Setiap lukisan Alan Tola merupakan visualisasi momentum bermakna. Makanya, selalu ada kisah menggetarkan kemanusiaan kita di balik karya seniman ini (Ahmad Fauzy, Kurator). Lukisan Alan Tola dipamerkan di Warkop Indonesia dengan tema Morning Rhythm layak diapresiasi.
Menurut Ahmad Fauzi, Alan Tola telah menunjukkan kemampuannya dalam mengungkapkan kegelisahan jiwa, impian dan harapan melalui karya-karyanya. Dengan menggunakan warna-warna lembut kalem yang dibubuhi highlight terang dan kontras, Alan Tola menciptakan lukisan-lukisan yang luwes dan dinamis. Tema-tema yang dipilih, dituangkan dalam lukisannya, mengantar penikmat untuk merenungi makna perjalanan kehidupan yang tersirat, sehingga penikmat dapat berdialog secara dengan karyanya.

Asman Djamin, seniman dengan konsep antiestetika, menggambarkan Morning Rhythm, sebagai karya yang memikat hati sejak pertama kali dieja. Bagi Asman, pagi memiliki ruh yang berbeda dari pekatnya malam. Pagi menyimpan janji tentang permulaan, pintu yang terbuka, dan lembaran yang bersih. Cahaya perlahan menyapu wajah benda-benda, sementara kehidupan kembali menggeliat setelah tertidur lelap. Biar begitu, pagi tidak selalu berarti melupakan masa lalu. Bagi pejalan jauh seperti Alan, pagi berperan sebagai jeda yang damai untuk menengok kembali jalan yang telah didaki, merengkuh perubahan dan merapal alasan untuk terus mencipta.
Berincang dengan Achmad Fauzi dan Asman Djasmin tentang karya dan seniman Alan Tola memang memutuhkan verifikasi. Pada beberapa kesempatan berbincang dengan Alan Tola, tentu saja sembari menikmati kopi dan kadang dilatari lantunan musik jaz, kisah tentang momen penting benar menjadi latar karya-karya Alan Tola. Salah satunya, lukisan erjudul Musisi Rembulan Biru. Kemarin malam (Rabu, 21 Oktober 2026)), Warkop Indonesia, Alan mengisahkan bahwa sebelum melukis Musisi Rembulan Biru, ia berkali-kali menikmati alunan denting kecapi, khususnya di daerah Ajatappareng (Pinrang, Pare-pare, Sidrap dan Barru). Para musisi dengan instrumen kecapi bugis melakukan pertunjukan; di acara sunatan, hajatan, pengantinan bahkan sekadar berkumpul setelah panen padi. Para musisi dengan instrumen kecapi itu tidak dibayar atau sekadar kopi dan pisang goreng (sanggara’) mereka mementaskan pertunjukannya. Mereka tetap saja tertawa, bergembira bersama audienssnya. Tampak tiada beban duniawi. Sungguh, para musisi ini telah menaklukkan urusan dunia. Bagi, Alan Tola, mereka itulah Musisi Rembulan Biru.

Kisah Musisi Rembulan Biru ini, satu dari sekian banyak kisah melatari karya-karya Alan Tola. Benarlah, kata Kurator Ahmad Fauzi bahwa selalu ada momentum istimewa di balik karya Alan. Belum lagi, kisah tentang Morning Rhythem, Monstera Deliciosa, Hening, Morning View sampai pada pengalaman spiritual Alan ketika menyaksikan pagi di Tanah Suci, Makkah. Untaian momentum itu tentu saja tak terulang-ulang maka Alan memisualiasikan setiap kisah dan momen-momen penting yang ia alami dengan gaya ekspresif, ceriah dan menyejukkan.
Begitulah, kira-kira. Tentu saja, kata-kata tiada mampu membahas seluruh kisah di balik visualisasi lukisan Alan Tola. Tapi, walaupun terbatas, setidaknya, catatan ini sekadar pintu kecil untuk masuk ke kedalaman makna lukisan Alan Tola sembari menikmati dan menyelami makna di balik karya Alan Tola. Selamat berpameran.
Penulis: Syamsuddin Simmau, sosiolog jalanan, penulis.
Editor: Redaksi Maupa.id
Foto: Dokumentasi Maupa.id
Ilustrasi: Tim Kreatif Maupa.id
