Parepare –maupa.id– ROK Fest disambut antusias oleh beberapa pegiat kopi seSulawesi Selatan (Sulsel). Buktinya, beberapa peserta festival dari berbagai kota di Sulsel seperti, Pinrang, Sidrap, Enrekang hingga Toraja menghadiri ROK Fest ini. Kegiatan ini dibuka secara gratis untuk umum sehingga masyarakat tertarik untuk datang meramaikan.
Selama dua hari full, event ini diisi dengan berbagai kegiatan yang berorientasi tentang kopi. Pada hari pertama diawali dengan Fun Cupping pada pukul 15.00-16.00 sore. Dilanjut dengan workshop bertema, “Menyeduh Kopi dengan Riang dan Gembira,” oleh Founder Kahwa Home Henri Hasrianto yang juga Runner Up Tarung Tiga Reg. Makassar 2025. Henri Hasrianto menjelaskan tentang beberapa alat yang digunakan saat ingin menyeduh manual brew dalam hal ini, alat v60 sampai cara penggunaan dan berinteraksi langsung dengan peserta karena hasil seduhan diberikan kepada peserta untuk dicicipi dan dimintai pendapatnya mengenai rasa kopi yang diminum.

Dalam workshopnya, Henri mengatakan karena peserta yang hadir saat itu berbeda latar belakang semua, mulai dari yang baru belajar mengenai kopi hingga yang telah berpengalaman bertahun-tahun dalam dunia kopi jadi yang dijelaskan adalah kopi secara umum, seperti, kopi tidak selamanya rasanya pahit.
“Jadi setelah mencicipi beberapa beans yang diseduh tadi, saya ingin mengatakan dan membuktikan bahwa kopi itu sebenarnya memiliki banyak rasa tergantung darimana asal serta varietas kopi tersebut,”ujar Henri.
Pada malam hari, ditutup dengan agenda Kopi Talks. Pemantik pembicaraan ini adalah Syahrani Said, owner Gudmud Coffee Roastery. Pada kesempatan ini, Syahrani membahas tentang bagaimana bila 20 tahun tahun akan datang kopi sudah tiada. Konsep yang ditawari pada saat Kopi Talks berbeda dari kegiatan diskusi yang umumnya; ada narasumber berbicara berapa lama kemudian dilanjut dengan sesi tanya jawab oleh moderator. Konsep Kopi Talks kali ini dikemas berbeda. Semua peserta duduk melingkar dengan seorang pemantik diskusi. Setelah pemantik menyampaikan gagasanya, kemudian diikuti peserta lainnya untuk berbicara mengenai tema sekaligus menanggapi pandangan pantik diskusi.
Awalnya, pemantik membahas kelangkaan komoditas kopi beberapa tahun ke depan. Salah satu penyebabnya adalag krisis iklim.

“Dari penelitian saya akhir-akhir ini mengenai kopi baik dari berbicara langsung dengan pegiat kopi dan membaca jurnal, jika melihat dari sisi lingkungannya kopi bisa jadi tidak akan bisa kita temukan lagi 20 tahun kedepan”, ucap Syahrani.
Pada hari kedua, agenda puncaknya yaitu Fun Battle. Kegiatan ini dimulai pada pagi hari, pukul 10.00 untuk Teknikal Meeting (TM) semua peserta. Pada pukul 14.00-18.00 acara inti yaitu Fun Battle dengan menggunakan teknik v60 dan konsep yang diterapkan hampir sama dengan kegiatan Tarung Tiga yang telah digelar di Kota Makassar beberapa waktu lalu. Peserta Fun Battle berjumlah 12 peserta. Mereka berasal dari beberapa kota di Sulsel. Pada sesi ini, Fadli, dari Kab. Enrekang Juara Fun Battle adalah tampil sebagai juara. Sementara Runner Up atas nama Hadri dari Kab. Pinrang.
Muhammad El Wahbah, salah seorang panitia ROK Fest, ketika dikonfirmasi mengatakan, ROK Fest ini bertujuan untuk silaturahmi seluruh pegiat kopi di Sulsel.
“Kegiatan ROK Fest yang kami laksanakan ini merupakan ajang untuk mempertemukan bagi setiap orang yang tertarik tentang dunia kopi begitupun dengan yang telah lama dalam industri kopi, sehingga dengan adanya kegiatan ini kami berharap dapat memajukan dunia perkopian dan membuka wawasan masyarakat tentang industri kopi di Sulsel khususnya di Kota Parepare ini”, tutup Wahbah.
Penulis: Tim Rumah Olah Kopi
Editor: Redaksi Maupa.id
Foto: Dokumentasi Rumah Olah Kopi

