Rapat-rapat panjang tentang perubahan iklim masih terus berlangsung. Makassar sering terdengar seperti kota yang sedang berpikir terlalu jauh. Grafik suhu naik, laporan emisi menumpuk dan istilah-istilah global berseliweran—carbon offset, net zero, resilience city. Namun, di lorong-lorong kampung, selokan yang tersumbat plastik dan di tanah-tanah kosong yang gersang, masalah iklim justru tampak sangat sederhana: sampah tak diurus, pohon tak ditanam. Di sinilah sebuah kutipan lama terasa kembali relevan, “Terkadang solusi paling genius berasal dari ide paling sederhana,” untuk solusi sampah, hutan kota dan perubahan iklim.
Makassar, kota pesisir yang keras oleh panas dan asin laut, sesungguhnya tak kekurangan ide sederhana. Kita hanya terlalu sering mengabaikannya. Persoalan sampah kota Makassar, misalnya, hampir selalu dibicarakan dalam skala besar; TPA, mesin, proyek dan anggaran. Padahal, sumber masalahnya nyaris selalu sama—sampah rumah tangga yang bercampur sejak dari dapur. Solusi paling masuk akIal bukan teknologi mahal, melainkan kebiasaan yang berubah, yakni memisahkan sampah dari rumah.

Sediakan dua ember di dapur—untuk sampah organik dan anorganik—adalah ide yang tampak remeh. Tapi dari situlah segalanya bermula. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau ecoenzym; sampah anorganik bisa masuk bank sampah. Tidak perlu menunggu kebijakan besar. Tidak perlu menunggu pidato wali kota. Cukup mulai dari rumah, dari satu keluarga, lalu menular ke tetangga.
Makassar sudah membuktikan itu di banyak sudutnya. Komunitas-komunitas warga, mahasiswa KKN, ibu-ibu PKK, hingga pemuda lorong telah mempraktikkan solusi sederhana ini. Tidak selalu rapi, tidak selalu viral, tapi perlahan mengurangi beban TPA dan menghidupkan kembali rasa tanggung jawab bersama. Di situ, perubahan iklim tidak dibahas sebagai konsep global, melainkan sebagai udara panas yang setiap hari mereka hirup.
Hal serupa terjadi pada hutan kota. Kita kerap mengira hutan kota harus selalu berupa taman luas dengan pagar besi dan papan nama proyek. Padahal, satu pohon yang tumbuh di halaman rumah, di tepi jalan, atau di bantaran kanal adalah bagian dari hutan kota itu sendiri. Menanam pohon bukanlah tindakan heroik. Ia adalah keputusan sunyi yang dampaknya panjang.
Satu pohon menyerap karbon, menahan panas, menyimpan air dan memberi teduh. Sepuluh pohon mengubah mikroklimat. Seratus pohon mengubah wajah kawasan. Tetapi semuanya dimulai dari satu lubang tanah dan satu bibit. Lagi-lagi, ide sederhana yang sering kalah pamor dibanding proyek besar.

Makassar menghadapi ancaman perubahan iklim yang nyata: banjir rob, suhu ekstrem, dan berkurangnya ruang hijau. Namun respons kita sering terjebak pada pendekatan spektakuler. Padahal, iklim tidak selalu diselamatkan oleh gebrakan, melainkan oleh kebiasaan yang konsisten. Mengelola sampah dari rumah. Menanam pohon tanpa seremoni. Merawat kanal agar tidak tersumbat plastik.
Kesederhanaan bukan tanda kemiskinan gagasan, melainkan kejernihan berpikir. Ia menolak ilusi bahwa semua masalah harus diselesaikan dengan cara rumit. Dalam konteks Makassar, kesederhanaan adalah bentuk perlawanan terhadap sikap abai: abai pada sampah yang kita hasilkan sendiri, abai pada panas yang kita keluhkan tiap siang.
Perubahan iklim sering terasa terlalu besar untuk ditangani warga biasa. Tapi justru di situlah letak kekeliruannya. Perubahan iklim adalah akumulasi dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan—diabaikan—setiap hari. Maka jawabannya pun sering kali ada di level yang sama: kecil, dekat, dan bisa dilakukan sekarang.
Makassar tidak kekurangan kecerdasan. Kita hanya membutuhkan keberanian untuk percaya bahwa ide-ide sederhana masih relevan, bahwa menyelesaikan sampah dan menumbuhkan hutan kota tidak selalu harus dimulai dari podium, tetapi dari dapur dan halaman rumah. Barangkali, di situlah solusi paling genius itu bersembunyi: dalam hal-hal yang selama ini kita anggap terlalu sederhana untuk diperhatikan.
Penulis:
Mashud Azikin, pemerhati lingkungan, penggerak komunitas pengelolaan sampah dan ekoenzym di Kota Makassar. Aktif menulis isu ekologi dan gerakan warga.
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrator: Tim IT maupa.id

