Mengkhawatirkan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang. Terdapat sekitar 5,55 juta orang berusia 15-44 tahun menganggur. Khusus Generasi Z (GenZ) berusia 15-24 tahun yang menganggur sekitar 3,55 – 3,65 juta orang. Sementara jumlah orang yang sama sekali tidak bekerja (pengangguran terbuka) sebanyak 361.810 orang. Ada pula sekitar 221.312 orang berusia 25-59 tahun tidak bekerja.
Mari bandingkan jumlah pengangguran Indonesia dengan jumlah penduduk Singapura. Jumlah penggangguran Indonesia 7,46 juta orang, penduduk Singapura sekitar 6,11 juta orang pada tahun 2025. Padahal, Singapura adalah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di negara-negara Asia Tenggara berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB).
Data BPS per Februari tahun 2025 mencatat bahwa berdasarkan kelompok usia, per Februari 2025), usia 15-24 Tahun (Gen Z/Muda sekitar 3,55 – 3,65 juta orang; usia 25-34 tahun sekitar 1,9 juta orang; usia 25-59 tahun sekitar 221.312 orang dan usia 60 tahun lebih sekitar 121.576 orang.
Jumlah pengangguran GenZ Indonesia merupakan yang tertinggi di negera-negera Asia Tenggara (ASEAN). Realitas ini menunjukkan bahwa terdapat tantangan di sektor industri yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja sepanjang tahun 2025.

Mengapa persoalan pengangguran ini “wajib” menjadi perhatian? Karena, realitas ini berdampak secara signifikan terhadap stabilitas sosial, ekonomi, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan bahkan ketahanan negara.
Analisis sosial menunjukkan bahwa dampak sosial dari tingginya angka pengangguran suatu negara berkorelasi dengan meningkatnya angka kejahatan, misalnya pencurian, perampokan dan tindak kejahatan lainnya akibat desakan kebutuhan ekonomi atau rasa frustrasi. Selain itu, ketimpangan sosial juga semakin melebar yang berdampak terhadap kecemburuan sosial dan konflik di masyarakat.
Secara politik, tingginya angka pengangguran berpengaruh terhadap ketidakstabilan politik karena asyarakat tidak puas dengan kondisi ekonomi. Akibatnya, rendahnya kepercayaan masyarakat ini terhadap pemerintahan berpotensi memicu demonstrasi besar sehingga dapat memicu terjadi kekacauan politik.

Pengguran secara individu berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia. Penurunan keterampilan atau skill atrophy terjadi pada setiap individu yang menganggur. Pengangguran jangka panjang dapat menyebabkan tenaga kerja kehilangan keahlian teknis mereka karena tidak diasah. Kondisi ini makin sulit bagi tenaga kerja untuk kembali produktif di masa depan.
Secara psikologis, kondisi menganggur dapat menyebabkan masalah kesehatan mental. Pengangguran kronis dapat meningkatkan risiko stres, depresi, kehilangan rasa percaya diri sampai pada potensi keretakan hubungan keluarga. Tanpa penghasilan, individu kesulitan terhadap akses pendidikan dan kesehatan yang layak. Situasi ini menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus bagi generasi berikutnya.
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Foto/Ilustrasi: Tim kreatif maupa.id

