Rammang-Rammang menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan sebagai salah satu kawasan karst terbesar di Asia Tenggara. Lanskapnya yang terdiri dari ribuan gugusan batu karst yang menjulang tinggi, danau yang jernih, serta hutan tropis yang lebat menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna langka. Rammang-rammang yang berada di desa Salenrang hari ini surplus air bersih karna kawasan karstnya terjaga. Yang paling penting adalah rammang rammang berhasil menyelamatkan tinggalan-tinggalan budaya berupa gambar gambar dalam goa. Nyata, ini realitas ironi di Maros.

Selain nilai ekologisnya, kawasan ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat lokal melalui pariwisata berkelanjutan. Wisata yang mengedepankan konservasi telah membantu melestarikan budaya dan kehidupan masyarakat sekitar, sekaligus menunjukkan betapa kaya dan berharganya alam Indonesia jika dirawat dengan baik. Sebagai informasi misalnya, di Rammang rammang, sebagai konservasi pariwisata telah melibatkan lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK) dengan potensial pertukaran uang 9-11 milyar rupiah per tahun.
Pabrik Semen, Neraka Lingkungan?
Di sisi lain, Pabrik Semen sebagai salah satu produsen semen terbesar di wilayah tersebut telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Aktivitas penambangan batu kapur dan proses produksi sering dikaitkan dengan emisi debu, polusi udara, serta perubahan ekosistem di sekitar lokasi. Masyarakat warga melaporkan gangguan pada kesehatan, seperti masalah pernapasan, serta kerusakan pada lahan pertanian dan sumber air akibat sedimentasi dan kontaminasi. Meskipun pabrik telah mengklaim telah menerapkan langkah-langkah pengendalian polusi, dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat membuatnya dianggap sebagai ancaman bagi kesejahteraan lingkungan dan kehidupan lokal. Jadi, apakah benar pabrik semen ibarat neraka lingkungan? Silahkan, Anda yang menilai.

Bertetangga tapi Bertentangan
Kedua kawasan yang berdekatan ini menggambarkan konflik klasik antara pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan. Maros menghadapi tantangan untuk mengembangkan sektor industri yang mendukung perekonomian daerah, namun juga harus menjaga keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi aset utama pariwisatanya. Tanpa upaya yang serius untuk menyelaraskan kedua kepentingan ini, hubungan antara “surga” dan “neraka” lingkungan di Maros akan terus menjadi masalah yang kompleks.
Penulis:
Abustan DJ, Ketua Lembaga Karya Tani Maros, Tokoh Pemuda Maros
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen Abustan DJ
Ilustrator: Tim IT maupa.id

