Makassar – maupa.id – Kisah banjir di Provinsi Sulawesi Selatan ini diolah dari berbagai sumber. Pada tahun 2019, di Sulawesi Selatan terjadi banjir besar tepatnya, tanggal 22 Januari 2019. Ketika itu, curah hujan ekstrem menyebabkan meluapnya Sungai Jeneberang. Sehingga dilakukan pembukaan pintu air Bendungan Bili‑Bili di Kabupaten Gowa. Hujan ini memicu banjir bandang di beberapa daerah, seperti Kabupaten Gowa, Kota Makassar dan beberapa wilayah lain di provinsi ini.
Berdasarkan beberapa sumber diketahui bahwa bencana di Sulawesi Selatan ketika itu menelan korban jiwa. Tercatat 68 orang meninggal, 6 orang hilang dan 47 orang luka‑luka. Bencana ini juga menyebabkan sekitar 6.757 warga mengungsi. Korban terdampak paling banyak di Kabupaten Gowa. Dari total korban, terdapat sekitar 45 orang meninggal di Kabupaten Gowa. Bencana ini juga berdampak di Kota Makassar rumah warga terendam dan banyak warga kota Makassar mengungsi.
Penyebab utama bencana banjir ketika itu adalah terjadi cuaca ekstrem, hujan turun sangat deras dalam waktu singkat, air meluap dari sungai Jeneberang, lalu pintu air di Bendungan Bili-Bili dibuka.
Kemudian, pada bulan Mei tahun 2024, juga terjadi bencana banjir dan longsor Sulawesi Selatan. Ketika itu, terjadi banjir dan longsor pada beberapa daerah di Sulsel, termasuk di wilayah pedesaan. Laporan menyebut bahwa terdapat 15 orang meninggal dunia kala itu. Bencana juga berdampak pada rusaknya sejumlah infrastruktur, rumah masyarakat rusak, akses jalan dan jembatan terganggu, banyak warga terisolasi dan harus dievakuasi dari lokasi terdampak.

Salah satu daerah mengalami dampak parah ketika itu adalah Kabupaten Luwu. Beberapa warga di Kecamatan Latimojong Luwu terisolasi karena putusnya akses jalan dan jembatan. Para pihak dari unsur pemerintahan, relawan, swasta membantu masyarakat melakukan evakuasi meski medan sulit. Berdasarkan Mongabay.co.id, ketika itu, hujan deras, lalu terjadi banjir bah. Penyebab parahnya bencana adalah kemungkinan terjadi kerusakan lingkungan seperti; alih fungsi lahan dan penggundulan hutan.
Kemudian, pada akhir Desember 2024, sekitar 21–24 Desember, banjir kembali melanda beberapa wilayah di Kota Makassar akibat hujan deras dan luapan saluran kanal drainase. Bencana ini berdampak cukup besar. Kala itu, terdapat 629 kepala keluarga atau sekitar 2.303 orang terdampak dan mengungsi di 30 titik pengungsian. Titik terdampak tersebar di beberapa kecamatan.
Secara umum dapat disarikn bahwa bencana di Sulawesi Selatan pada tahun 2019 dan tahun 2024 menyebabkan korban jiwa dan dinyatakan hilang, terutama pada kejadian besar seperti 2019 dan bencana gabungan 2024. Bahkan, ribuan orang kehilangan tempat tinggal, ribuan warga mengungsi, rumah terendam banjir, rusak atau tidak aman dihuni. Juga terjadi kerusakan infrastruktur yang parah; rumah, jembatan, jalan, fasilitas umum, dan sarana lain. Dampak lainnya, yang dirasakan masyarakat ketika bencana itu terjadi adalah terjadi gangguan kehidupan sehari‑hari, seperti masalah ketersediaan air bersih, sanitasi, akses transportasi, pendidikan, dan ekonomi. Bencana tersebut juga berdampak secara psikologis dan menimbulkan trauma sosial akibat kehilangan harta, ketidakpastian hidup, pengungsian dan beban pemulihan.
Ulasan ini merujuk kepada beberapa sumber, seperti; wikipedia.org; news.detik.com; floodlist.com; content.bmkg.go.id; mongabay.co.id; siandalan.sulselprov.go.id; dan pusatkrisis.kemkes.go.id. Semoga ulasan ini menjadi pengingat agar dapat waspada bencana. Terutama melakukan upaya pencegahan dengan peduli pada pelestarian alam; dan kebersihan lingkungan. (*)
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi Maupa.id
Ilutrasi: AI

