Sains menunjukkan besarnya peran fitoplankton dalam produksi oksigen. Di sisi lain, ekologi mengajarkan bahwa kehidupan di bumi tidak ditopang oleh satu ekosistem tunggal melainkan oleh keterhubungan sistem yang saling bergantung. Ketika perdebatan ini disederhanakan menjadi soal siapa yang paling besar menghasilkan oksigen, kita justru berisiko kehilangan persoalan yang lebih penting, yaitu; bagaimana menjaga seluruh penopang kehidupan tetap bekerja. Lalu ada apa di balik Wacana Perdebatan Paru-Paru Dunia?

Di banyak kampung dan kota, saya melihat sendiri bagaimana hutan tidak pernah hadir sebagai konsep abstrak. Ia hadir dalam bentuk mata air yang tidak pernah kering, sawah yang masih bisa ditanami, dan udara yang masih layak dihirup. Ketika hutan di hulu rusak, warga di hilir tidak perlu membaca jurnal ilmiah untuk memahami dampaknya. Mereka cukup melihat air yang berubah keruh, banjir yang datang lebih sering, dan lahan yang kehilangan kesuburannya.
Fakta bahwa laut melalui aktivitas fitoplankton menyumbang porsi besar produksi oksigen global tentu tidak perlu dibantah. Sains telah lama mencatatnya. Namun, pengalaman lapangan mengajarkan bahwa angka-angka ilmiah tidak pernah berdiri sendiri. Dalam sistem laut, oksigen yang dihasilkan sebagian besar kembali digunakan oleh organisme laut itu sendiri. Laut bekerja secara dinamis, cepat, dan sensitif terhadap perubahan suhu dan pencemaran.
Hutan bekerja dengan cara yang lebih perlahan, tetapi justru itulah kekuatannya. Ia menyerap karbon dan menyimpannya dalam biomassa dan tanah dalam waktu yang panjang. Dalam kerja-kerja pendampingan masyarakat, saya kerap menjumpai lahan yang dahulu gersang perlahan pulih ketika tutupan pohon dijaga. Tanah kembali hidup, air kembali tertahan, dan masyarakat memperoleh ruang untuk bertahan tanpa harus merusak alam lebih jauh.

Yang sering luput dari perdebatan publik adalah kenyataan bahwa kerusakan hutan di darat cepat atau lambat akan sampai ke laut. Sedimen dari hulu mengalir ke pesisir, merusak terumbu karang, dan mengganggu kehidupan biota laut. Dalam kondisi seperti ini, laut yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia justru ikut menanggung beban dari kesalahan manusia di darat.
Sebaliknya, laut yang memanas dan tercemar juga mengirimkan dampaknya ke daratan. Nelayan kehilangan tangkapan, masyarakat pesisir kehilangan penghidupan, dan krisis sosial pun tak terelakkan. Relasi ini menunjukkan satu hal sederhana: memisahkan laut dan hutan dalam narasi kebijakan adalah kesalahan berpikir yang mahal biayanya.
Dalam konteks Indonesia, setiap pernyataan publik tentang lingkungan semestinya diletakkan dalam kerangka kehati-hatian. Di tengah laju alih fungsi lahan dan tekanan industri ekstraktif, narasi yang meremehkan peran hutan—meski tanpa niat demikian—dapat dengan mudah berubah menjadi pembenaran. Padahal, yang kita butuhkan bukanlah pembanding siapa yang lebih berjasa, melainkan kesadaran bahwa kerusakan satu ekosistem akan melemahkan yang lain.
Ilmu pengetahuan tidak pernah mengajarkan kita untuk memilih antara hutan atau laut. Sains justru menunjukkan bahwa bumi bekerja sebagai satu kesatuan sistem. Hutan dan laut adalah dua organ vital yang menjalankan fungsi berbeda, tetapi saling menopang kehidupan.
Pada titik ini, perdebatan tentang siapa yang paling layak disebut paru-paru dunia seharusnya kita akhiri. Krisis iklim tidak menunggu kesepakatan istilah. Ia hadir dalam banjir, kekeringan, gagal panen, dan hilangnya ruang hidup masyarakat.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal metafora, melainkan soal keberanian mengambil sikap: apakah kita akan menjaga hutan dan laut sebagai satu kesatuan, atau terus membiarkan keduanya rusak sambil berdebat tentang siapa yang paling berjasa bagi dunia. (*)
Penulis:
Mashud Azikin, pegiat lingkungan dan penulis isu ekologi, pemberdayaan berbasis masyarakat keberlanjutan
Editor: Redaksi maupa.id
Foto dan Ilustrasi: Tim maupa.id dan Mashud Azikin

