Maupa.id – Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) diagendakan pada Oktober 2026 di Benteng Panynyua atau Fort Rotterdam Kota Makassar. Meskipun masih tersisa sekira dua bulan mendatang tapi even akbar ini telah dipersiapkan dengan matang sejak awal. Terbukti, pada Rabu malam, sampai menjelang dinihari, 26 Agustus 2026, beberapa delegasi komunitas seni tradisis berdiskusi untuk menyuksesakan perhelatan seni ini. Beberapa delegasi yang hadir, antara lain dari; Yayasan Kesenian Katangka, Sanggar Seni Sirajuddin, Sanggar Syekh Yusuf, Komunitas Tradisi (Kontra), Paburitta Art, Pusat Orientasi tujuan kebudayaan (POS7) serta beberapa penggerak sekaligus pelaku seni di daerah ini.
Penting dipahami bahwa seni tradisi lahir dari kebiasaan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan. Dengan adanya seni tradisi, selain dapat menjadi pembentuk kolektifitas seniman juga dapat menjadi jalan untuk berlaku adaptif di tengah kondisi budaya yang dinamis. Kondisi ini sudah mulai tergambar dalam koordinasi awal pada malam Rabu itu di Kelurahan Pa’bangngiang Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Sulawesi Selatan.

FMTI bertransformasi menjadi sebuah visi tentang keberlangsungan ruang kreatif di bidang musik tradisi. Terkait teknis penyelenggaraan even FMTI ini, tentu saja terdapat prokontra. Hal ini tentu saja wajar mengingat seniman adalah insan kreatif yang membicang gagasan dan ide seninya masing-masing. Perbincangan malam itu berlangsung alot namun ternegosiasi dengan baik. Mulai, dari identifikasi dan penentuan klasifikasi item acara, nilai yang di usuang di pertunjukan dan aneka gagasan seni lainnya dielaborasi dalam pembahasan malam itu.

Rencananya FMTI akan mendatangkan beberapa delegasi musik tradisi dari beberapa daerah yang tersebar di Nusantara. Tentu saja, kegiatan ini diramu dalam bentuk Festival Musik Tradisi Indonesia yang dilangsungkan di Sulawesi Selatan khususnya di Kota Makassar. Perhelatan musik tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 2021 hingga kini.
FMTI kali ini mengusung Tema Re’rasa’ yang ditentukan berdasarkan istilah dalam ansambel musik Makassar yang identic dengan ritus kebudayaan khususnya perkawinan. Re’rasa’ (dapat juga dibaca Re-Rasa) idiom dengan music Makassar, seperti pada struktur tunrung bali sumanga’ dalam pencak silat. Re’rasa juga dimaknai sebagai spirit pembacaan ulang. Gagasan ini tidak hanya pada aspek musikal, tetapi juga pada pendekatan kerja kesenian yang lebih inklusif sebagai bagian dari memperkuat ekosistem musik tradisi. Tema ini diusung berdasarkan konsolidasi yang ditentukan sebelumnya dengan menelisik berbagai peristiwa dan fenomena budaya yang mengacu pada kearifan masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Makassar. Tema di atas mengacu pada bentuk inovasi musik tradisi, menelisik jejak artistik secara visual dan membentuk ruang kolaboratif lintas seni sulawesi selatan.
Kegiatan ini menitikberatkan pada penguatan jejaring musik tradisi pada inovasi karya tanpa menghilangkan substansi nilai, muatan dan fungsi media musik yang dinamis. Rencanya, FMTI dihelat pada tanggal 28-29 Oktober 2026 di Benteng Rotherdam Makassar. Oleh karena itu FMTI diharapkan mampu mendorong semangat lintas komunitas, baik dalam tim kerja maupun pelibatan peserta pada pelaksanaan festival sebagai bentuk kolektifitas.
Musisi tradisi Makassar, Muhammad Iqbal Dg Tulo di sela petemuan malam Rabu itu, mengharapkan bahwa FMTI ini mampu menjadi salah satu dorongan atau ruang untuk membuat ruang interaksi dan melakukan ekspresi dalam bentuk karya seni.
“Tentu, bukan hanya pertunukkan musik tradisi saja, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi seni lainnya. Intinya, FMTI adalah salah satu wajah seni Nusantara,” kunci Iqbal yang juga penggerak seni di beberapa daerah di Indonesia.
Penulis: Ahmad Ishak Jundana
Editor: Syamsuddin Simmau
Foto: Dokumentasi Komunitas

