Maupa.id – Siang kemarin, selepas makan siang, obrolan kecil mengalir di antara saya dan Tio—anak saya, Muhammad Mastricht Abdul Razil. Obrolan yang awalnya ringan itu perlahan menjelma menjadi percakapan yang membuat saya, sebagai orang tua, diam-diam merasa bangga sekaligus merenung.
Tio saat ini berada di fase hidup yang tidak sederhana. Ia adalah mahasiswa tingkat akhir, sedang bergelut dengan tugas akhir—sebuah proses yang kerap menguras energi, emosi, dan kesabaran. Namun di luar itu, ia juga menekuni dunia yang bagi sebagian orang dianggap “main-main”, standup comedy dan content creation. Dua dunia yang sekilas tampak berlawanan—akademik yang serius dan komedi yang santai—namun justru bertemu dalam satu titik: tanggung jawab.

Obrolan kami siang itu menyinggung sebuah kegiatan penggalangan donasi untuk korban banjir di Sumatera. Para komika Kota Makassar menggelar open mic, bukan semata untuk tertawa, tetapi untuk mengulurkan tangan. Dari panggung sederhana dan tawa yang pecah, terkumpul donasi sebesar 35 juta rupiah. Angka yang bagi saya bukan sekadar nominal, melainkan penanda bahwa empati bisa hadir melalui cara yang tidak selalu kaku dan formal.
Yang paling membekas adalah ketika Tio, dengan wajah berbinar dan nada puas, berkata, “Papa, tadi malam saya lucu sekali dan pecah.” Kalimat itu sederhana. Namun bagi seorang komika, ia adalah puncak pencapaian. “Pecah” berarti set-up yang matang, punchline yang tepat, dan penonton yang tertawa lepas tanpa ragu. Tawa yang jujur. Tawa yang lahir dari koneksi antara panggung dan penonton.
Saya mendengarnya bukan hanya sebagai pengakuan keberhasilan teknis seorang komedian, tetapi sebagai ekspresi kebahagiaan seorang anak muda yang menemukan makna dalam apa yang ia lakukan. Bahwa melucu bukan sekadar membuat orang tertawa, tetapi juga menciptakan ruang kebersamaan, bahkan solidaritas.
Di situlah saya melihat wajah lain dari generasi hari ini. Generasi yang mungkin tidak selalu menyampaikan empatinya dengan pidato panjang atau seremonial resmi, tetapi dengan kreativitas, keberanian, dan cara-cara baru yang lebih dekat dengan denyut zamannya. Tertawa, dalam konteks ini, bukan pelarian dari kenyataan, melainkan jalan untuk menghadapi kenyataan bersama-sama.
Sebagai orang tua, saya tentu berharap anak saya lulus tepat waktu, menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik, dan menapaki masa depan yang stabil. Namun siang itu saya belajar bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu tunggal. Ada keberhasilan ketika seorang anak muda mampu mengelola bakatnya, bertanggung jawab pada studinya, sekaligus peka terhadap penderitaan orang lain.
Tio, dan mungkin banyak anak muda seusianya, sedang belajar menyeimbangkan hidup: antara mimpi pribadi dan kepedulian sosial, antara mengejar tawa dan merawat empati. Dari obrolan sederhana itu, saya sampai pada satu kesimpulan kecil namun penting: bahwa tawa yang paling berharga adalah tawa yang tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan mengalir menjadi kebaikan bagi sesama.
Di tengah dunia yang sering terasa berat, barangkali kita memang masih sangat membutuhkan anak-anak muda yang berani tertawa—dan lebih berani lagi, bertanggung jawab atas tawa itu.
Penulis: Mashud Azikin, Pegiat Lingkungan dan Ekoenzim
Edito: Redaksi maupa.id
Foto: Dokumen Tio

