Taktik Anak Muda Makassar Membajak Kopi “Takeaway”

Suatu kehormatan bagi maupa.id karena pemerhati sosial budaya dan aktifis sosial Judy Rahardjo berkenan menerbitkan hasil pikirannya di sini. Pemikir yang selalu menyebut dirinya orang biasa ini, sungguh tidak biasa, paling tidak pikirannya tajam dan cenderung memotret sisi lain realitas sosial. Di sini, ia mengulas Maccita sebagai taktik membajak kopi takeaway. Baca tulisan lengkapnya berikut.

Maupa.id – Suatu kehormatan bagi maupa.id karena pemerhati sosial budaya dan aktifis sosial Judy Rahardjo berkenan menerbitkan hasil pikirannya di sini. Pemikir yang selalu menyebut dirinya orang biasa ini, sungguh tidak biasa, paling tidak pikirannya tajam dan cenderung memotret sisi lain realitas sosial. Di sini, ia mengulas Maccita sebagai taktik membajak kopi takeaway. Baca tulisan lengkapnya berikut.

Gerilya Budaya Maccita: Taktik Anak Muda Makassar Membajak Kopi “Takeaway”
Penulis: Judy Rahardjo

Makassar tak pernah hidup tanpa kopi. Tradisi maccita adalah denyut nadinya. Kita duduk berjam-jam. Kita mengobrol lintas kelas. Modalnya hanya secangkir kopi. Ini jangkar sosial kita.

Tapi lihatlah hari ini. Susuri Jalan Perintis atau Rappocini. Lanskap ini berubah radikal. Ratusan kedai kopi takeaway menjamur. Mereka menelan ruang-ruang lama.

Formulasinya seragam. Tanpa AC. Tanpa Wi-Fi. Hanya ada satu atau dua kursi besi. Letaknya di teras ruko yang pengap. Sekilas ini inovasi. Es kopi murah dan praktis. Namun, ini jebakan. Di balik kepraktisan, ruang sosial kita dikorbankan. Modal berputar makin cepat.

Gerilya Budaya Maccita: Taktik Anak Muda Makassar Membajak Kopi “Takeaway”

Geograf Yi-Fu Tuan (1977) menyebut ini tragedi. Warkop tradisional adalah Place. Ia punya makna dan memori. Kedai takeaway mereduksinya jadi Space. Lebih kelam lagi, ia adalah Non-Place (Augé, 1995). Ruang transit yang dingin. Ia didesain hanya untuk transaksi. Beli, lalu pergi.

Mengapa ini terjadi? David Harvey (1981) punya jawabannya. Ini adalah Spatial Fix. Kapitalisme selalu menata ulang ruang saat pasar jenuh. Kafe besar sudah tak efisien. Konsumen lokal terlalu betah. Mereka duduk seharian hanya modal satu gelas kopi.

Maka, modal dipecah. Ratusan gerai mikro muncul di sudut kota. Fasilitas kenyamanan dihilangkan. Ini pengusiran halus. Tujuannya satu: mempercepat turnover time (Harvey, 1989). Tubuh manusia harus terusir. Agar uang berputar cepat.

Lihat Juga:  Mahasiswa dan Dosen Stikes Yappika Makassar Sukses Gelar PBL

Tapi efisiensi ini meninggalkan luka. Beban dilempar ke ruang publik. Trotoar jadi pangkalan antrean. Di sini wajah gig economy telanjang. Es kopi manis di tangan kita ditopang keringat mereka. Mereka adalah kelas Prekariat (Standing, 2011). Pekerja yang terampas dari kepastian.

Wajahnya ada di depan mata. Kurir ojek online mengantre di bawah terik. Kedai memangkas biaya ruang tunggu. Barista terkurung di bilik sempit. Mereka mengalami de-skilling. Bukan lagi peracik kopi. Mereka buruh ban berjalan. Algoritma aplikasi menekan target waktu mereka. Ruang kerja dipangkas. Ruang tunggu dibuang ke jalanan.

Apakah warga Makassar pasrah? Tentu tidak. Michel de Certeau (1984) menyebut ini taktik gerilya. Pemilik modal punya Strategi. Warga punya Taktik.

Anak muda Makassar sadar mereka “diusir”. Mereka tak mau tinggal di ruang dingin itu. Maka mereka membeli kopi. Lalu mereka pergi. Mereka mereklamasi ruang publik. Gratis.

Ini adalah Flâneur kontemporer. Walter Benjamin (1999) mendeskripsikannya sebagai pengelana urban. Mereka menolak didikte kecepatan industri. Anak muda Makassar memindahkan arena maccita. Mereka pergi ke CPI, tanggul Losari, atau taman kampus.

Mereka membajak produk kapitalis. Kopi didesain untuk individualisme. Kini ia diubah jadi bahan bakar kehangatan sosial. Ruang terbuka jadi panggung egaliter baru.

Maccita tak mati. Ia hanya bermigrasi. Ia mencari celah di kota yang serakah. Fenomena ini adalah kritik tajam. Di balik es kopi gula aren, ruang sosial kita menyempit. Hak spasial pekerja rentan terpinggirkan.

Namun, warga Makassar sedang menuntut The Right to the City (Lefebvre, 1996). Hak atas kota. Melalui gerilya budaya, mereka mengingatkan kita. Ruang kota dan secangkir kopi adalah milik manusia. Bukan milik kapital.

Lihat Juga:  Peringatan Hari Ibu, Penting Bagi Gen Z

Penulis: Judy Rahardjo
Warga biasa, tinggal.di Kota Makassar, sedang belajar di Prodi Kajian Budaya, FIB, Unhas.
Editor: Syamsuddin Simmau
Ilustrasi: Tim Kreatif Maupa.id
Foto: Dokumentasi pribadu

BUKU PENERBIT MAUPA

SHE Eureka Exfoliating Gel

Rp 75.000

Cerita Rakyat Pilihan Makassar Edisi Revisi

Penulis: Syamsuddin Simmau
Toner Badan Saptadasa Glycolic Toning Solution Exfoliating Toner (AGET 250ML)

Rp 58.500

English for Basic The Easy Way to Master English

Penulis: Andi Samsu Rijal, SS, M.Si
#

90.000

Gandrang Pamanca’: Gerak dan Spiritual Orang Makassar

Penulis: Jundana, S.Sn

Rp 143.560

Kapital Sosial, Negara & Pasar

Penulis: Dr. Sakaria To Anwar, M.Si

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU