Catatan Kuratorial Lukisan Simfoni Kepalsuan

Lukisan Karya Asman Djasmin berjudul Simfoni Kepalsuan (A Symphony of Falsehood), tahun 2026 menggunakan media akrilik dan kolase stiker di atas kanvas. Ukuran lukisan: 60 cm X 60 cm menarik, unik dan pantas dinikmati. Berikut adalah catatan kuratorial Asman Djasmin terhadap karya ini.

Di hadapan kanvas ini, kita tidak sedang menatap sebuah gambar diam. Kita sedang mendengarkan gemuruh yang diredam. Karya ini hadir sebagai manifestasi visual dari kegelisahan zaman. Mengadopsi estetika neo ekspresionisme yang liar—lewat goresan yang menetes, kolase, dan komposisi yang menolak tunduk pada aturan keindahan—Asman Djasmin menghadirkan tubuh manusia bukan sebagai objek anatomi, melainkan sebagai sebuah orkestra yang kacau. Sebuah panggung di mana berbagai instrumen kehidupan bermain saling tindih, menciptakan harmoni yang menyakitkan. Mari kita telusuri partitur kehidupan yang terlukis di Simfoni Kepalsuan ini.

Simfoni Kepalsuan (A Symphony of Falsehood), tahun 2026 menggunakan media akrilik dan kolase stiker di atas kanvas. Ukuran lukisan: 60 cm X 60

Ritme Dasar: Kesaksian Darah
Perhatikan Tangan Merah yang tergurat kasar di bagian bawah. Lihatlah tangan merah itu. Ia bukan merah karena marah, melainkan merah karena kulitnya telah habis terkelupas. Tangan yang seumur hidupnya hanya tahu cara memberi, cara memeras keringat, dan cara berdarah demi orang lain. Ia menggapai udara kosong, gemetar, meminta sedikit belas kasihan yang tak kunjung datang. Dalam simfoni ini, ia adalah bass—detak jantung yang menjaga tempo. Warnanya merupakan residu dari kerja keras yang tak usai. Tangan yang kulitnya terkelupas oleh gesekan realitas, yang terus memeras keringat di “dapur” kehidupan. Berdegup kencang, menanggung beban fondasi, namun sering kali suaranya tenggelam, dianggap hanya sebagai latar belakang yang tak perlu dilihat.

Melodi yang Hilang: Keheningan Pualam
Lalu, tataplah Kaki Putih yang memucat itu bagaikan gesekan biola yang lirih, nyaris tak terdengar, lalu senarnya putus. Kaki ini—simbol dari jiwa dan keaslian kita—tampak dingin bagai pualam retak yang tak lagi dipuja. Ia tidak sedang beristirahat; tapi sedang memudar dan merupakan bagian diri kita yang perlahan menjadi asing, kehilangan pijakan pada bumi, dan hanyut dalam kebisuan.

Lihat Juga:  Ada Spirit Leang Leang dalam Perjalanan Seni Rupa Makassar

Dekorasi Semu: Taman Plastik
Di sela-sela pertarungan tubuh itu, menyeruaklah Daun Plastik dengan warna hijau yang menyakitkan mata. Merupakan monumen bagi obsesi kita pada “keabadian yang mati”. Kita memuja keindahan artifisial yang tak butuh dirawat, karena merawat kehidupan yang asli terasa terlalu melelahkan. Dan lihatlah ironi puncaknya: seekor Kupu-kupu Stiker yang menempel di sana. Simbol kebebasan dan transformasi jiwa yang paling purba, kini direduksi menjadi tempelan plastik murahan yang tak pernah berproses dari kepompong, tidak akan pernah bisa terbang dan terjebak selamanya dalam keindahan yang tak bernyawa.

Crescendo Ilusi: Topeng yang Memekakkan
Namun, tragedi sesungguhnya adalah apa yang bertahta di atas segalanya: Sepatu Hak Merah. Benda ini menjeritkan nada tinggi yang angkuh dan merupakan simbol status serta kilau kemasan yang kita puja. Suaranya begitu nyaring hingga menutupi rintihan tangan merah, hilangnya napas kaki putih, dan kepalsuan alam plastik di sekitarnya. Inilah klimaks lagunya: Kita menipu penonton agar percaya hidup kita indah, padahal nadanya menjerit kesakitan.

Disonansi: Nilai yang Dicoret
Di antara kekacauan itu, teks dan simbol nilai dicoret dengan garis hitam tebal. Coretan ini adalah pengakuan jujur sang seniman bahwa partitur ini cacat. Bahwa di zaman ini, “nilai” kemanusiaan telah runtuh, digantikan oleh harga yang tertera pada label barang.

Asman Djasmin (Foto Facebook)

Renungan
Simfoni Kepalsuan adalah sebuah elegi. Berkisah tentang manusia yang menukar kemanusiaan mereka yang telanjang dengan kemasan yang memikat. Kita begitu sibuk memoles sepatu agar tampak bersinar, hingga tak sadar bahwa kaki di dalamnya telah lama kehilangan hangatnya, tangan kita kehabisan darahnya, dan jiwa kita—seperti kupu-kupu stiker —hanya menempel, tak lagi mampu terbang. Di sinilah kita berdiri sekarang: Terlihat begitu utuh di luar, namun perlahan karam di dalam.

Lihat Juga:  Maddika Bua: Penentuan Harga Tanah MDA “Tidak Salah”

Penulis: Asman Djasmin
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Asman Djasmin

 

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU