Meriah, Ornop dan Masyarakat Rayakan HAN di TPAS Tamangapa

Bersahaja sekaligus meriah. Demikian suasana Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa Makassar pada Senin (27/7/2026). Ratusan anak dan orang tuanya, masyarakat setempat serta sejumlah aktifis Organisasi Non Pemerintah (Ornop) di Sulawesi Selatan berpartisipasi dalam perhelatan ini. Bahkan, perayaan yang diinisiasi Yayasan Pabbata Ummi Lino (Yapta UL) ini dihadiri Anggota DPR RI Dapil Sulawesi Selatan (Sulsel 1), Syamsu Rizal Marsuki Ibrahim alias Daeng Ical

Maupa.id – Bersahaja sekaligus meriah. Demikian suasana Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa Makassar pada Senin (27/7/2026). Ratusan anak dan orang tuanya, masyarakat setempat serta sejumlah aktifis Organisasi Non Pemerintah (Ornop) di Sulawesi Selatan berpartisipasi dalam perhelatan ini. Bahkan, perayaan yang diinisiasi Yayasan Pabbata Ummi Lino (Yapta UL) ini dihadiri Anggota DPR RI Dapil Sulawesi Selatan (Sulsel 1), Syamsu Rizal Marsuki Ibrahim alias Daeng Ical, Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Makassar, sejumlah Kepala Sekolah dan unsur pemerintah RT/RW setempat.

Aktisi Ornop, Yapta UL, Daeng Ical dan utusan Diknas Makassar

Beberapa aktifis masyarakat sipil berasal dari Ornop di Sulsel yang berpartisispasi, yaitu; WALHI Sulsel, JARAK, LBH Makassar, PKBI Sulsel, LAPAR, Yayasan Rumah Mama, LPA Sulsel, Yayasan Jati, Yasindo, Yasmib, Balla Inklusi, Societas Initiative, Transformasi Anak Muda Celebes, Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Makassar, LBH Maros, SPRT Paraikatte, media Maupa.id dan Info Celebes.

Ketua Pelaksana Harian Yapta UL, Makmur, S.Sos, mengatakan, kegiatan ini adalah bentuk komitmen para aktifis masyarakat sipil, Anggota DPR RI, Daeng Ical, komunitas keluarga pemulung di sekitar TPAS dan masyarakat umum untuk mendesak pemenuhan hak-hak dan perlindungan anak di Kota Makassar, khususnya.

Suasana meriah Peringatan Hari Anak Nasional di Yapta UL

Makmur menjelaskan, perayaan ini adalah murni inisiatif Yapta UL atas partisipasi dan dukungan dari para aktifis Ornop di daerah ini.

“Kita melakukan kegiatan secara substansial, bukan hanya bersifat seremonial. Salah satu bukti dari kegiatan ini adalah pemberian beasiswa PIP kepada 146 siswa, mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK. Dan kita sementara mengusulkan 64 lagi untuk anak-anak keluarga kurang mampu, anak yatim dan disabilitas. Tadi, Daeng Ical menyerahkan secara simbolis,” tandas Kak Makmur, sapaan akrab Makmur, Sos.

Lihat Juga:  Mengenal Kombucha, Minuman Herbal Kaya Manfaat dan Menyegarkan di Gudmud Coffee Roastery

Menurut Makmur, kegiatan ini juga menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak harus dilakukan bersama-sama oleh para pihak, pemerintah, Ornop atau NGO, swasta dan masyarakat.

“Ini adalah gerakan bersama, karena pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan pekerjaan wajib yang harus dilakukan bersama. Jangan lagi ada kegiatan yang hanya bersifat seremonial saja,” tandasnya.

Kak Makmur juga mengapresiasi, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kota Makassar, Achi Soleman, karena secara pribadi turut memberikan beasiswa kepada anak yatim, disabilitas dan keluarga miskin dampingan Yapta UL.

“Jadi, saya, secara pribadi dan lembaga berterimakasih kepada Ibu Kadis Pendidikan Kota Makassar, Ibu Achi karena secara pribadi, pribadinya, ya, juga memberikan beasiswa kepada anak-anak dampingan kami,” ungkap Makmur.

Ketua Yayasan Mama Sulsel, Lusia Palulungan (kiri).

Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Mama, Lusia Palulungan, mengapresiasi peringatan hari anak yang diinisasi secara mandiri ini.

“Inilah saatnya kita menggugah semua pihak bahwa pemenuhan hak-hak anak adalah tanggung jawab bersama. Kita semua, terutama pemerintah, masyarakat, dan swasta harus bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan generasi bangsa yang cerdas, berkompeten, berintegritas dan berakhlak baik. Kegiatan ini diharapkan menggugah kita semua,” jelas Lusia, yang akrab disapa Lusi.

Lusi merespon tema kegiatan, “Suara Anak Pinggiran dari Puncak Gunung Sampah.” Menurut Lusi yang juga seorang advokat ini, pemenuhan hak-hak anak memang masih harus terus diperjuangkan. Apalagi, anak-anak dari pinggiran atau kelompok rentan, penting sekali mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerintah adalah pelaksana mandat rakyat berkewajiban menjalankan amanah ini.

“Hak-hak anak dari pinggiran memang sering terabaikan. Maka kita harus mendesak pemerintah dan para pihak untuk memastikan pemenuhan hak-hak anak ini, khususnya anak-anak dari pinggiran, termasuk anak-anak dari keluarga rentan, seperti keluarga pemulung,” kunci Lusia Palulungan. (*)

Lihat Juga:  Event Semarak Literasi Dinas Perpustakaan Enrekang Edukasi Membaca Nyaring

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi Maupa.id
Foto: Dokumentasi Maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU