Ngeri! Ekosida, Menuju Kehancuran Total

Bumi kembali berguncang. Amerika dan Israel menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa keluarga beliau gugur dalam serangan itu. Tentu saja, Iran murka. Iran segera membalas.

Bumi kembali berguncang. Amerika dan Israel menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa keluarga beliau gugur dalam serangan itu. Tentu saja, Iran murka. Iran segera membalas. Sementara di Gaza, Palestina, Israel juga masih melancarkan serangan. Di belahan bumi lainnya, Ukraina masih menahan gempuran Rusia. Inilah keberlanjutan fase ekosida, realitas menuju kehancuran total. Semua perang ini menyebut nama Amerika dan Israel.

Baik. Kita tidak membahas perang. Kita sedang membicarakan arah kehancuran total bumi dan ummat manusia berdasarkan analisis sosiologi lingkungan. Perang adalah wujud nyata ekosida, suatu konsep, pertama kali dikemukakan seorang ahli biologi dari Universitas Yale bernama Arthur Galston. Ia menggunakan istilah ini dalam konferensi War Crimes and the American Conscience di Washington D.C. pada tahun 1970.

Ekosida, Jalan Kehancuran Total

Ekosida (ecocide) adalah penghancuran lingkungan hidup secara masif, meluas, dan permanen yang dilakukan dengan kesadaran terhadap segala konsekuensinya. Jadi, ekosida adalah tindakan penghancuran alam secara sadar. Istilah ini berasal dari gabungan kata bahasa Yunani, oikos (rumah/rumah tangga) dan bahasa Latin caedere (membunuh).

Pemikir dan pengacara dari Inggris, Polly Higgins, pada tahun 2010, dalam buku berjudul Eradicating Ecocide: Laws and Governance to Prevent the Destruction of Our Planet, (2010), membahas ekosida dalam konteks hukum. Higgins adalah tokoh yang secara resmi mengajukan proposal kepada Komisi Hukum PBB untuk mengakui ekosida sebagai Crime Against Peace (kejahatan terhadap Perdamaian).

Bagaimana sosiologi lingkungan memandang ekosida ini? Oerasi militer Israel di Gaza sejak 2023–2025, saja adalah bentuk nyata dari fenomena ekosida. Kerusakan lingkungan yang masif dan sistematis menjadi alat sekaligus dampak perang. Perang ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur sosial, tetapi juga merusak ekosistem secara permanen, yang menciptakan krisis kesehatan masyarakat dan ketidakstabilan sosial jangka panjang.

Lihat Juga:  Berhasil! Greenhouse Sayuran di Ulusalu Sudah Panen, MDA Beli Langsung Produksinya

Konflik Israel menyerang Gaza dicirikan oleh tingkat kerusakan ekologis yang melampaui konflik-konflik sebelumnya. Sehingga dikategorikan sebagai ekosida karena adanya unsur penghancuran sistematis terhadap lingkungan hidup. Berdasarkan data, hingga akhir 2025, akibat serangan Israel di Gaza, terjadi kehancuran vegetasi 97% tanaman pohon, 95% semak belukar, dan 82% tanaman tahunan. Hal ini melumpuhkan sektor pertanian dan produksi pangan skala besar.

Sementara kerusakan akibat pencemaran tanah dan air juga terjadi secara massif.  Operasi militer menyebabkan kontaminasi tanah dengan logam berat, amunisi yang tidak meledak, dan limbah berbahaya. Sistem sanitasi yang hancur mengakibatkan pembuangan limbah cair mentah ke laut dan daratan, yang mengancam kualitas air tanah dan meningkatkan risiko penyakit menular seperti polio.

Kehancuran konstruksi diperkirakan lebih dari 61 juta ton puing hingga pertengahan 2025. Jumlah ini jauh melebihi total gundukan puing konstruksi dari semua konflik di Gaza sejak 2008.

Perang yang terjadi secara massif saat ini tidak hanya berdampak pada wilayah perang saja tapi berdampak secara global. Perang telah menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca dan jejak karbon yang jauh melampaui ambang batas. Jejak karbon militer berupa emisi dari rudal dan operasi militer selama 60 hari pertama saja diperkirakan mencapai 280. 000 ton CO2, setara dengan emisi tahunan 20 negara paling rentan di dunia.

Pembangun kembali sekitar 100.000 bangunan yang rusak di Gaza saja, diprediksi menghasilkan setidaknya 30 juta metrik ton gas rumah kaca. Jumlah ini setara dengan emisi tahunan negara-negara seperti Selandia Baru atau Lebanon.

Berdasarkan analisis sosiologi lingkungan, penting dibincangkan relasi antara militerisme dan ketidakadilanlLingkungan. Perang mencerminkan konflik antara kepentingan militeristik dengan keberlanjutan lingkungan. Dalam kasus Gaza, beberapa analisis memandang perang di Gaza sebagai perang dukungan Amerika dan Barat.yang mengekspos kontradiksi antara nilai-nilai liberal universal, hak asasi manusia, dengan praktik militer yang destruktif.

Lihat Juga:  HCH Balontum Tunggal BPC HIPMI Parepare

Warga Gaza mengalami ketidakadilan lingkungan. Mereka terpaksa hidup di pengungsian yang dikelilingi tumpukan sampah dan limbah akibat blokade militer yang menghambat pengelolaan limbah dan akses ke sumber daya bersih.

Marginalisasi Isu Lingkungan: Dalam arena perang, kerusakan lingkungan menciptakan waisan beracun yang berdampak pada kesehatan dan mata pencaharian generasi mendatang dalam jangka panjang. Kerusakan lingkungan memicu kehancuran struktur sosial dan ekonomi. Akibatnyam dunia mengalami krisis keamanan pangan. Penghancuran lahan pertanian dan pohon zaitun secara sistematis mengancam ketahanan pangan jangka panjang.Blokade Israel dan kerusakan infrastruktur meningkatkan tingkat pengangguran dari 22% menjadi 52%, yang memperlebar jurang kemiskinan dari 14% menjadi 20%.

Masihkah kita mampu tersenyum memandang jalan menuju kehancuran total ini? Sungguh, ekosida adalah bentuk genosida terhadap alam.

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: Tim Kreatif maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU