Dunia sedang berada dalam situasi yang sangat genting. Sampai hari ini, Jumat, 6 Maret 2026, perhatian global tertuju sepenuhnya pada eskalasi konflik yang meledak di Asia Barat (negara Barat menyebut, Timur Tengah,red). Konflik ini memicu guncangan hebat baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi terhadap Indonesia dan dunia.
Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 19% hanya dalam sepekan terakhir. Kondisi ini melumpuhkan jalur suplai global. Sebagai respons terhadap ketidakpastian ini, Amerika Serikat menunjukkan taringnya dengan melakukan uji coba rudal balistik antarbenua Minuteman III.

Sebagai langkah penyelamatan, menurut alasan pemerintah, Indonesia mulai mengambil kebijakan strategis dengan merencanakan diversifikasi impor minyak mentah dari Asia Barat ke Amerika Serikat untuk memutus ketergantungan pada wilayah konflik. Optimisme tipis tetap terjaga karena penerimaan pajak yang kuat hingga Februari 2026—mencapai 30% dari target—diharapkan mampu menjadi bantalan terakhir untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah situasi dunia yang kian tak menentu.
Di sektor energi, harga minyak dunia meroket hingga menyentuh angka USD 83 per barel. Realitas ini menjadi alarm keras bagi kesehatan anggaran negara. Dengan perhitungan bahwa setiap kenaikan satu dolar harga minyak dapat membebani APBN sekitar Rp 500 miliar. Beban subsidi energi kini membengkak secara drastis.
Meski Kementerian Keuangan memberikan sinyal bahwa APBN masih cukup tangguh untuk menahan beban tersebut, para pengamat mulai mewaspadai kemungkinan kenaikan harga BBM nonsubsidi pada awal April mendatang. Untuk saat ini, pemerintah mencoba menenangkan publik dengan memastikan bahwa stok BBM nasional masih mencukupi untuk kebutuhan 20 hari ke depan.
Sektor keuangan pun tak luput dari badai. Ketidakpastian geopolitik global telah mendorong investor mengamankan aset mereka ke mata uang dolar AS, yang secara otomatis memukul posisi Rupiah. Mata uang Garuda kini dibayangi risiko pelemahan hingga menembus level psikologis Rp 17.700 per dolar AS. Sentimen negatif ini merambat ke bursa saham, di mana IHSG sempat terkoreksi ke level 8.106 akibat aksi jual masif oleh para investor yang khawatir akan dampak panjang konflik ini.
Lebih jauh lagi, ancaman penutupan Selat Hormuz telah mengganggu urat nadi logistik dunia. Hal ini memicu risiko imported inflation, di mana biaya barang impor dan pangan berpotensi melonjak akibat tingginya biaya distribusi. Pemerintah kini bekerja ekstra keras menjaga daya beli masyarakat dengan memastikan stok pangan nasional tetap aman di tengah ancaman kenaikan harga barang.
Ancang-ancang pemerintahh Indonesia mengimpor minyak dari Amerika Serikat, lagi-lagi, menunjukkan bahwa Indonesia di bawah tekanan Amerika Serikat. Semuanya, hanya menguntungkan Amerika Serikat. (*)
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi Maupa.id
Ilustrasi: Tim Kreatif Maupa.id

