Empat Memandang Rupa Kolaborasi di Swara Kebun Bulukumba

Komunitas Empat Memandang Rupa turut berpartisipasi dalam Gelaran “Swara Kebun” di Bulukumba pada Jum'at, 16/1/2026. Komunitas ini membawa misi, “Menyapa Seni dan Menyapa Jiwa”. Berikuti Ulasan, Wahyuddin Yunus, promotor dan pegiat literasi seni budaya.

Swara Kebun menampilkan kolaborasi pada sebuah acara kesenian di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Komunitas Empat Memandang Rupa berpartiripasi dalam kegiatan ini.  Even seni ini menampilkan pertunjukan yang menggabungkan seni untuk menyentuh perasaan dan pengalaman spiritual, sering kali dengan elemen visual dan budaya lokal, di tengah suasana alam kebun yang khas.

Swara Kebun mengusung tema,” Menyapa Seni Menyapa Jiwa, Empat Memandang Rupa.” Acara ini adalah wujud kolaborasi antara seniman lokal dan seniman dari luar Bulukumba. Pertunjukan seni ini berfokus pada karya seni kontemporer dan tradisional yang diadakan di ruang terbuka. Yang pasti, gelararan seni ini memperkaya ekspresi seni di daerah tersebut. Keterlibatan para seniman, termasuk komunitas Empat Memadang Rupa, dalam momen ini menggabungkan seni pertunjukan (suara) dengan konteks alam adan budaya di kebun.

Wahyuddin Yunus, Pegiat Wacana Seni Budaya dan Lingkungan

Swara Kebun menjadi wadah bagi seniman untuk mengeksplorasi tema-tema budaya, spiritual dan keindahan alam melalui berbagai medium, seperti; pertunjukan tari, musik, dan teater. Semua ragam seni ini disajikan di alam terbuka.

Seniman Empat Memandang Rupa terdiri dari; Ahmad Fauzi, Alan Tola, Asman Djasmin dan Ahmad Anzul, adalah kolaborasi dari empat seniman visual atau peruba. Kelompok ini menampilkan karya seni rupa yang mendalam, menggabungkan filosofi Bugis-Makassar dan isu-isu kontemporer.

Empat Memandang Rupa dikenal melalui pameran dan kolaborasi artistik yang menggabungkan berbagai media dan perspektif, sering kali mengangkat nilai-nilai budaya dan sejarah lokal dalam karya-karya mereka. Kehadiran seniman Empat Memandang Rupa di acara Swara Kebun di Bulukumba adalah pertama kali dan menjadi bagian dari aktivitas reguler mereka untuk mempromosikan seni rupa kontemporer yang berakar pada budaya Sulawesi Selatan.

Penting diketahui bahwa paduan seni rupa, tari, teater dan musik dalam pertunjukan kolaboratif adalah untuk menciptakan pengalaman artistik yang lebih kaya, mendalam, dan komprehensif. Model seni kolaboratif ini diyakini mampu memperluas ekspresi kreatif, membangun jembatan komunikasi antar budaya, mempererat ikatan sosial, memperkaya narasi dan pemahaman penonton melalui perpaduan elemen visual, audio, gerak, cerita, menghasilkan karya yang lebih inovatif dan relevan di era digital.

Lihat Juga:  UNM Fest: Upaya Mengemas Perkuliahan dengan Riang dan Gembira
Agenda Kolaborasi Empat Memandang Rupa di Swara Kebun Bulukumba

Karya kolaborasi seni kontemporer menunjukkan harmoni multidimensi karena menggabungkan seni visual (seni rupa), irama (musik), gerak (tari) dan narasi (teater) menciptakan pengalaman multisensori yang lebih utuh dan mendalam bagi penonton.

Pertunjukkan seni kolaboratif juga menguatkan penggalian simbolisme dan kedalaman makna karena setiap elemen dapat memperkuat pesan dan emosi yang ingin disampaikan. Misalnya, musik mampu membangun suasana, tari mengekspresikan perasaan, teater menyampaikan plot dan seni rupa memberikan latar visual yang simbolik.

Secara mendasar, ekspresi karya seni kolaboratif melampaui batas disiplin itu sendiri. Dengan demikian akan membuka kemungkinan baru dalam berkreasi, menggabungkan ide dari berbagai bidang untuk menghasilkan karya yang unik dan tak terduga.(*)

Penulis:
Wahyuddin Yunus, promotor seni dan pegiat literasi seni budaya
Editor: Redaksi maupa.id
Foto: Wahyuddin Yunus
Ilustrasi: Tim IT maupa.id

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA POPULER

BERITA TERBARU