Belakangan ini, alam seperti sedang memberi isyarat keras. Banjir datang lebih cepat dari biasanya, udara terasa lebih panas, sampah menumpuk di jalan dan sungai, sementara hutan terus tergerus satu per satu. Kita sering mencari penyebabnya pada faktor teknis atau kebijakan, padahal di balik semua itu ada persoalan yang lebih mendasar: integritas dan konsistensi manusia dalam menjaga lingkungan.
Integritas: Keberanian untuk Tidak Mengkhianati Alam
Jika integritas berarti kesesuaian antara kata dan perbuatan, maka tantangan terbesar kita hari ini adalah keberanian untuk berlaku jujur pada alam. Kita sering menyebut diri “pecinta lingkungan”, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Kita bangga dengan jargon “kota hijau”, tetapi tetap menebang pohon demi ruang parkir. Kadang kita merayakan hari bumi, tetapi lupa menjaga bumi pada hari-hari biasa.
Integritas lingkungan berarti tidak mengkhianati alam demi kenyamanan sesaat. Artinya, tidak korup dalam proyek penataan lingkungan, tidak memanipulasi data kualitas udara, tidak menutup mata ketika sungai dijadikan tempat pembuangan limbah. Integritas menuntut kita berani berkata “tidak” pada praktik yang merusak meski ada keuntungan cepat di depan mata.
Di level pemerintahan, integritas adalah kunci agar setiap kebijakan lingkungan tidak berhenti sebagai slogan. Di level masyarakat, integritas terwujud dalam tindakan kecil: memilah sampah, menanam pohon, mengurangi plastik, dan menjaga kebersihan ruang publik tanpa perlu disuruh.

Konsistensi: Kebaikan Lingkungan adalah Usaha Harian
Kita sering tergerak melakukan aksi lingkungan hanya ketika bencana terjadi. Saat banjir datang, semua orang bicara tentang pentingnya menjaga sungai; ketika polusi meningkat, kita berbicara soal pohon. Namun begitu keadaan membaik, kepedulian kita ikut surut.
Inilah titik lemah kita: kurang konsisten.
Konsistensi lingkungan bukan sekadar ikut gerakan bersih-bersih sekali sebulan. Ia adalah kebiasaan yang dibangun dari tindakan berulang: tidak membuang sampah di selokan setiap hari, memilah sampah organik dan anorganik setiap hari, membawa tumbler setiap hari, menolak plastik setiap hari. Kecil, sederhana, tetapi dilakukan terus-menerus.
Di kota-kota besar seperti Makassar, konsistensi ini menjadi penentu keberhasilan target Makassar Bebas Sampah 2029. Program sebagus apa pun tidak akan berhasil jika masyarakat hanya antusias pada awal, lalu kembali seperti biasa. Lingkungan tidak berubah oleh niat dan wacana; ia berubah oleh tindakan yang tak putus.
Integritas dan Konsistensi Sebagai Jalan Keluar
Krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga moral. Alam rusak bukan semata karena kekurangan teknologi atau kebijakan, melainkan karena kekurangan karakter.
Jika oknum pengembang berintegritas, drainase tidak akan disumbat bangunan liar.
Jika pelaku industri berintegritas, sungai tidak akan menjadi tempat pembuangan racun.
Jika aparat berintegritas, izin gundul hutan tidak keluar semudah menyapa.
Jika warga konsisten menjaga kebersihan, banjir kota akan berkurang drastis.
Jika sekolah konsisten mendidik anak tentang budaya memilah sampah, generasi baru akan tumbuh dengan kesadaran ekologis yang kuat.
Solusi teknis memang penting—TPS3R, ecoenzym, biopori, bank sampah, hingga kampanye 3R. Tetapi tanpa integritas pelaku dan konsistensi masyarakat, semua itu tinggal poster.
Saatnya Menjadi Penjaga, Bukan Penonton
Kita tidak sedang kekurangan pengetahuan tentang lingkungan. Kita kekurangan keberanian untuk menjadi pribadi yang utuh dalam menjaga bumi. Kita tahu mana yang benar, tetapi sering kalah oleh kebiasaan lama atau keinginan instan. Padahal, bumi tidak sedang menunggu teori baru—ia menunggu kita berubah.
Integritas mengajarkan kita untuk tidak mengkhianati nilai kebaikan lingkungan, meski tidak ada yang melihat. Konsistensi mengajarkan kita bahwa perubahan besar lahir dari tindakan kecil yang dilakukan setiap hari.
Penutup: Masa Depan Alam Ada Pada Pilihan Kita
Permasalahan lingkungan dapat menjadi tragedi, tetapi juga bisa menjadi pembuka jalan menuju kedewasaan bangsa. Kita tidak harus sempurna, tetapi kita harus memulai. Kita tidak harus melakukan semuanya, tetapi kita harus melakukan bagian kita.
Dalam derap perubahan dunia, dua nilai inilah yang akan menyelamatkan kita: integritas untuk tetap lurus, dan konsistensi untuk tetap berjalan. Bumi hanya satu. Dan ia menunggu kita menjaga janji. (*)
Penulis: Mashud Azikin, Pegiat Ecoenzym dan aktifis lingkungan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen Mashud Azikin

