Beberapa tahun terakhir, istilah antroposen semakin sering muncul dalam percakapan ilmiah, kebijakan publik, hingga diskusi akar rumput. Kata ini merujuk pada sebuah gagasan besar: bahwa kita sedang hidup di sebuah zaman ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan paling dominan yang mengubah wajah bumi. Bukan lagi gunung meletus, bukan gempa tektonik, bukan pula tumbukan meteor. Yang mengubah lanskap bumi hari ini adalah pola produksi, konsumsi, dan gaya hidup kita sendiri.

Di Indonesia, realitas antroposen paling mudah terbaca lewat krisis sampah. Di kota-kota besar termasuk Makassar, volume sampah terus meningkat mengikuti laju penduduk dan pola konsumsi. Plastik sekali pakai, limbah rumah tangga, mikroplastik, hingga residu makanan menjadi penanda geologis baru yang tertinggal di tanah, sungai, bahkan lautan. Ada masa ketika lapisan bumi menyimpan fosil-fosil organisme purba. Pada masa kita, lapisan itu menyimpan fragmen plastik.
Jejak Manusia dalam Zaman Antroposen
Antroposen bukan sekadar istilah akademik. Ia menggambarkan perubahan besar dalam tiga dimensi: iklim, keanekaragaman hayati, dan daur alamiah bumi. Ketika konsumsi energi meningkat, hutan ditebang, kota tumbuh cepat, dan sampah menumpuk, sistem ekologis kehilangan kemampuan memulihkan diri.
Keadaan ini menandai satu hal: kita telah memasuki sebuah fase dimana bumi bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dengan perilaku manusia. Banjir datang lebih sering, cuaca makin ekstrem, dan pencemaran air maupun udara menjadi risiko sehari-hari. Semua ini adalah gejala antroposen—gejala ketika manusia tak lagi menjadi bagian dari alam, tetapi menjadi faktor terbesar yang menekan alam.
Tak mengherankan, krisis sampah menjadi simbol paling konkret dari zaman ini. Kota-kota di seluruh dunia menghadapi situasi serupa: volume sampah lebih cepat bertambah dibanding kemampuan mengelolanya. Tumpukan sampah menjadi semacam “fosil masa kini”—rekaman gaya hidup manusia dalam bentuk yang paling telanjang.

Krisis Sampah: Potret Antroposen dari Jarak Dekat
Di Indonesia, setiap orang menghasilkan rata-rata 0,7–1 kilogram sampah per hari. Jika dikalikan jutaan rumah tangga, kita mendapat gambaran betapa masifnya tekanan ekologis itu. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti Antang di Makassar, Bantargebang di Jakarta, atau Suwung di Bali, bekerja jauh melampaui kapasitasnya.
Sampah organik yang membusuk memproduksi metana—gas rumah kaca yang 28 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida. Sementara itu, sampah anorganik, terutama plastik, tak hanya mencemari tanah dan laut tetapi juga memasuki tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik. Fenomena ini menegaskan satu hal: antroposen bukan teori. Ia nyata, hadir di depan mata kita setiap hari.
Ecoenzym: Ikhtiar Kecil dalam Zaman Besar
Di tengah tekanan zaman antroposen, muncul banyak inisiatif dari kelompok warga, komunitas lokal, hingga gerakan lingkungan. Salah satunya adalah penggunaan ecoenzym, cairan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayur.
Ecoenzym bukan sekadar produk ramah lingkungan. Ia adalah simbol kecil dari perubahan cara pandang: bahwa sampah bukan akhir, tetapi awal dari sebuah daur baru. Dalam perspektif antroposen, ini penting. Karena perubahan besar sering dimulai dari perubahan skala kecil yang dilakukan secara konsisten dan kolektif.
Di Makassar, misalnya, beberapa komunitas mulai mempraktikkan ecoenzym sebagai bagian dari solusi lokal: mengurangi volume sampah organik yang masuk ke TPA, menekan emisi metana dari timbulan sampah, menghasilkan cairan serbaguna untuk pembersihan, pertanian, hingga perawatan lingkungan, dan mendorong warga memahami kembali hakikat “daur alamiah”.
Pemanfaatan ecoenzym di TPA Antang bahkan diuji sebagai salah satu langkah mengurangi bau dan mempercepat dekomposisi. Sebagian sekolah, RT/RW, dan komunitas ibu rumah tangga mulai menjadikannya gerakan harian. Pelan tapi pasti, ecoenzym menjadi pengingat bahwa solusi ekologis bisa dimulai dari dapur rumah tangga.
Membalik Arah Antroposen
Pertanyaan pentingnya: apakah ecoenzym cukup? Tentu saja tidak. Ia bukan satu-satunya jawaban. Tapi ecoenzym memberi kita pelajaran penting: bahwa perubahan struktural harus disertai perubahan kultural. Infrastruktur pengelolaan sampah, kebijakan kota, teknologi energi bersih—semuanya penting. Namun, tanpa perubahan perilaku rumah tangga, tanpa kemampuan masyarakat melihat sampah sebagai tanggung jawab bersama, maka antroposen akan terus bergerak ke arah yang kelam.
Ecoenzym membantu kita melakukan dua hal sekaligus. Pertama, mengurangi tekanan ekologis secara nyata, meski dalam skala mikro. Kedua, membangun memori kolektif baru bahwa kehidupan yang berkelanjutan hanya mungkin jika manusia kembali seirama dengan daur alam.
Esensi antroposen bukan pada kegetiran bahwa manusia merusak bumi. Tetapi pada kesadaran bahwa manusia juga dapat menjadi penyembuhnya.
Penutup: Dari Rumah, Kita Mengubah Zaman
Di masa antroposen, setiap tindakan—sekecil apapun—adalah suara politik sekaligus suara ekologis. Memilah sampah, mengurangi plastik, membuat ecoenzym, mengelola Bank Sampah, hingga terlibat dalam program lingkungan kota adalah wujud perlawanan terhadap arah sejarah yang mengkhawatirkan. Bumi memang berubah oleh manusia. Namun ia juga dapat dipulihkan oleh manusia.
Di dapur, di halaman, di komunitas kecil, kita sedang menulis babak baru dalam zaman antroposen: bahwa manusia bukan hanya penyebab kerusakan, tetapi juga penjaga yang mampu mengembalikan keseimbangan. Dari rumah kita, dari tangan kita, dari pilihan kita-peradaban bisa bergerak ke arah yang lebih teduh. (*)
Penulis: Mashud Azikin, Pegiat Literasi Lingkungan dan ekoenzim
Editor: Redaksi Maupa.id
Foto: Dok.Maupa.id

