Ikatan Penerbit Indonesia Sulawesi Selatan (IKAPI Sulsel) sukses menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) untuk memilih pengurus baru periode 2026-2031 di Hotel Remcy Panakukang Makassar pada Rabu (15/4/2026). Ketua Pengurus IKAPI Sulsel demisioner, Goenawan Monoharto menyerahkan Pataka IKAPI Sulsel kepada Ketua terpilih, Nur Amin Saleh sebagai simbol estapet kepemimpinan.
Ketua Pengurus IKAPI Sulsel, Goenawan Monoharto ketika memaparkan Laporan Pertanggung Jawaban mengisahkan perkembangan IKAPI dari periode awal sampai 2026. Menurut, Kak Goen, demikian Direktur Penerbit De Lamacca ini juga disapa, periode awal IKAPI Sulsel dipelopori oleh Bakti Baru, sekitar tahun 1979 dibawah kepemimpinan H.M. Alwi Hamu. Ketika itu, juga berkembang percetakan Bakti Baru yang selanjutnya bertransformasi menjadi Fajar Group. Kepemimpinan IKAPI Sulsel dilanjutkan M. Alwy Rachman dari Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas Unhas). Kemudian, secara berurut, IKAPI Sulsel diketuai, Andi Wanua Tangke dari penerbit Pustaka Refleksi lalu Goenawan Monoharto dari penerbit De Lamacca.

Kini, Nur Amin Saleh dari penerbit Nasmedia menjadi Ketua IKAPI Sulsel periode 2026-2031. Nur Amin terpilih secara aklamasi melalui Musda IKAPI Sulsel. Terpilihnya Nur Amin sebagai Ketua IKAPI Sulsel mendapat dukungan dari mantan ketua IKAPI Sulsel, Goenawan Monoharto. Menurut Goenawan yang juga dikenal sebagai seniman foto, wartawan, teaterawan dan aktor ini, IKAPI dapat lebih dinamis dan energik ke depan. Karena IKAPI pada periode ini dipimpin oleh anak mudah.
“IKAPI ke depan lebih energik dan diharapkan mampu membawa IKAPI menjadi organisasi yang menumbuhkan literasi. Saat ini, IKAPI Sulsel dipimpin oleh anak muda yang berinovasi,” harap Goen.
Lebih jauh, Pak Goen, demikian anggota IKAPI Sulsel menyapa Goenawan Monoharto, mengemukakan bahwa tantangan anggota IKAPI ke depan adalah bertransformasi dari penerbit yang hanya menawarkan jasa penerbitan menjadi penerbit professional yang melayani konsumen lebih luas.

“Selama ini, umumnya anggota IKAPI Sulsel masih menawarkan jasa penerbitan. Biasanya penerbitan dalam skala kecil, misanya hanya mencetak buku sekitar 10 sampai 20 eksamplar untuk kepentingan penerbitan buku tertentu. Ke depan, penerbit harus mampu mencetak buku terbitannya sampai 1000 eksamplar. Artinya, penerbit bertransformasi menjadi industri buku. Dengan menjadi industri seperti itu, barulah penerbit dapat hidup. Karyawannya dapat lebih sejahtera,” tandas Pak Goen.
Terkait minat baca masyarakat di Sulsel. Goen meyakinkan bahwa tidak ada masalah minat baca di daerah ini. Minat baca masyarakat Sulsel, katanya, sudah semakin tinggi. Hanya saja, penerbit harus bekerja keras menghadirkan buku bacaan berkualitas dan menarik pembaca.
Sementara itu, Ketua IKAPI Sulsel terpilih, Nur Amin Saleh, dalam sambutannya mengatakan, saatnya anggota IKAPI Sulsel saling mendukung melalui kerja kolaborasi. Karena setiap penerbit anggota IKAPI bukanlah pesaing tapi mitra dalam mendukung peningkatan literasi masyarakat di Sulsel.
“Saatnya, anggota IKAPI Sulsel saling mendukung untuk memajukan semangat literasi dan mencerdaskan masyarakat. Saatnya IKAPI Sulsel membangun kerja-kerja kolaborasi untuk saling menguatkan,”tandas Nur Amin. (*)
Penulis: Syamsuddin Simmau
Editor: Muhammad Fauzy Ramadhan
Foto: Dokumentasi Maupa.id

