Peringatan Hari Ibu, Penting Bagi Gen Z

Peringatan Hari Ibu di Indonesia merujuk pada Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali digelar di Yogyakarta pada 22 hingga 25 Desember 1928. Peringatan ini kemudian dikuatkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Secara sosiologis, Peringatan Hari Ibu penting untuk menghargai peran para ibu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Generasi Z (gen z) Indonesia penting memahami makna di balik peringatan Hari Ibu. Tiada terbilang jumlah ibu yang berjuangan secara langsung merebut dan menjaga kemerdekaan Indonesia. Rakyat Indonesia telah mengenal para ibu pejuang yang gagah berani. Misalnya, Laksamana Keumalahayati (abad ke-16), Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh yang memimpin pasukan laut, menjadi laksamana wanita pertama dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman. Cut Nyak Dhien (1848–1908), seorang bangsawan pejuang yang memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda setelah suaminya gugur, terkenal karena keberaniannya. Cut Nyak Meutia (1870–1910), putri bangsawan yang gigih melanjutkan perjuangan melawan Belanda bahkan setelah suaminya meninggal, menjadi lambang perlawanan sejati. Hajjah Rangkayo Rasuna Said dari Sumatera Barat yang memperjuangkan hak politik dan pendidikan perempuan.

Warisan Ibu Pejuang untuk generasi mendatang adalah kesejahteraan dan pelestarian lingkungan harus sejalan

Ibu pejuang dari Kalimantan, yaitu; Ratu Zaleha, putri Sultan Muhammad Seman (cucu Pangeran Antasari), memimpin pasukan wanita Banjar dan Dayak melawan Belanda di Perang Banjar, melanjutkan perjuangan leluhurnya. Juga Habibah, pejuang wanita di Sangasanga, Kalimantan Timur, yang gigih melawan Belanda pada tahun 1947.

Ibu pejuan dari Sulawesi, antara lain; Andi Depu, Maraddia Balanipa, dikenal juga dengan sapaan Puang Depu Maraddia Balanipa atau Ibu Agung (1 Agustus 1907 – 18 Juni 1985) adalah seorang ibu pejuang asal Mandar. Ia berhasil mempertahankan Tinambung, Afdeling Polewali dari penaklukan Belanda. Ada Opu Daeng Risaju (dari Luwu), wanita bangsawan Luwu, memimpin perlawanan politik, dihukum berat oleh Belanda. Emmy Saelan, laskar pejuang dari Makassar, membantu tawanan politik, bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) dan gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara), pejuang emansipasi wanita, memperjuangkan pendidikan dan hak pilih perempuan.

Ibu pejuang dari Maluku, dikenal, antara lain; Martha Christina Tiahahu, seorang pahlawan nasional muda yang mengangkat senjata melawan penjajah Belanda pada Perang Pattimura. Pada usia 17 tahun mengobarkan perlawanan dengan keberanian luar biasa, menjadi simbol semangat juang Maluku.

Lihat Juga:  "Coastal Lab Anak Nelayan: Upaya Unhas Bangun Ruang Belajar Kreatif dan Ekologis di Pesisir Barru"

Ibu pejuang dari Ternate yang paling menonjol adalah Rainha Boki Raja (Nukila), ratu dari abad ke-16 yang melawan Portugis. Pejuang lainnya adalah Aminah Sabtu dari Mareku, Tidore, yang menjahit dan mengibarkan Merah Putih pada 1946 sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda, dijuluki Fatmawati dari Tidore.

Bumi Cenderawasih juga memiliki ibu pejuang, antara lain; Merry Helena Papare, putri dari pahlawan nasional Silas Papare. Ia adalah pejuang diplomasi yang berperan dalam kembalinya Papua ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan peduli pada kesetaraan perempuan. Ibu pejuang yang juga dikenal dari papua adalah Fientje Suebu, yang menjadi Duta Besar pertama dari Papua. Ia berperan aktif dalam diplomasi dan pembangunan sosial, menunjukkan peran vital dalam integrasi, keadilan, dan masa depan Papua bersama Indonesia.

Lebih banyak lagi dikenal dari Pulau Jawa, antara lain; R.A. Kartini (Jawa Tengah) pelopor emansipasi wanita melalui surat-suratnya yang menuntut pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan pribumi. Dewi Sartika (Jawa Barat) perintis pendidikan perempuan dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk wanita. Ada juga sosok-sosok penting lain seperti Ratu Kalinyamat dari Jepara yang memimpin ekspedisi maritim melawan Portugis. Juga dikenal tokoh pergerakan seperti Nyai Ahmad Dahlan dan Suwarsih Djojopuspito, yang semuanya berkontribusi besar dalam berbagai bidang perjuangan.

Masih banyak lagi ibu pejuang yang berjasa bagi bangsa Indonesia. Kita pantas mengenang dan menghormati perjuangan mereka. Indonesia hari ini tidak pernah ada tanpa perjuangan para ibu. Ibu adalah cara Tuhan menunjukkan kasih sayangNya. Selamat Hari Ibu. Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2025. (*)

Editorial Redaksi maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU