Makassar–maupa.id–Even Makassar Biennale 2025 kali ini bertema Revival (Kebangkitan). Kegiatan diawali dengan Simposium bertema,” Creative Arts, Knowledge, Empathy and Connection.” Menyaji kuliah kunci adalah Professor Tom Murray dari Australia.

Pandangan umum tentang Biennale adalah perhelatan seni rupa, diselenggarakan satu kali dalam dua tahun. Menanggapi realitas seni rupa dan perkembangannya di Makassar, Akademisi, Sastrawan, dan Pegiat Senin, Dr. Aslan Abidin, M.Hum, menjelaskan bahwa even ini adalah even seni rupa dua tahunan. Setiap kota mestinya mempunai pameran rutin seni rupa. Makassar dan seniman membutuhkan even seperti ini terutama karena kesenian di Makassar belum berkembang baik.
“Even ini penting untuk ada dan terus memperlihatkan perkembangan seni rupa Makassar,” jelas Aslan, sastrawan berdarah Bugis yang lahir di Kabupaten Soppeng ini.
Menanggapi tentang Makassar Biennale kali ini, Aslan menilai, bienalle sebelumnya mengambil lokasi yang lebih luas dan kurang fokus di Makassar.Even ini lebih berfokus di Kota Makassar.
Menurut Aslan, ekosistem seni rupa di Makassar belum bagus. Penyebabnya; pertama, kualitas karya memang belum maksimal secara estetik dan intelektual. Kedua, iklim bersenirupa seperti dukungan pameran, galeri, dan pembeli, kurang mendukung.
Merespon tentang pentingnya autentik karya perupa di Makassar, Aslan Abidin, yang masuk sebagai kategori Sastrawan Indonesia Angkatan 2000 ini berpendapat, perupa di Makassar belum berani secara kreatif mencoba hal-hal baru.
“Belum cukup berani secara kreatif mencoba hal-hal baru. Beberapa masih berusaha menafsir ulang budaya lokal seperti Sulapa Eppa, Badik, Passapu, dan sejenisnya, tapi belum memperlihatkan tanggapan intelektual yang cukup kritis. Sepertinya memang masalahnya pada kurangnya event yang mempertarungkan karya-karya mereka sehingga lajunya terlihat kurang kencang,”jelas Aslan, penyandang gelar Magister dari Universitas Gajah Madah (UGM) ini.
Terkait aspek kuratorial seni rupa di Makassar, Aslan menilai, kuratorial seni rupa di Makassar belum sengit karena even seni rupa juga belum banyak dan persaingan belum ketat. Sehingga tidak banyak pilihan. Dampaknya, tidak banyak perdebatan tentang seni rupa Makassar.
Lebih jauh Aslan menanggapi tentang pasar seni rupa di Makassar dibandingkan dengan pasar di daerah lain seperti Yogyakarta, Bali, Bandung dan Jakarta.
“Pasar seni rupa kita masih jauh dibanding tempat-tempat lain yang sudah berkembang seni rupanya (dan wisatanya) di Indonesia. Mereka sudah bisa menghasilkan dan menjual karya seni yang murah (ala cenderamata) maupun karya seni serius dan mahal. Meski kita juga bisa berharap banyak ke tempat wisata kita seperti Toraja untuk terus berkembang dan juga bisa memasarkan karya seni yang lebih serius,” terang Aslan, sang penulis buku “Tak Ada Yang Mencintaimu Setulus Kematian (2004).
Secara subtansi, apa pentingnya membicang eksistensi seni rupa bagi masyarakat, bangsa dan peradaban ? Bagi Aslan Abidin, seni rupa sangat penting.
“Seperti seni lainnya, seni rupa adalah juga soal gagasan, termasuk kritik untuk memperbaiki keadaan agar menjadi lebih baik. Gagasan yang dikreasi dengan indah membuat seni bisa bertahan lama dan terus berbicara ke jiwa-raga masyarakatnya dari generasi ke generasi,” kunci Dr. Aslan Abidin, M.Hum. (*)
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi Maupa.id
Foto: dikreasi dari panflet dan undangan Makassar Biennale 2025.

