjid juga menjadi penghalang.

Langkah untuk Mengintegrasikan Dakwah Lingkungan di Masjid
Pertama, ulama dan pembicara dakwah perlu meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam terkait lingkungan dan menyematkannya dalam khutbah atau kajian rutin. Kedua, masjid dapat menjadi contoh nyata dengan menerapkan praktik ramah lingkungan, seperti mengelola sampah secara baik, menggunakan energi terbarukan, menanam pohon di sekitar kompleks masjid, dan menyediakan fasilitas untuk pengelolaan air hujan dan air wudhu untuk digunakan dalam pengairan sawah serta kebun wakaf di sekitar masjid. Ketiga, mengadakan kegiatan khusus seperti lokakarya tentang pertanian organik, konservasi sumber daya air, atau kampanye penghijauan yang melibatkan jamaah.

Dampak Positif Dakwah Lingkungan di Masjid
Ketika masjid mulai menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan, hal ini akan meningkatkan kesadaran umat Islam bahwa perlindungan alam adalah bagian dari ibadah. Jamaah akan lebih termotivasi untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan di rumah dan komunitas mereka. Selain itu, hal ini juga dapat menjadi jembatan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi lingkungan, dalam mengatasi masalah ekologi yang semakin mendesak di Indonesia.

Penulis: Abustan Djunaidi
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: Tim IT maupa.id

Lihat Juga:  Deep Learning: Literasi, Keunggulan dan Kelemahan

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU