Konversi Modal Non Ekonomi Mampu Atasi Pengangguran

Penting melakukan konversi modal non-ekonomi untuk atasi fenomena pengangguran di Indonesia

Jumlah pengangguran di Indonesia sekitar 7,46 juta orang. Angka resmi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 ini menunjukkan bahwa jumlah orang tidak bekerja di Indonesia lebih banyak dari jumlah penduduk Finlandia yang berjumlah sekitar 5.623.329 jiwa menurut Worldometer tahun 2025. Karena itu, penting melakukan konversi modal non ekonomi untuk mengatasi fenomena ini.

Penting diingat bahwa Finlandia dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia selama delapan tahun berturut-turut, dari 2018–2025 menurut World Happiness Report. Bayangkan, bagaimana jika seluruh pengangguran di Indonesia dikirim ke Finlandia.

Angka pengangguran Indonesia yang tinggi ini adalah realitas ironis dari kelimpahan potensi sumber daya alam Indonesia. Ada apa sebenarnya? Jawabannya, penduduk di Indonesia, terutama GenZ belum berhasil mengkoversi modal nonekonomi secara maksimal. Pernyataan ini merupakan hipotesis yang patut dipertimbangkan sebagai solusi untuk mengurai fenomena pengangguran.

Modal Sosial juga dapat dikonversi menjadi uang menurut Bourdieu

Berdasarkan perspektif sosiologi, modal tidak hanya dipahami sebagai aset finansial melainkan sebagai seluruh sumber daya yang dapat digunakan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan, memperoleh kekuasaan atau meningkatkan posisi sosial.

Baik, mari dicermati pikiran Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu (Baca buku The Forms of Capital, 1986) tentang jenis-jenis modal. Menurut Bourdieu, setidaknya terdapat empat jenis modal, yaitu; modal ekonomi (economic capital), budaya (cultural capital), sosial (social capital) dan simbolik (symbolic capital).

Economic capital bersumber dari aset material yang dapat langsung dikonversi menjadi uang, seperti; pendapatan, kepemilikan properti dan warisan finansial. Cultural capital bersumber dari pengetahuan, keterampilan, pendidikan dan selera. Modal ini dibagi dalam tiga bentuk, yaitu; modal material adalah modal yang terbentuk melalui perilaku, cara bicara dan pola pikir. Bentuk kedua adalah modal objektif yaitu modal budaya yang tercipta melalui kepemilikan barang budaya seperti buku, alat musik atau karya seni. Ketiga adalah bentuk institusional, yaitu modal budaya yang terbentuk melalui gelar akademik atau sertifikasi resmi.

Lihat Juga:  Nemo Marine Akuarium, Pengrajin Akuarium Asal Parepare Punya Pasar Nasional

Sementara social capital adalah modal yang bersumber dari jaringan hubungan atau network, rasa saling percaya (trust), norma dan keanggotaan dalam kelompok yang memberikan dukungan kolektif.

Modal Simbolik juga dapat dikonversi menjadi modal lain menurut Bourdieu

Bentuk modal lainnya adalah symbolic capital, yaitu modal yang bersumber dari reputasi, gengsi atau kehormatan yang diakui secara luas oleh masyarakat.

Bourdieu berpendapat bahwa seluruh modal tersebut dapat dikonversi satu dengan lainnya. Satu bentuk modal dapat diubah menjadi bentuk lain. Misalnya, modal ekonomi atau uang digunakan untuk mendapatkan modal budaya (pendidikan tinggi). Sebaliknya, modal budaya, sosial dan simbolik dapat dikonversi untuk mendapatkan uang. Menariknya, modal tersebut secara akumulatif cenderung menumpuk dari waktu ke waktu dan memberikan keuntungan lebih besar bagi mereka yang sudah memilikinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, para pencara kerja, terutama GenZ, penting mengidentifikasi potensi masing-masing modal yang dimiliki. Modal tersebut kemudian dikonversi menjadi instrumen untuk membuka pekerjaan baru. Mungkin memang tidak mudah mengidentifikasi modal yang dimiliki tapi usaha keras, pantang menyerah, bertanya atau berguru ke banyak sumber adalah jalan emas mencapai harapan.

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: Tim kreatif maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU