Memaknai Lukisan Morning Rhythm karya Alan Tola

Lukisan berjudul Morning Rhythm karya seniman Alan Tola memerangkap aspek visual secara artistic di atas kanvas. Ketika itu, lukisan ini dipublikasikan melalui pemaran tunggal Alan Tola bertema “Morning View” pada 14-16 Agustus 2025 di Jurnal Warung Kopi, Perumahan Bukit Baruga Jl. Kabila Barat No.9 Makassar.

Enam purnama telah berlalu, tapi lukisan Morning Rhythm, masih terang benderang. Ada lantunan warna, ada melodi, tumpukan bentuk-bentuk kubus dan goresan liar sang seniman, semua terperangkap di sana.

Morning Rhythm adalah lukisan menggunakan media acrilic di atas canvas, berukuran 140 cm x 140 cm dan dibuat tahun 2022. Kira-kira, lukisan ini termasuk kategori aliran abstrak, lebih spesifik, abstrak ekspresionis. Morning Rhythm mendapat pengaruh dari kubisme, secara artistik dimodernisasi oleh pelukisnya.

Proses Morning Rhythm

Morning Rhythm tidak menggambarkan objek atau pemandangan secara realistis, melainkan menggunakan warna, bentuk dan goresan kuas untuk menyampaikan kesan dan emosi.  Pengaruh abstrak ekspresionis terlihat dari penggunaan warna yang kuat dan ekspresif; biru, kuning dominan serta tekstur kuas yang tegas, yang bertujuan untuk menyampaikan perasaan daripada bentuk realis. Sementara, sentuhan kubisme teridentifikasi dari bentuk geometris yang terpotong dan tersusun secara berlayer. Di unsur inilah kubisme itu berbicara meskipun tidak seketat aliran aslinya.

Elemen Morning Rhythm menggunakan biru tua, mewakili langit atau air pagi dan kuning cerah sebagai simbol sinar matahari pagi. Sementara sentuhan merah dan putih sebagai aksen. Kombinasi warna ini menciptakan kontras yang kuat namun tetap harmonis, menyampaikan kesan kehangatan matahari yang menyinari suasana pagi yang tenang.

Morning Rhythm menggunakan bentuk geometris tidak teratur dan goresan kuas yang ekspresif, tanpa representasi objek nyata. Beberapa bagian terpotong dan berlapis. Sementara garis-garis bebas mengarah pada abstrak ekspresionis. Dari aspek tekstur, Morning Rhythm menampakkan tekstur kuas yang tegas dan lapisan cat yang bervariasi ketebalannya, memberikan kedalaman visual dan kesan dinamis pada kanvas. Aspek komposisinya pun menunjukan elemen-elemen tersususn seimbang, dengan area warna kuning yang menjadi fokus utama terkesan menjadi titik sumber cahaya. Sementara warna biru melengkapi sebagai latar yang menenangkan.

Lihat Juga:  Autokuratorial Lukisan Bayang-bayang yang Memutih
Morning Rhythm 

Tafsir makna dan pesan
Morning Rhythm membuka pintu cakrawala estetik, meskipun tidak menggambarkan pemandangan pagi secara nyata, pelukis menggunakan bahasa abstrak untuk menyampaikan suasana hati pagi hari. Pagi adalah harapan baru, ketenangan yang menyertai awal hari dan energi yang datang bersama sinar matahari. Kombinasi warna biru dan kuning juga bisa diartikan sebagai perpaduan antara ketenangan alam dan semangat kehidupan yang baru mulai berkobar.

Sebagai seniman yang bersar di Makassar. Alan Tola memiliki hubungan kultural dengan kota Makassar dengan lingkungan sosialnya. Sebagai pelukis dengan latar kultur bahari Makassar, mungkin ada nuansa lokal yang tersirat, seperti; warna biru seumpama laut Sulawesi yang menjadi bagian penting dari kehidupan kota. Sedangkan kuning bisa melambangkan sinar matahari yang hangat yang sering menyapa wilayah tropis. Ini menunjukkan bagaimana pelukis menggabungkan gaya dunia dengan konteks budaya lokalnya.

Morning Rhythm menunjukkan keunikan gaya Alan Tola, mengintegrasikan pengaruh aliran seni dunia abstrak ekspresionis dan cubism dengan sentuhan pribadi yang mampu menyampaikan emosi dan makna yang jelas meskipun berbentuk abstrak. Ini menjadi bukti perkembangan seni abstrak di Indonesia, khususnya di daerah Makassar.

Ada berbagai alasan mengapa seorang pelukis memilih aliran abstrak, yang mencakup faktor kreatif, ekspresif dan filosofis. Dalam konteks Morning Rhythm, gaya abstrak memungkinkan pelukis menyampaikan perasaan yang dalam seperti kegembiraan, kesedihan atau ketegangan tanpa terbatas pada bentuk objek nyata. Warna, garis dan tekstur menjadi bahasa utama untuk menyampaikan emosi secara langsung. Melalui gaya ini, Alan Tola lebih bebas berekspresi. Ia bebas menentukan fokus pada elemen dasar seni seperti warna, bentuk, ruang dan tekstur sendiri, bukan sebagai alat untuk menggambarkan sesuatu. Pelukis ini berupaya mengeksplorasi kombinasi elemen tersebut menciptakan makna atau harmoni visual.

Lihat Juga:  Catatan Kuratorial Lukisan Simfoni Kepalsuan

Seiring dengan perubahan dunia modern yang lebih kompleks dan teknologi yang berkembang, banyak pelukis merasa bahwa realisme tidak lagi cukup untuk menggambarkan pengalaman hidup saat ini. Abstrak dianggap sebagai bentuk seni yang lebih sesuai dengan zaman.

Bisa jadi, ulasan ini teramat klasik untuk Morning Rhythm yang bebas. Setidaknya, ia menjadi pembuka diskursus untuk memahami seni rupa, khususnya seni lukis, karena karya seni bukan sekadar pajangan pelengkap dalam bangunan-bangunan. Tapi karya menyampaikan pesan melalui tanda.

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU