Saklar Biologis Kapitalisme

“Kopi telah bergeser dari sekadar fungsi minuman menjadi arsitektur ruang urban, jangkar mobilitas, sekaligus penanda stratifikasi sosial yang brutal,” demikian sepenggal pernyataan Judy Rahardjo dalam artikel ini. Saklar Biologis Kapitalisme, makhluk apa itu? Judy Rahardjo seorang pemikir kajian budaya, memandang “tindakan ngopi” dalam kajian studi budaya. Tulisan ini menarik karena ngopi mengalami transformasi makna. Terimakasih telah membaca.

“Kopi telah bergeser dari sekadar fungsi minuman menjadi arsitektur ruang urban, jangkar mobilitas, sekaligus penanda stratifikasi sosial yang brutal,” demikian sepenggal pernyataan Judy Rahardjo dalam artikel ini. Saklar Biologis Kapitalisme, makhluk apa itu? Judy Rahardjo seorang pemikir kajian budaya, memandang “tindakan ngopi” dalam kajian studi budaya. Tulisan ini menarik karena ngopi mengalami transformasi makna. Terimakasih telah membaca.

Saklar Biologis Kapitalisme:
Multi-Jobbing, Ruang Ketiga, dan Dekomposisi Kelas Urban

Judy Rahardjo
Sedang belajar di Program Magister Program Studi (Prodi) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas).

Lanskap kota hari ini tidak lagi digerakkan oleh semen dan baja, melainkan oleh arus komoditas yang cair. Kopi telah bergeser dari sekadar fungsi minuman menjadi arsitektur ruang urban, jangkar mobilitas, sekaligus penanda stratifikasi sosial yang brutal. Di bawah payung besar glokalisasi, penetrasi modal global mendikte bagaimana tubuh-tubuh urban bergerak, mengonsumsi, dan bertahan hidup. Namun, di balik gemerlap estetika interior coffee shop modern, terdapat narasi kelam tentang dekomposisi kelas urban Indonesia kontemporer—khususnya kelompok aspiring middle class yang rentan—yang mengalami mobilitas sosial ke bawah (downward mobility) dan terperosok ke dalam kubangan kelas baru: prekariat.

Ruang Ketiga dan Korporatisasi Gaya Hidup
Dalam kacamata cultural studies, kedai kopi modern beroperasi sebagai ruang ketiga (third place) yang terkomodifikasi. Modal global—baik melalui waralaba multinasional maupun jaringan lokal yang disokong dana venture capital—melakukan penetrasi melalui standardisasi ruang. Estetika minimalis, pencahayaan yang ramah kamera, dan koneksi internet cepat bukan fasilitas cuma-cuma. Ini adalah desain spasial untuk memfasilitasi produktivitas kaum urban yang fleksibel namun tereksploitasi (remote workers, pekerja ekonomi gig, dan freelancer).

Saklar Biologis Kapitalisme:
Multi-Jobbing, Ruang Ketiga, dan Dekomposisi Kelas Urban

Di sini, terjadi hibridisasi glokalisasi yang canggih. Modal tidak lagi menghancurkan budaya lokal, melainkan mengooptasinya. Menu lokal seperti kopi susu gula aren dikawinkan dengan sistem manajemen Barat dan efisiensi teknologi digital. Aktivitas nongkrong tradisional direformasi menjadi tindakan konsumsi yang terukur. Pada ruang kelas atas ini, akses kapital global termanifestasi dalam harga Rp30.000 hingga Rp60.000 per gelas, di mana prestise dan gaya hidup menjadi komoditas utama yang dikonsumsi oleh kelompok elit perkotaan dan kelas menengah mapan.

Lihat Juga:  Terungkap ! Rahasia 9 Gerakan Tarian Jaga Lili Ulu Salu

Dekomposisi Kelas dan Anatomi Prekariat Urban
Ketika sektor formal menyusut dan jaminan ketenagakerjaan mengalami erosi, kelas menengah Indonesia tidak lagi dapat dilihat sebagai entitas monolitik. Kelompok aspiring middle class (calon kelas menengah) adalah yang paling pertama tumbang. Merujuk pada konsep Guy Standing, mereka mengalami dekomposisi menjadi prekariat: sebuah posisi struktural yang tidak hanya kehilangan kepastian upah, tetapi juga kehilangan jaminan kesehatan, hak sosial, dan identitas okupasional yang stabil.

Kondisi ekonomi makro ini melahirkan polarisasi spasial yang ekstrem. Ketika kelas atas menikmati kenyamanan kedai korporasi, kaum prekariat menciptakan ruang konsumsinya sendiri di aspal jalanan melalui ekosistem kopi sepeda (Starling) dan kedai pinggir jalan semi-permanen. Di ruang bawah ini, akses kapital bersifat mikro dan mandiri. Komoditas yang berputar bukan lagi status, melainkan nilai utilitas murni untuk bertahan hidup dengan tarif berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per gelas.

Tubuh Multi-Jobbing dan Taktik Ruang Trotoar
Potret paling ekstrem dari kondisi prekaritas ini adalah fenomena informalitas ganda (multi-jobbing). Batas waktu kerja konvensional runtuh total. Tubuh manusia dieksploitasi melampaui batas biologisnya demi mengejar kebutuhan dasar.

Mari kita bedah subjek urban kontemporer ini. Dari pagi hingga sore, ia bekerja sebagai satuan pengamanan (satpam) di sebuah kompleks korporasi. Di sini, ia mengonsumsi kopi saset pertama untuk mematuhi disiplin tubuh sebagai penjaga aset modal besar. Menjelang malam, seragam berganti menjadi jaket ojek online (ojol). Ia masuk ke dalam kendali algoritma aplikasi platform, memburu bonus di tengah kemacetan kota. Kopi saset kedua dari pedagang sepeda keliling (Starling) dibeli di trotoar. Di atas motor, kantuk adalah ancaman nyawa. Kopi berfungsi sebagai manajemen risiko keselamatan paling murah.

Lihat Juga:  Merawat Ingatan, Meretas Harapan Seni Rupa 2026

Malam kian larut, namun tubuh belum boleh tumbang. Ia bertransformasi menjadi makelar sepeda motor bekas melalui jaringan media sosial. Di sebuah kedai kopi pinggir jalan, segelas kopi saset menjadi tiket masuk untuk duduk. Di sini, narasi tentang eksploitasi tubuh menemukan agency atau agensi pekerjanya. Meminjam pemikiran Michel de Certeau, trotoar dan lapak kopi pinggir jalan dimanfaatkan melalui “taktik ruang” oleh kaum lemah. Kedai kusam tersebut direbut dan dialihfungsikan menjadi kantor informal, ruang solidaritas sesama ojol, tempat pertukaran informasi jaringan makelar, serta basis pertahanan hidup kolektif dari kerasnya kota.

Aliansi Kapitalisme Saset Domestik dan Glokalisasi dari Bawah
Pada titik ini, kopi kembali ke fungsinya yang paling primitif dalam sejarah kapitalisme, sebagaimana digambarkan Sidney Mintz pada komoditas gula: sebagai infrastruktur energi dan stimulan murah untuk memperpanjang stamina kerja. Kafein dosis tinggi dan kandungan gula instan dalam kopi saset bertindak sebagai “saklar buatan”. Zat kimia ini memaksa organ tubuh tetap terjaga ketika sinyal otak sudah meneriakkan kelelahan ekstrem.

Penting untuk dicatat bahwa produk kopi saset ini bukanlah monopoli korporasi multinasional Barat, melainkan hasil penetrasi konglomerasi kapitalisme domestik (seperti Kapal Api, Mayora, atau Wings). Rantai pasok kapitalisme saset nasional inilah yang menyuplai bahan baku bagi glokalisasi dari bawah (bottom-up glocalization). Jika kedai kopi besar mengadopsi standar global secara top-down, kopi sepeda dan kedai pinggir jalan melakukan glokalisasi secara organik. Mereka mengambil produk industrialisasi massal nasional, lalu mendistribusikannya menggunakan moda transportasi lokal (sepeda atau motor) dan memanfaatkan ruang publik yang tersisa (trotoar) untuk menghindari tingginya biaya sewa tanah urban.

Menjamurnya kopi saset pinggir jalan bukan sekadar romantisme ekonomi kerakyatan atau keunikan lanskap budaya kota. Ini adalah indikator struktural yang paling jujur mengenai rapuh dan ambruknya jaring pengaman sosial bagi kelas pekerja urban. Di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit tempat modal bertumpuk, kelas pekerja prekariat ini merajut pertahanan hidup mereka sendiri. Mereka bertahan dalam kepungan kota lewat kehangatan segelas kopi murah yang diseduh di atas aspal jalanan.

Lihat Juga:  Memahami Hermeneutika: Mencari Makna di Balik Teks dan Pengalaman

Rujukan Akademik
De Certeau, Michel. (1984). The Practice of Everyday Life. Berkeley: University of California Press.

Ford, Michele & Honan, Vivian. (2019). “The limits of mutual aid: Emerging forms of collectivity among app-based transport workers in Indonesia”. Journal of Industrial Relations, 61(4), 528-548.

Mintz, Sidney W. (1985). Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History. New York: Viking Penguin.

Robertson, Roland. (1995). “Glocalization: Time-Space and Homogeneity-Heterogeneity”. Global Modernities, 25-44.

Standing, Guy. (2011). The Precariat: The New Dangerous Class. London: Bloomsbury Academic.

Woodcock, Jamie & Graham, Mark. (2020). The Gig Economy: A Critical Introduction. Cambridge: Polity Press.

Penulis: Judy Rahardjo, Pemikir, Ia sedang belajar di Prodi Kajian Budaya, FIB, Unhas.
Editor: Syamsuddin Simmau
Ilustrasi: Tim Kreatif Maupa.id
Foto: Dokumentasi Maupa.id

BUKU PENERBIT MAUPA

SHE Eureka Exfoliating Gel

Rp 75.000

Cerita Rakyat Pilihan Makassar Edisi Revisi

Penulis: Syamsuddin Simmau
Toner Badan Saptadasa Glycolic Toning Solution Exfoliating Toner (AGET 250ML)

Rp 58.500

English for Basic The Easy Way to Master English

Penulis: Andi Samsu Rijal, SS, M.Si
#

90.000

Gandrang Pamanca’: Gerak dan Spiritual Orang Makassar

Penulis: Jundana, S.Sn

Rp 143.560

Kapital Sosial, Negara & Pasar

Penulis: Dr. Sakaria To Anwar, M.Si

REKOMENDASI

SHE Eureka Exfoliating Gel

Rp 75.000

Cerita Rakyat Pilihan Makassar Edisi Revisi

Penulis: Syamsuddin Simmau
Toner Badan Saptadasa Glycolic Toning Solution Exfoliating Toner (AGET 250ML)

Rp 58.500

English for Basic The Easy Way to Master English

Penulis: Andi Samsu Rijal, SS, M.Si
#

90.000

Gandrang Pamanca’: Gerak dan Spiritual Orang Makassar

Penulis: Jundana, S.Sn

Rp 143.560

Kapital Sosial, Negara & Pasar

Penulis: Dr. Sakaria To Anwar, M.Si

BERITA POPULER

BERITA TERBARU