Riwayat Hari Guru Nasional dan Realitas Guru di Indonesia

Selamat Hari Guru Nasional Indonesia, 25 November 2025. Tanpa guru negara tidak maju. Tanpa guru, terjadi kegelapan intelektual. Di sisi lain, guru di Indonesia masih mengalami ketidakadilan dan masalah kesejahteraan. Ulasan ini merespon realitas guru di Indonesia saat ini. Terimakasih guru.

Hari Guru Nasional Indonesia diperingati setiap tanggal 25 November 1945 karena pada tanggal tersebut Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Kisah Hari Guru Nasional Indonesia bermula setelah pelaksanaan Kongres Guru Indonesia yang pertama pada tahun 1953 di Yogyakarta. Di kongres tersebut, para guru sepakat untuk merayakan hari guru sebagai bentuk penghargaan terhadap profesi guru yang dianggap sangat penting dalam membangun bangsa. Tanggal 25 November dipilih karena pada hari itu, dalam Kongres Guru Indonesia tahun 1953, organisasi guru pertama di Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), didirikan.

Tanpa guru, peradaban gelap.

Sejak itu, Hari Guru Nasional menjadi momen untuk mengapresiasi dedikasi dan pengorbanan para guru karena berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994.

Sejak awal, guru di Indonesia tidak hanya mengajar para murid tapi juga mengangkat senjata untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh, Jenderal Besar Sudirman adalah seorang guru. Jenderal Sudirman lahir pada 24 Januari 1916 di Desa Bodhi, Purbalingga, Jawa Tengah.

Kemuliaan Ilmu Para Guru menjadi penerang dalam gulita kebodohan

Pada masa mudanya, Sang Jenderal menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) dan kemudian melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Purwokerto. Setelah menamatkan pendidikannya, Sudirman bekerja sebagai seorang guru di berbagai tempat, termasuk di sebuah sekolah di Banyumas. Menurut catatan sejarah, Jenderal Sudirman sempat mengajar di sekolah bernama HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Sebagai seorang guru, Jenderal Sudirman memiliki dedikasi yang tinggi dalam mendidik dan mencerdaskan generasi muda. Meskipun pekerjaan utamanya adalah mengajar, semangat nasionalisme dan perjuangan sudah mulai berkembang dalam diri Sudirman. Sebagai guru, ia menanamkan semangat kecintaan terhadap tanah air dan memperkenalkan nilai-nilai kepahlawanan kepada para siswa. Sang Jenderal Besar tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik tetapi juga memberikan bekal moral dan semangat kebangsaan kepada para muridnya.

Lihat Juga:  Menghabiskan Malam di Perpustakaan Umum Parepare

Sejak Indonesia merdeka 80 tahun silam kehidupa para guru masih berhadapan dengan kompleksitas masalah, seperti; keterbatasan infrastruktur dan fasilitas, kesejahteraan yang rendah, beban administrasi yang berat beban administrasi yang berat, kurangnya penghargaan dan pengakuan, tantangan dalam menghadapi teknologi dan pendidikan digital, kurangnya pembinaan profesionalisme, isu motivasi dan profesionalisme dan masalah penyelesaian konflik dengan siswa dan orang tua.

Selain itu, banyak kasus menunjukkan terjadinya ketidakadilan kepada guru, antara lain; gaji dan kesejahteraan yang tidak memadai, pemberhentian atau pemecatan yang Tidak adil, kesulitan dalam akses pelatihan atau pendidikan lanjutan, beban kerja yang tidak proporsional, ketidakadilan dalam penempatan dan promosi jabatan, penyalahgunaan jabatan oleh pihak pengelola pendidikan dan perlakuan tidak adil terkait kebijakan pendidikan. Hormat kami setinggi-tingginya kepada para guru kami. Selamat Hari Guru Nasional Indonesia. (*)

Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Redaksi maupa.id
Ilustrasi: diolah dari Artificial intelligence

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU