Mengabadikan Burung Endemik Sulawesi Melalui Buku

Sulawesi memiliki beragam fauna endemik yang keberadaannya kian terancam. Buku berjudul “Burung Endemik Sulawesi” memaparkan fungsi ekologis dari setiap burung endemik Sulawesi yang diulas oleh penulis. Dengan gaya menulis yang dapat membawa pembaca ke posisi si penulis saat mengabadikan momen bersama burung endemik, buku ini menjadi rekomendasi bacaan yang tepat bagi anda pecinta satwa.

Maupa.id – Suatu siang di awal februari yang basah, kami kedatangan Taufiq Ismail, beliau berkhidmat sebagai petugas lapangan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TNBB). Taufiq juga aktif menulis dan memotret petualangannya selama di hutan. Kecintaannya pada fauna khususnya kupu-kupu dan burung membuatnya sering “berburu” untuk mengabadikannya dalam tulisan dan gambar.

Pada kunjungannya ke Interaksi kali ini, Taufiq membawa buku serupa majalah yang baru saja terbit bulan kemarin. Buku ini karya dari lima petugas lapangan TNBB yang memuat foto sekaligus narasi tentang “Burung Endemik Sulawesi” yang berada di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Kelima penulis ialah Taufiq Ismail, Kamajaya Shagir, Ramli, Muasril, dan Hendra. Mereka dipertemukan oleh kesamaan minat dan perhatian pada pelestarian flora-fauna di TNBB. Kawasan taman nasional ini kaya akan spesies hewan, termasuk 173 spesies burung yang memiliki perannya tersendiri bagi ekosistem hutan.

Upaya identifikasi satwa liar di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sudah dimulai sejak 2009 lalu oleh petugas taman nasional. Dari hasil pengamatan itu mereka kemudian melakukan monitoring permanen pada beberapa spesies burung, seperti Julang Sulawesi dan Elang. Pada 2014 lalu, salah seorang petugas lapangan Resor Minasate’ne menulis buku “Jenis-jenis Burung di Resor Minasate’ne”. Upaya mengarsipkan burung endemik juga dilakukan beberapa personil TNBB dengan terlibat dalam penggarapan buku “Burung Endemik Indonesia”. Dari sini kemudian semangat membukukan hasil pengamatan spesies burung di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung mulai bangkit, sehingga lahirlah buku ini yang mulai digarap sejak awal 2024 kemarin.

Total ada 30 spesies burung endemik yang berhasil diabadikan dalam buku ini. Penyematan endemik pada burung-burung ini didasarkan pada spesies burung yang hanya terdapat di pulau ini. Pulau Sulawesi menjadi rumah bagi ratusan spesies fauna yang hanya ada di Sulawesi, termasuk 140 spesies burung, 60 diantaranya terdapat di TNBB. Artinya buku ini telah mencatat setengah dari keseluruhan burung endemik di TNBB, salah satu alasan mengapa buku ini menjadi penting.

Lihat Juga:  Menjaga Keseimbangan Ekologi atau Mengejar Produksi Pangan?
Salah satu bagian lembaran isi dari buku Burung Endemik Sulawesi yang berisikan foto dan cerita si penulis. Dok: Azwar Radhif
Salah satu bagian lembaran isi dari buku Burung Endemik Sulawesi yang berisikan foto burung endemik Sulawesi dan cerita si penulis. Dok: Azwar Radhif

Hampir keseluruhan penulis di buku ini menceritakan kisah pertemuannya dengan spesies burung yang tidak mudah ditemui. Bak bertemu dengan idola, mereka nyaris tak melewatkan momen sedikitpun, semuanya diabadikan dengan gambar dan tulisan. Gaya menulisnya membuat saya merasa seolah sedang berada di posisi si penulis. Ini yang membuatnya sedikit berbeda dari beberapa buku flora-fauna lainnya yang hanya fokus ke profil satwa.

Buku ini mengulas kehidupan burung endemik di hutan yang berada pada bentangan karst. Ada Julang Sulawesi yang bersarang di celah batu karst, Burung Sikep Madu sang pemburu madu hutan,  elang ular yang menjaga keseimbangan ekosistem dengan memangsa serangga dan mamalia kecil, Woodpacker Sulawesi yang begitu gemar mematuk batang pohon, dan beberapa spesies lainnya yang punya andil dalam menghijaukan hutan dengan menyebar biji buah yang mereka makan.

Sayang tak semua satwa ini dalam keadaan yang baik-baik saja. Beberapa spesies burung berada dalam keadaan rentan, seperti Kangkareng Sulawesi dan Julang Sulawesi. Kedua burung eksotis ini terancam punah. Keadaan ini dipengaruhi oleh aktivitas manusia, seperti perburuan, pembukaan kawasan hutan, hingga krisis iklim. Melalui buku ini, para penulis mencoba menyampaikan betapa burung-burung ini memiliki perannya dalam keseimbangan ekosistem alam. Maka penting bagi kita untuk memastikan mereka tetap bertahan sampai kapanpun.

Satu hal yang patut diapresiasi adalah upaya para penulis mengarsipkan satwa avifauna dengan menulis. Kesadaran menulis ini membuat kami yang berada cukup jauh dari lokasi Taman Nasional mengetahui informasi keanekaragaman satwa di Selatan Sulawesi. Para penulis telah menjaga kelestarian alam melalui tulisan.

Penulis: Azwar Radhif
Editor: Muhammad Fauzy Ramadhan

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU