Umur yang Hanya Soal Angka

Mashud Azikin, seorang pegiat ekoenzim dan lingkungan, bermukim di Kota Makassar, berulang tahun pada 21 November 2025. Bagaimana seorang aktifis merefleksi perjalanan usianya ? Alumni Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin (MIPA Unhas) ini menulis autoreflesinya untuk maupa.id. Menarik dipetik hikmahnya.

Ada masa ketika angka dianggap sebagai hakim terakhir. Ia dicatat rapi di lembar-lembar administrasi, ditulis di kartu identitas, dirayakan dengan lilin yang bertambah jumlahnya setiap tahun. Namun semakin panjang jejak langkah manusia, semakin terasa bahwa angka umur tak lebih dari koordinat di peta waktu—sekadar penanda lamanya hidup, bukan kedalaman hidup itu sendiri.

Mashud Azikin

Kita mengenal orang-orang yang pada usia muda tampak renta oleh kepahitan yang dipikulnya, dan mereka yang pada usia senja masih bersinar oleh semangat yang tak putus mengalir. Di ruang perjumpaan sehari-hari, kita belajar bahwa umur tidak mengikuti garis lurus: ada yang belajar dewasa pada usia belasan, ada yang baru memahami arti hidup ketika rambut memutih seluruhnya. Angka tidak pernah cukup untuk menjelaskan itu semua. Ia tidak bisa membacakan riwayat seseorang, apalagi menimbang kualitasnya.

Di kota-kota yang bergerak cepat, obsesi pada angka sering menjebak manusia dalam rasa cemas yang tak perlu. Empat puluh dianggap “terlambat”, tiga puluh dianggap “seharusnya sudah”, dua puluh dianggap “masih terlalu muda”. Data, statistik, dan ekspektasi sosial membentuk pagar-pagar tak kasat mata. Seakan-akan hidup memiliki jadwal keberhasilan yang universal. Padahal manusia tumbuh dalam lintasan yang berbeda—dengan badai, jeda, perhentian, dan kebangkitan yang tak pernah sama.

Mashud Azikin (kedua dari kiri) usai menyiram ekoenzim di Kolam Lindi TPAS Tamangapa Antang, Kota Makassar

Di sinilah letak ironi terbesar: umur dikira sebagai indikator panjangnya hidup, padahal yang penting adalah seberapa hidupnya umur itu dijalani. Lama hidup hanya soal durasi; panjang hidup adalah soal makna. Keduanya tidak selalu bergandengan. Orang bisa hidup lama tetapi merasa kosong, bisa pula hidup singkat tetapi meninggalkan jejak yang melampaui waktu.

Kita melihatnya dalam kisah-kisah kecil yang jarang terpahat di headline berita. Seorang ibu rumah tangga yang dengan tabah membesarkan anak-anaknya sambil bekerja serabutan; seorang pemuda yang memilih jalan sunyi merawat komunitas kecil di kampung; seorang pensiunan yang kembali menanam pohon agar kampungnya teduh kembali. Mereka tidak berkoar tentang umur. Mereka mengisi hidup dengan tindakan yang merawat kehidupan.

Lihat Juga:  Pelabuhan Sebagai Identitas Kota Parepare

Barangkali inilah saatnya mengganti pertanyaan “Sudah berapa usiamu?” menjadi “Seberapa jauh hidupmu tumbuh?”. Sebab ukuran kedewasaan bukan jumlah lilin yang padam, melainkan kualitas cahaya yang kita tinggalkan untuk orang lain.

Pada akhirnya, umur memang hanya urusan angka. Angka yang menghitung lamanya kita berada di dunia—bukan kedalaman rasa syukur, bukan keberanian untuk berubah, bukan keteguhan menghadapi kehilangan, bukan pula kedermawanan hati ketika berbagi. Hidup yang panjang justru diukur dari kemampuan manusia untuk terus tumbuh, memaknai ulang pengalaman, dan merawat harapan meski usia terus bergerak maju.

Kita tidak selalu mampu menambah panjang umur. Tetapi kita selalu bisa memperpanjang hidup: lewat kebaikan, lewat keberanian, lewat cinta yang tidak pernah berhitung pada angka. Dan di titik itulah, kita akhirnya mengerti: umur mungkin milik waktu, tetapi hidup sepenuhnya milik kita.

Penulis: Mashud Azikin, Pegiat Lingkungan dan Ekoenzim
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Mashud Azikin

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU