Menghitung Uang Sambil Menahan Napas

Tahun 2025 segera berakhir. Satu bulan terakhir, Desember 2025 ini, Indonesia dilanda bencana ekologi dan sosial. Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, memberi catatan ekologis terhadap peringatan Guy McPherson, seorang pakar ekologi Amerika Serikat.

Guy McPherson pernah melontarkan sebuah kalimat yang kini beredar luas di ruang-ruang diskusi ekologis dunia. “Jika menganggap bahwa ekonomi lebih penting dari lingkungan maka cobalah menghitung uang sambil menahan napas,” kata McPherson. Kalimat ini terdengar sederhana, hampir seperti sindiran ringan. Namun di balik kesederhanaannya, tersembunyi kritik mendasar terhadap cara manusia modern menyusun skala prioritas hidup; menomorsatukan angka-angka ekonomi, sembari menepikan fondasi biologis yang memungkinkan manusia itu sendiri bernapas dan bertahan.

Mashud Azikin

McPherson bukan figur sembarangan. Ia adalah profesor emeritus ilmu ekologi dan biologi evolusioner di University of Arizona, Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, ia meneliti dinamika populasi, ekologi konservasi, dan dampak aktivitas manusia terhadap sistem kehidupan di Bumi. Dalam perjalanan intelektualnya, McPherson bertransformasi dari akademisi konvensional menjadi salah satu suara paling radikal dalam diskursus krisis iklim global. Ia dikenal luas karena pandangannya yang pesimistis—bahkan ekstrem bagi sebagian orang—tentang masa depan peradaban manusia akibat perubahan iklim yang tak terkendali.

Berbeda dengan banyak ilmuwan yang masih menyisakan harapan pada inovasi teknologi atau reformasi kebijakan global, McPherson secara terbuka menyatakan bahwa umat manusia telah melampaui titik balik ekologis. Dalam pandangannya, kerusakan sistem Bumi telah sedemikian parah sehingga berbagai solusi yang ditawarkan hari ini lebih menyerupai penenang moral ketimbang jalan keluar nyata. Pandangan inilah yang membuatnya kerap menuai kritik, tetapi sekaligus menjadikannya rujukan penting dalam diskusi tentang overshoot—kondisi ketika konsumsi manusia melampaui daya dukung planet.

Kutipan tentang “menghitung uang sambil menahan napas” sesungguhnya merangkum seluruh kritik McPherson terhadap logika ekonomi modern. Ekonomi, dalam praktiknya hari ini, diperlakukan seolah entitas otonom yang dapat tumbuh tanpa batas. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dirayakan, investasi digenjot, eksploitasi sumber daya dilegalkan atas nama pembangunan. Lingkungan direduksi menjadi variabel eksternal—externalities—yang baru diperhitungkan ketika bencana datang mengetuk pintu.

Lihat Juga:  Mengabadikan Burung Endemik Sulawesi Melalui Buku

McPherson membalik logika itu secara telak. Uang, betapapun banyaknya, tidak memiliki nilai biologis. Ia tidak bisa menggantikan oksigen, air bersih, tanah subur, atau stabilitas iklim. Menahan napas sambil menghitung uang adalah metafora tentang absurditas sistem yang menganggap kesejahteraan finansial dapat berdiri sendiri tanpa fondasi ekologis. Dalam kondisi krisis iklim, metafora itu bukan lagi retoris, melainkan literal: polusi udara, gelombang panas ekstrem, dan rusaknya ekosistem telah membuat “bernapas” menjadi persoalan politik dan ekonomi di banyak belahan dunia.

Kelangsungan Ekologi vs Ekonomi

Kritik ini relevan dibaca sebagai potret zaman. Indonesia, termasuk kota-kota pesisir seperti Makassar, berada di persimpangan serupa: antara ambisi pertumbuhan ekonomi dan kerentanan ekologis yang kian nyata. Reklamasi pesisir, alih fungsi lahan, dan tata kota yang mengabaikan daya dukung lingkungan kerap dibungkus dengan narasi pembangunan dan investasi. Di atas kertas, angka-angka ekonomi tampak menjanjikan. Namun di lapangan, banjir, krisis air bersih, dan degradasi kualitas udara menjadi harga yang harus dibayar.

McPherson, dengan segala kontroversinya, mengingatkan bahwa krisis ekologis bukan semata persoalan teknis, melainkan krisis cara pandang. Selama lingkungan diposisikan sebagai subordinat ekonomi, selama alam hanya dilihat sebagai komoditas, maka perhitungan untung-rugi akan selalu timpang. Ekonomi modern lupa bahwa ia adalah subsistem dari ekologi, bukan sebaliknya. Tanpa biosfer yang stabil, seluruh konstruksi ekonomi runtuh menjadi angka-angka tanpa makna.

Pada akhirnya, esai ini bukan ajakan untuk menolak ekonomi, melainkan menempatkannya kembali ke proporsi yang masuk akal. Ekonomi seharusnya menjadi alat untuk menopang kehidupan, bukan tujuan yang mengorbankan syarat dasar kehidupan itu sendiri. Peringatan Guy McPherson, betapapun keras dan tidak nyaman, layak dibaca sebagai alarm moral. Karena ketika udara semakin sesak dan alam kian rapuh, menghitung uang sambil menahan napas bukan lagi sindiran—melainkan potret tragis peradaban yang lupa cara bernapas. (*)

Lihat Juga:  Warek I UNCP: Terimakasih MDA Karena Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Penulis: Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Editor: Redaksi maupa.id
Foto dan Ilustrasi: Tim maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU