Jejak Oker dan Morning Rhythm
Judy Rahardjo
Pembelajar di Magister Ilmu Budaya FIB Unhas

Realitas fisik itu terbatas. Mimesis hanya menangkap permukaan luar pada satu momen beku. Pengalaman manusia—emosi, ritus sosial, hingga struktur kekuasaan—sifatnya non-fisik dan bergerak. Manusia mengabstraksikan realitas bukan untuk lari. Manusia menyaring esensi. Abstraksi memisahkan konsep dari materi. Ia menerjemahkan suasana batin dan dinamika sosial menjadi garis, bidang, tekstur, dan warna.

Kehendak ini punya akar tua di Sulawesi Selatan. Di dinding Leang-Leang, pigmen oker merah ditiupkan. Tangan manusia direduksi menjadi ruang negatif. Ia menjadi tanda keberadaan yang memadatkan ritus sosial-spiritual prasejarah.
Dalam Morning Rhythm, perupa meneruskan tradisi itu. Tanpa mendikte objek fisik secara eksplisit, kanvas menyapa lewat tekstur dan ritme warna. Warna kuning oker, pendar putih, serta cokelat tanah memanggil memori materialitas sedimen dan tebing karst. Tumpukan bidang geometris merekam ritus harian yang berkejaran dengan waktu.
Kajian budaya melihat bentuk rupa tidak pernah netral. Perupa melakukan encoding atas ritme pagi—sebuah ritus intim tempat manusia mengumpulkan kesadaran dan berdialog. Penonton lalu melakukan decoding dari memori masing-masing.
Di sini, abstraksi bekerja sebagai taktik warga. Kota modern memetakan ruang lewat grid dan jadwal kaku. Di atas kanvas, kehangatan pagi yang organik menyusup di antara bidang geometris. Perupa juga melakukan bricolage. Ia merangkai pecahan warna, gestur perjumpaan, dan bentuk geometris menjadi tatanan simbolik baru.
Praktik ini meruntuhkan klaim Eurosentris. Bahasa abstraksi dan pengolahan pigmen tanah sudah menjadi kosmologi masyarakat kita sejak puluhan ribu tahun lalu. Dari dinding batu Leang-Leang hingga kanvas hari ini, abstraksi adalah cara manusia bertahan. Kita menyaring kerumitan dunia menjadi irama visual. Kita terus membaca jejak kebudayaan kita sendiri.
Oker (ochre) adalah bahan pewarna alami yang berasal dari tanah atau mineral yang mengandung oksida besi. Warnanya berkisar antara kuning keemasan, jingga, hingga cokelat kemerahan.
Penulis: Judy Rahardjo, sedang belajar di Prodi Kajian Budaya, FIB, Unhas.
Editor: Syamsuddin Simmau
Ilustrasi: Tim Kreatif Maupa.id
Foto: Dokumentasi Maupa.id
