Steya Coffee, Tempat Seni Rupa dan Ngopi Menyatu

Ulasan Wahyuddin Yunus kali ini membincang tentang keterikatan antara ruang publik dan seni rupa saling bersenyawa. Pameran lukisan di Steya Coffee, sebuah cafe bernuansa vintage di Kompleks Permata Hijau Makassar, menarik perhatian pewacana seni budaya dan lingkungan ini. Simak ulasannya.

Dari kompleks Permata Hijau Permai, hadir sebuah warung kopi bernuansa vintage dengan sentuhan klasik tempo dulu, tempatnya diberi nama Steya Coffee.

Tempat ini telah menjadi ruang pertemuan baru bagi seniman perupa Makassar. Berbagai ornamen lawas yang menghiasi ruangan bersama aroma kopi yang ikut menguatkan suasana. Kuatnya tradisi menjadikan tempat ini menarik sebagai ajang pameran seni rupa dan forum bedah karya yang digelar Makassar Art Initiative Movement (MAIM).

Kegiatan yang telah berlangsung sejak 23 November 2024 dan berakhir hingga 30 November 2025 itu menghadirkan sejumlah karya lukis seniman Makassar. Tidak seperti pameran pada umumnya yang digelar di ruang galeri, atau ruang pameran lainnya, seniman MAIM secara sengaja memindahkan panggung apresiasi ke ruang publik yang dekat dengan aktivitas warga.

Morning Grass, lukisan karya Alan Tola, dipamerkan di Steya Coffee, Kompleks Permata Hijau Makassar, 23-30 November 2025

Menurut Achmad Fauzi, salah seorang seniman MAIM, tempat itu dipilih untuk membuka akses lebih luas kepada masyarakat yang selama ini mungkin saja merasa jauh dari ruang seni.

“Biasanya pameran itu berlangsung di galeri. Kali ini kami hadir di ruang publik agar pembahasan tentang seni bisa dijangkau siapa saja,” ujarnya.

Lukisan karya Ahmad Anzul dipamerkan di Steya Coffee

Dalam kegiatan kali ini diharapkan tercipta suasana yang cair. Lazimnya pengunjung warkop yang awalnya hanya datang menikmati kopi, ikut terlibat dalam dialog, mengajukan pertanyaan, hingga memberi komentar secara spontan. Interaksi ini, bagi seniman menjadi bagian penting dalam membaca ulang cara publik memahami karya seni rupa.

Seniman MAIM lainnya, Asman Djasmin punya pandangan tersendiri. Kehadiran seniman berpameran di ruang publik membuka apresiasi  lebih luas.

“Melalui program ini, saya berharap ruang-ruang alternatif dapat menjadi bagian dari ekosistem seni di Makassar. Saya menilai bahwa warung kopi dan ruang publik serupa mampu menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat, sekaligus membuka ruang dialog yang terbuka bagi semua kalangan,” ungkap Asman Djamin.

Lihat Juga:  Historiografi MAIM dalam Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar
Wahyuddin Yunus (paling kanan) bersama beberapa perupa Makassar di Steya Coffee

Kopi dan Seni Rupa Menyatu
Pilihan menikmati secangkir kopi di warung kopi lalu kita disuguhi karya seni rupa yang indah dan inspiratif jadi ornamen tersendiri. Tidak hanya itu, suasana  berinteraksi langsung dengan seniman dan membahas tentang seni rupa. Itulah yang terjadi di Steya Coffee, selama beberapa hari ini, di mana seni rupa dan kopi bersatu dalam ruang publik yang hangat dan penuh harmoni.

Kiprah seniman hadir di ruang-ruang publik sebagai bagian dari ekosistem seni di Makassar. Melalui pameran di Steya Coffee ini bukan hanya untuk seniman atau pecinta seni, tapi untuk semua orang.

Kegiatan ini turut memberi sentuhan baru dari warung kopi. Dan dukungan dan apresiasi dari pemilik Steya Coffee adalah bagian dari kolaborasi yang dapat memberi nilai positif.

“Steya Coffee sangat senang dapat menjadi bagian dari pameran seni rupa ini. Kami percaya bahwa seni rupa dapat membawa keindahan dan inspirasi bagi masyarakat,” ujar pemilik Steya Coffee, Adi Mulia.

Steya Coffee akan terus mendukung dan membuka ruang kegiatan berkesenian, terutama seniman Makassar.

“Kami berharap pameran ini dapat menjadi awal dari banyak kegiatan seni lainnya di Steya Coffee,” lanjut Adi.

Dengan kerjasama ini, Steya Coffee berharap dapat menjadi salah satu destinasi favorit bagi pecinta seni dan kopi di Makassar. Mari kita datang dan nikmati keindahan seni rupa dan kopi di Steya Coffee.

Penulis: Wahyuddin Yunus, Pegiat Wacana Seni Budaya dan Lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Maupa.id & Wahyuddin Yunus

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU