Luwu – maupa.id – DAS Suso dipandang vital karena menjadi sumber pengairan petanian dan kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Luwu. DAS Suso berhulu di Pegunungan Latimojong dan bermuara di Suli Kabupaten Luwu. Sehingga dibutuhkan pengelolaan sampah yang inklusif.
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga secara berkelanjutan dan inklusif. Pelatihan juga menjadi wadah kolaborasi lintas kelompok untuk mengintegrasikan nilai-nilai sosial, ekonomi, dan ekologis dalam pelestarian lingkungan,” jelas Basri Andang.

Lanjut, Basri yang juga Koordinator Wilayah IV Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) mengemukakan, kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari rencana aksi komunitas dan rencana aksi bersama pelibatan penyandang disabilitas di Kabupaten Luwu dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dirumuskan tahun 2024 lalu.
“Pelatihan ini mendapat dukungan dari Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan Small Grant Periode 3 BPDLH. Dalam implementasinya berkolaborasi dengan Wanua Lestari, DPC PPDI Luwu, Pusat Studi SDGS Unanda dan Bank Sampah Baruga YBS. Peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur masyarakat di Kabupaten Luwu; mulai dari organisasi perempuan, penyandang disabilitas, pemerintah desa, hingga komunitas lingkungan,” urai Basri Andang yang juga jurnalis ini.
Lebih jauh, Basri menegaskan, kegiatan ini adalah bentuk komitmen pelestarian lingkungan yang tidak dapat dilepaskan dari keadilan sosial. Melalui kolaborasi lintas komunitas, pelatihan ini mendorong munculnya kesadaran baru bahwa menjaga sungai berarti juga merawat keberagaman dan solidaritas antarwarga. Oleh karena itu, inklusivitas dalam pengelolaan sampah bukan hanya tentang kebersamaan, tapi tentang membangun masa depan lingkungan yang adil, lestari, dan berdaya.
Tiga narasumber membagikan pandangan berbagai perspektif, pengetahuan dan pengalamannya dalam pengelolaan sampah secara inklusif, yaitu; Dr. Abdul Rahman Nur, SH., MH, akademisi dan pakar hukum lingkungan, Abdul Malik Saleh, S.T, praktisi pengelolaan sampah dari Yayasan Bumi Sawerigading (YBS) Palopo, dan Bakhtiar, Ketua DPC PPDI Kabupaten Luwu.
Dr. Abdul Rahman Nur, menekankan pentingnya pengelolaan DAS berbasis komunitas dengan menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), serta memperkuat kelembagaan lokal sebagai pelaku utama pelestarian lingkungan.
Sementara, Abdul Malik Saleh, memaparkan praktik baik model Bank Sampah Baruga, yang berhasil mengubah sampah menjadi sumber ekonomi melalui konsep 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Regulate, Remind) dan inovasi pengolahan organik berbasis larva Black Soldier Fly (BSF).
Pada kesempatan yang sama, Bakhtiar, mengajak peserta untuk memastikan pengelolaan sampah membuka ruang bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar partisipasi simbolik, tetapi keterlibatan nyata dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan lingkungan.

Sebagai tindak lanjut kegiatan, peserta dari berbagai lembaga menyusun rencana aksi konkret di tingkat komunitas, antara lain; pembentukan dan pelatihan pengurus bank sampah lintas organisasi (Forhati, Fatayat NU, PPDI), sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Malela dan Cakkeawo, pelatihan pembuatan pupuk cair dari sampah organik di Desa Cimpu dan Bunu Kunyit, dan melakukan koordinasi pengelolaan sampah di lingkungan SLB Al-Imam bersama pemerintah setempat.
Rencana aksi ini menjadi komitmen bersama untuk memperkuat pengelolaan sampah inklusif di wilayah DAS Suso, dengan harapan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Kabupaten Luwu. (*).
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Tim maupa.id
Foto: Dok.Basri Andang

