Warga Tamangapa Antang Makassar Panen Raya Ekoenzim

Mashud Azikin, pegiat lingkungan dan penulis isu ekologi dan pemberdayaan masyarakat keberlanjutan mengulas tentang Panen Raya Ekoenzim Masyarakat di Tamangapa, Antang Kecamtan Manggal Kota Makassar, Minggu (25/1/2026).

Dari Tamangapa, Manggala, Makassar, sebuah pesan sederhana disampaikan dengan cara yang sunyi namun tegas: krisis sampah tidak selalu harus diselesaikan dari ruang rapat, tetapi bisa dimulai dari meja dapur.

Minggu pagi, 25 Januari 2026, halaman Kantor Kelurahan Tamangapa tak sekadar menjadi ruang seremonial. Botol-botol berisi cairan kecokelatan berjajar rapi—hasil fermentasi sisa dapur warga selama tiga bulan terakhir. Inilah Panen Raya Eco Enzyme se-Kelurahan Tamangapa, sebuah ikhtiar kolektif warga dalam mengolah limbah organik rumah tangga secara mandiri dan berkelanjutan

Wrga Tamangapa Antang Sedang Menyuling Ekoenzim

Kegiatan yang digagas Pemerintah Kelurahan Tamangapa ini dihadiri Camat Manggala, Lurah Tamangapa, Ketua LPM, para Ketua RW dan RT, serta tokoh masyarakat. Sekitar 60 warga hadir, bukan sekadar sebagai saksi, tetapi sebagai pelaku langsung perubahan.

Dalam sambutan pembukaan yang dimulai pukul 08.00 WITA, Lurah Tamangapa menekankan bahwa eco enzyme bukan sekadar produk, melainkan proses pembelajaran ekologis. Cairan hasil fermentasi limbah organik ini, kata dia, menjadi bukti bahwa sampah tidak selalu berakhir di TPA—jika warga diberi pengetahuan dan ruang untuk berpartisipasi.

Panen ini memvisualisasikan satu hal penting: keberhasilan program lingkungan sangat bergantung pada keterlibatan warga. Setiap botol eco enzyme yang dipanen adalah jejak kecil pengurangan beban sampah organik yang biasanya mengalir ke Tempat Pembuangan Akhir Antang—TPA yang selama bertahun-tahun menjadi simbol problem struktural pengelolaan sampah Kota Makassar.

Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi. Warga mendapatkan penjelasan langsung mengenai pemanfaatan eco enzyme sebagai cairan multiguna—mulai dari pembersih alami, pupuk cair, hingga penjernih air sederhana. Alternatif ini diharapkan mampu menekan ketergantungan rumah tangga pada bahan kimia sintetis yang selama ini diam-diam mencemari tanah dan air.

Lihat Juga:  Rektor Unhas: FKM Garda Terdepan Jaga Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan
Mashud Berbincang Bersama Warga Seblum Panen Raya Ekoenzim

Sebagai bentuk penguatan di tingkat akar rumput, hasil panen diserahkan secara simbolis dalam botol kemasan kepada perwakilan RW, RT, dan tokoh masyarakat. Distribusi ini bukan akhir, melainkan pemicu. Harapannya, botol-botol tersebut menjadi alat kampanye hidup—mengajak warga lain untuk ikut meniru, bukan sekadar menonton.

Sesi diskusi interaktif kemudian membuka percakapan yang lebih jujur: bagaimana menjangkau warga yang belum terlibat? Jawabannya kembali pada nilai lama yang terasa relevan—gotong royong. Perluasan titik pembuatan eco enzyme dirancang berbasis lingkungan RW, agar praktik ini mudah diakses dan tidak elitis.

Apa yang terjadi di Tamangapa menunjukkan bahwa transisi ekologis tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Ia membutuhkan kepercayaan pada warga, keberanian mengubah kebiasaan, dan konsistensi kebijakan di tingkat paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Acara ditutup dengan foto bersama, sementara hasil panen dipajang di halaman kantor kelurahan. Botol-botol itu berdiri sebagai simbol kecil dari harapan besar: bahwa kota yang bersih dan berkelanjutan bisa dibangun dari rumah, dari sisa dapur, dan dari kesadaran kolektif warganya.

Di Tamangapa, perubahan itu tidak diumumkan dengan slogan besar. Ia difermentasi perlahan—dan kini mulai dipanen.

Penulis:
Mashud Azikin, pegiat lingkungan dan penulis isu ekologi, pemberdayaan berbasis masyarakat keberlanjutan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto dan Ilustrasi: Tim maupa.id dan Mashud Azikin

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU