Bumi untuk Tujuh Generasi, Bukan Tujuh Orang Serakah

Pandangan, Mashud Azikin, seorang pegiat literasi lingkungan dan ekoenzim di Makassar mengemukakan pandangan tentang keberlanjutan kehidupan di bumi. Tulisan ini merespon berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Kutipan Mahatma Gandhi kembali bergema dengan nada yang lebih pilu hari-hari ini: “Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, tetapi tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang yang serakah.” Kata-kata itu terasa seperti cermin pecah yang memantulkan kembali wajah kita—bangsa yang sedang menyaksikan rangkaian bencana alam menghantam Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh. Tanah yang tergerus, bukit yang runtuh, sungai yang meluap, dan rumah yang hanyut bukan hanya tanda bahwa alam sedang murka, tetapi bahwa batas kesanggupan Bumi semakin dekat.

Mashud Azikin, pegiat literasi lingkungan

Bencana yang menyapu Sumatera bukan semata-mata musibah alamiah. Ia adalah potret retak hubungan manusia dengan lingkungannya. Saat hujan deras mengguyur, tanah yang kehilangan pegangannya tidak lagi mampu menyerap air. Hutan yang dipangkas hilang fungsi menahannya. Sungai yang menyempit oleh sampah dan sedimentasi kehilangan kemampuannya mengalirkan kehidupan. Alam sebenarnya memberi ruang untuk hidup tujuh generasi ke depan—butuh waktu ratusan tahun membentuk hutan, membangun tanah subur, dan menata ekosistem. Namun manusia merusaknya hanya dalam hitungan dekade.

Keserakahan yang Menjadi Sistem
Gandhi berbicara tentang tujuh orang serakah. Hari ini, kita menyaksikan bagaimana keserakahan itu telah menjadi sistem: pembukaan hutan tanpa kendali, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lahan, ekspansi permukiman di daerah rawan, serta budaya konsumsi yang memaksa alam bekerja di luar batas kemampuannya.

Di banyak daerah Sumatera, bencana bukan hanya soal curah hujan ekstrem, tetapi tentang bagaimana manusia memutuskan bahwa bukit boleh digunduli, hutan boleh dipangkas, dan sungai boleh diperlakukan sebagai saluran limbah. Alam memberi tanda-tanda kelelahan bertahun-tahun, tetapi kita menunda memperbaiki diri. Keserakahan bukan lagi tindakan individu—ia berubah menjadi cara hidup.

Ketika Bencana Menjadi Pengingat
Duka di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh hari ini adalah duka ekologis yang mengajarkan ulang kepada kita bahwa Bumi tidak membalas dendam; ia hanya menyeimbangkan kembali dirinya. Banjir bandang yang menyapu rumah, longsor yang memutus jalan, dan hilangnya nyawa adalah harga paling mahal dari sikap manusia yang terus mengambil tanpa mengembalikan.

Lihat Juga:  Waspada! Beberapa Penyakit pada Musim Hujan
Ilustrasi Penghancuran Hutan

Kita berkabung, tetapi kita juga harus jujur. Bencana ini adalah laporan langsung dari alam terhadap perilaku kita. Setiap rumah yang hanyut adalah penanda hilangnya penopang alam di hulu. Setiap tanah yang runtuh adalah tanda bahwa akar-akar yang seharusnya memegangnya sudah tiada. Setiap sungai yang meluap adalah bukti bahwa ruang hidupnya telah dipersempit.

Belajar dari Komunitas yang Bertahan
Namun di tengah duka, kita melihat secercah harapan dari komunitas lokal yang berusaha mengembalikan adab ekologis. Kelompok masyarakat di banyak desa mulai menata kembali hutan larangan, memperbaiki aliran sungai, memetakan daerah rawan bencana, hingga menghidupkan kembali budaya gotong royong dalam menjaga lingkungan.

Di kota-kota besar, gerakan pengurangan sampah, pengolahan limbah rumah tangga, pembuatan ecoenzym, dan pemulihan bantaran sungai mulai menjadi kesadaran baru. Langkah kecil, tetapi mampu menyentuh akar persoalan: mengembalikan keseimbangan antara mengambil dan menjaga.

Kita seolah diajak memahami bahwa bencana bisa diperlambat, bahkan dicegah, ketika manusia belajar untuk tidak selalu ingin lebih.

Adab terhadap Alam
Kata “adab” sering kita kaitkan dengan hubungan antarmanusia, tetapi sebenarnya adab tertinggi adalah adab terhadap alam; mengambil secukupnya, tidak merusak lebih dari yang diperlukan, dan mengembalikan sesuatu untuk masa depan.

Bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera, adab ekologis bukan lagi wacana—ia menjadi kebutuhan hidup. Mereka yang kehilangan rumah mengerti betapa mahalnya harga sebuah pohon yang ditebang. Mereka yang kehilangan keluarga memahami betapa berharganya satu bukit yang tetap tegak.

Penulis: Mashud Azikin. Pegiat Literasi Lingkungan dan Ekoenzim
Editor: Redaksi Maupa.id
Foto: Dok. Mashud Azikin

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU