Autokuratorial Lukisan Bayang-bayang yang Memutih

Seniman Asman Djasmin memahat kepedihan di atas kanvas. Lukisannya yang berjudul Bayang-Bayang yang Memutih adalah monumen kehilangan yang abadi. Mari dicermati dengan memasuki pintu makna yang terpahat dalam di karya ini.

Seniman Asman Djasmin memahat kepedihan di atas kanvas. Lukisannya yang berjudul Bayang-Bayang yang Memutih adalah monumen kehilangan yang abadi. Mari dicermati dengan memasuki pintu makna yang terpahat dalam di karya ini. Karya ini jelas menarik, unik, karena memasuki salah satu sisi terdalam jiwa manusia, yaitu kepedihan dan kehilangan. Jelas, ini adalah sebuah monument cinta abadi.

Secara detail, lukisan ini berjudul “Bayang-bayang Yang Memutih”, dilukis oleh Asman Djasmin, ukuran lukisan adalah 50 cm x 60 cm, tahun pembuatan lukisan terbilang lama-dimulai tahun 2025 sampai rampung tahun 2026. Media lukisan ini adalah akrilik dan relief lem lilin di atas kanvas.

Judul: Bayang-bayang Yang Memutih, pelukis Asman Djasmin, ukuran: 50 cm x 60 cm, tahun 2025 sampai rampung tahun 2026 dan media: akrilik dan relief lem lilin di atas kanvas.

Prolog Kuratorial
Di atas kanvas ini, waktu tidak berjalan maju tetapi berhenti, membeku, dan mengeras. Asman Djasmin tidak sedang melukis sebuah potret wajah, melainkan sedang memahat sebuah kehilangan, dalam semesta visual Asman Djasmin, memori bukanlah sesuatu yang abstrak dan melayang di udara. Memori adalah benda fisik; imemiliki berat, memiliki tekstur, dan meninggalkan bekas luka. Melalui karya Bayang-bayang Yang Memutih, Asman mengajak kita menelusuri sebuah lanskap psikologis yang gelap, di mana pertarungan antara “mengingat” dan “melupakan” terjadi secara brutal di atas kanvas. Karya ini merupakan manifestasi kuat dari semangat Anti-Estetika. Alih-alih membuai mata dengan gradasi warna yang halus atau realisme yang memanjakan, Asman memilih jalan yang terjal: menggunakan lelehan lem lilin (hot glue)—material domestik yang mentah—untuk membangun seluruh narasi visualnya.

 Material Sebagai Pesan: Estetika Lem Lilin
Pilihan medium dalam lukisan ini bukanlah kebetulan. Penggunaan lem lilin untuk membentuk relief (tekstur timbul) pada batang pohon dan garis wajah sang gadis adalah sebuah pernyataan artistik. Lem lilin, yang sifatnya mengeras dengan cepat dan seringkali tak beraturan, merepresentasikan bagaimana ingatan bekerja. Ingatan tidak selalu rapi, seperti menggumpal, meleleh, dan mengeras menjadi bentuk-bentuk yang tak terduga. Garis-garis putih yang membentuk wajah gadis tersebut tidak hadir sebagai goresan kuas yang indah. Mereka hadir sebagai parut (scar) yang mencuat dari permukaan kanvas hitam. Kita tidak hanya melihat wajah itu; kita seolah bisa meraba keberadaannya yang timbul, menegaskan bahwa meski sosoknya telah tiada, jejaknya menolak untuk rata dengan tanah.

Lihat Juga:  Steya Coffee, Tempat Seni Rupa dan Ngopi Menyatu
Asman Djasmin, Seniman

Dialog Visual: Alam Vs Bayangan
Komposisi karya ini membagi dunia menjadi dua entitas yang kontras namun saling terikat: 1. Sang Pohon (Keabadian Alam): Di sisi kiri, sebuah pohon berdiri kokoh dengan tekstur kulit kayu yang agresif dan dedaunan hijau yang menyala. Pohon ini adalah simbol dari waktu yang terus berjalan, kehidupan yang terus tumbuh, dan alam yang menjadi saksi bisu yang berwarna, bervolume, dan “hidup”. 2. Sang Gadis (Kefanaan Manusia): Di sisi kanan, di bawah naungan pohon tersebut, hadir sosok gadis setengah badan. Berbeda dengan pohon yang “hidup”, gadis ini digambarkan dalam monokrom: hanya garis putih di atas hitam. Judul “Memutih” di sini menjadi kunci bahwa tidak sedang bersinar; tetapi sedang mengalami proses pengapuran, dan berubah menjadi fosil ingatan. Matanya yang terpejam menyiratkan kepasrahan—bukan tidur yang tenang, melainkan sebuah penerimaan bahwa dirinya perlahan sedang terhapus dari realitas fisik.

 Bedah Puisi: Suara dari Kedalaman
Elemen teks berwarna hijau yang digoreskan secara liar di bagian bawah kanvas bukanlah sekadar keterangan, melainkan “jantung” dari karya ini. Mari kita bedah lapis demi lapis:

“Separuh dirimu telah dicuri waktu”

Baris ini adalah penjelasan literal sekaligus metaforis dari visual “setengah badan” sang gadis. Waktu adalah pencuri yang paling sabar, mengambil sedikit demi sedikit—mulai dari aroma, suara, sentuhan, hingga akhirnya separuh eksistensi seseorang hilang dari ingatan kita. Yang tersisa di kanvas hanyalah bagian atas, sementara kakinya telah larut dalam kelam.

“Hanya garis putih yang gemetar”

Kata “gemetar” di sini berkorelasi langsung dengan teknik lem lilin yang digunakan. Garis garis yang dihasilkan oleh lem panas tidaklah lurus sempurna; ada getaran tangan seniman di sana, ada ketidaksempurnaan, ada kerapuhan. “Garis putih” itu adalah satu-satunya pertahanan terakhir identitas sang gadis sebelum benar-benar lenyap ditelan latar hitam.

Lihat Juga:  Dompet Dhuafa Sulsel Adakan Kelas Budaya Bertutur Lestarikan Tradisi Tutur Di Sulawesi Selatan

“Menahan lupa”

Inilah inti dari perlawanan sang seniman. Lukisan ini dibuat bukan untuk merayakan keindahan, melainkan sebagai upaya putus asa untuk menahan lupa. Seni, dalam konteks ini, berfungsi sebagai pasak agar ingatan yang “gemetar” itu tidak runtuh sepenuhnya.

Warna hijau pada teks puisi ini memiliki benang merah dengan warna hijau pada dedaunan pohon. Ini menyiratkan sebuah ironi yang pedih: bahwa satu-satunya hal yang masih “tumbuh” dan “hidup” dari gadis itu hanyalah kata-kata kesedihannya, yang kini abadi tertulis di atas kanvas.

Epilog
Bayang-bayang Yang Memutih adalah sebuah monumen kehilangan. Dengan menolak keindahan konvensional dan merangkul kekasaran material, Asman Djasmin berhasil menangkap esensi dari memori: yang kasar, tidak sempurna, menyakitkan, namun nyata. Di hadapan lukisan ini, kita dipaksa untuk merenung: seberapa kuat garis ingatan kita sendiri sebelum akhirnya memutih dan hilang dicuri waktu?

Penulis: Asman Djasmin
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: Tem Kreatif maupa.id
Foto: Asman Djasmin

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU